Istri Somplak Tuan Rey

Istri Somplak Tuan Rey
Papa Sudah Tau


__ADS_3

Happy reading...


"Apa yang ingin kau bicarakan, hah? To the point saja! Tidak usah bertele-tele," ucap Rey dengan nada dingin.


Nagita mencoba meraih tangan pria tersebut, namun dengan cepat Rey menepisnya dengan kasar. Dia tidak sudi jika tubuhnya sekarang disentuh oleh wanita seperti Nagita.


Jangankan untuk disentuh, bahkan sekarang melihat wajah Nagita saja membuatnya sangat muak. Dia benar-benar jijik dengan wanita seperti itu, yang sudah tega menduakan cintanya dan mengotori cinta sucinya.


"Sayang, kamu salah paham. Lagi pula, kamu tahu dari mana? Kamu kan nggak punya buktinya, jadi kamu tidak bisa dong menuduh aku seperti itu. Kamu juga tidak mau mendengarkan penjelasanku, siapa pria yang---"


"Cukup! Apa kau pikir, aku ini bodoh? Kau mau mengelak, siapa pria itu? Kamu mau bilang kalau dia itu sepupumu, temanmu, kakakmu, atau adikmu?" Terlihat Rey tertawa, namun tawanya begitu menyeramkan terdengar di telinga Nagita.


Kemudian dia mendekat ke arah Nagita dan mencengkram rahang wanita itu dengan kuat, sehingga membuat Nagita sedikit meringis kesakitan.


"Selama ini aku selalu bersikap lembut kepadamu, tidak pernah kasar sedikitpun, karena kau wanita yang kucintai. Tapi sekalinya kau sudah menodai cintaku, jangan pernah berharap untuk kembali. Kau dengar ya Nagita! Aku ini bukan orang bodoh, yang bisa kau bodohi dengan cintamu. Apa kau pikir, aku tidak bisa membuka mata saat melihat kau berciuman dengan seorang pria? Apa itu tidak selingkuh namanya? Kalian pergi malam-malam dan pulang pagi-pagi. Apa yang kalian lakukan jika bukan tidur bersama, dan menghabiskan malam yang indah?" Rey menghempaskan wajah Nagita, sehingga membuat wanita itu sedikit terguyung.


Mendengar penuturan dari Rey, Nagita sangat kaget. "Kamu salah paham---"


"Sudahlah! Tidak usah bertele-tele. Aku sudah mempunyai buktinya. Mungkin kamu bodoh, aku tidak akan mencari tahu. Hanya dengan satu kali melihat saja, aku sudah bisa mengambil kesimpulan jika kamu memang mengkhianati cintaku. Tapi aku sih yang terlalu bodoh, karena percaya pada wanita ular seperti dirimu! Jadi mulai sekarang, jangan pernah menggangguku lagi! Atau aku akan membuatmu hidup menjadi seorang gelandangan!" Rey berkata dengan nada yang tegas, sorot matanya begitu dingin menusuk ke hatinya Nagita.


Tak pernah ia melihat tatapan dan juga sikap kasar dari Rey. Selama ini dia mencoba untuk membela dirinya, namun Rey tidak memberikan itu.

__ADS_1


"Sebaiknya kau pergi sekarang, sebelum aku menyuruh security untuk mengusirmu dari sini! Oh iya, dan ini ambillah cincin ini! Karena di antara kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi. Aku membatalkan pertunangan kita, kau paham!"


Rey mengembalikan cincin yang berada di jarinya kepada Nagita, dan wanita itu menganga saat melihat reaksi Rey. Dia menggelengkan kepalanya dengan kuat, tidak mau berpisah dengan pria itu, karena Rey adalah tambang emasnya.


Nagita tidak bisa membayangkan jika ia berpisah dengan Rey. Bagaimana dengan kehidupannya di masa mendatang, karena selama ini kemewahan yang ia miliki semuanya dari Rey.


"Sayang, please! Kamu tidak bisa melakukan ini kepadaku." Nagita menautkan kedua tangannya di depan dada dengan tatapan memohon, bahkan linangan air mata sudah membasahi pipinya.


