Istri Somplak Tuan Rey

Istri Somplak Tuan Rey
Fitting Baju Pengantin


__ADS_3

Happy reading....


Hari ini rencananya Rey dan juga Silvia akan berangkat ke salah satu butik untuk melakukan fitting baju pengantin.


Di sana juga sudah ada Tante Mega yang sudah menunggu mereka, sedangkan Silvia berangkat bersama dengan Rey.


Tak ada pembicaraan selama di dalam mobil, keduanya terdiam. Sebab Rey juga enggan untuk mengangkat suara pada gadis ceroboh seperti Silvia.


'Entah kenapa mama dan papa malah menjodohkan ku dengan wanita alien sepertinya, yang selalu membuatku sial. Semoga saja hari ini tidak ada kesialan yang menimpaku, karena bersamanya.' batin Rey sambil menatap ke arah Silvia dari ekor ujung matanya.


Setelah sampai di butik, keduanya langsung fitting baju pengantin oleh desainer ternama, dan kebetulan desainer itu juga adalah sahabat dari Tante Mega.


Silvia keluar dari ruang ganti memakai kebaya putih, dan saat dilihat Rey dan juga Tante Mega terpana, karena Silvia begitu sangat cantik sampai keduanya tidak berkedip.


"Tante, apa boleh Silvia ganti? Rasanya baju ini tidak cocok," ucap Silvia sambil menyilangkan tangannya di atas dada.


"Memangnya kenapa?" tanya Tante Mega dengan bingung. "Kamu sangat cantik loh memakai kebaya ini sayang."


"Iya sih Tante, kebayanya bagus. Tapi semangkanya Silvia kelihatan," ucap wanita itu dengan polos.


Rey menganga saat mendengar ucapan yang tidak ada sensornya dari gadis tersebut. Dia menggelengkan kepalanya, menatap heran ke arah Silvia yang tanpa malu menyebutkan salah satu benda berharganya.


Mendengar itu Tante Mega terkekeh, "Karena memang model bajunya seperti itu sayang. Lagi pula, semangka kamu tidak semuanya keluar, hanya sedikit saja. Baju ini yang akan kamu pakai di acara akad nanti ya."

__ADS_1


*Tapi Tante." protes Silvia yang masih tidak betah karena bagian tubuhnya terlihat.