"Kau bilang tidak bisa melakukan ini? Lalu, apa bedanya dengan kamu yang membuatku sakit hati? Jadi sebaiknya pergi sekarang, atau aku akan---"


"Tidak sayang, aku---"


"PERGI!" bentak Rey dengan intonasi yang sangat tinggi.


Dia melewati meja makan, namun sejenak berhenti menatap ke arah om Bima dan juga Tante Mega, setelah itu dia pun pergi dari sana.


Sementara Rey menjatuhkan tubuhnya di kursi yang ada di taman, kemudian dia menjambak rambutnya dan berteriak. "Kau benar-benar jahat! Aku membencimu, Nagita! Aku membencimu!" teriak Rey dengan frustasi.


Dia tidak sadar jika teriakannya mampu terdengar ke ruang makan, dan itu membuat Om Bima seketika melirik ke arah istrinya.


"Sepertinya papa perlu bicara sama Rey." ucap om Bima dan dibalas anggukan oleh Tante Mega.

__ADS_1


Selesai makan malam, dia menghampiri putranya yang sedang terduduk di taman, kemudian pria itu duduk di sebelahnya sambil merangkul pundak Rey.


"Cinta itu terkadang memang menyakitkan, tapi cinta juga bisa membuat kita bahagia. Terkadang apa yang kita lihat baik, belum tentu baik. Dan terkadang apa yang kita lihat buruk, belum tentu juga buruk. Sejujurnya Papa sudah mengetahui tentang perselingkuhannya Nagita, tapi Papa tidak mau memberitahumu, karena Papa ingin kamu mengetahuinya sendiri."


Mendengar penuturan Papanya, Rehan seketika menatap ke arah Om Bima dengan tatapan yang begitu terkejut.


"Papah tahu, dan tidak memberitahuku tentang hal sepenting itu? Papa tahu kan, rasanya dikhianati seperti apa?" Rehan menunjuk dirinya sendiri. Sementara Om Bima hanya terkekeh kecil.


Dia menatap ke arah putranya, "Apa jika Papa memberitahumu, kau akan percaya? Sedangkan kau saja sedang sangat jatuh cinta kepada Nagita. Dengar ya Nak! Seseorang jika sedang jatuh cinta itu butabakan segalanya, jangankan untuk mendengarkan nasihat dari orang lain, bahkan dia tidak mau tahu tentang pasangannya, keburukan pasangannya, sebelum dia melihatnya sendiri. Jadi untuk apa Papa memberitahumu? Semua akan sia-sia, kami memberi masukan saja tentang Nagita kamu menolak keras, apalagi jika Papa mengatakan kalau Nagita itu selingkuh?"


Rey tertunduk mendengar ucapan Papanya, karena apa yang dibilang oleh sang Papa memang benar. Saat dia mencintai Nagita dengan sangat dalam, bahkan pria itu tidak mendengarkan pepatah dari kedua orang tuanya.


Karena bagi Rey, Nagita sangat sempurna. Dia tidak mungkin menghianati cintanya, namun benar yang terlihat baik belum tentu baik, dan itu yang Rey rasakan sekarang. Dia menganggap Nagita wanita yang sangat sempurna luar dan dalam, tetapi ternyata hanya seekor ular yang sangat berbisa.


"Sudahlah! Sebaiknya kamu move on dari dia, dan persiapkan dirimu! Karena besok malam, Papa mempunyai kejutan untukmu."


Kedua alis Rey bertaut heran, "Kejutan? Kejutan apa, Pah? Kan aku tidak sedang ulang tahun?"


Om Bima beranjak dari duduknya. "Memangnya kejutan harus ulang tahun saja? Sudah, sebaiknya lupakan wanita seperti itu! Karena masih banyak wanita lain yang lebih baik darinya." Setelah mengatakan itu om Bima pun pergi dari sana diikuti dengan tatapan Rey.


'Tapi aku sudah tidak percaya dengan wanita, Pah. Mereka sama saja bagiku, mereka hanya mengincar harta, tidak ada cinta yang tulus dari hati mereka, pah.' batin Rey dengan tatapan yang sendu.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2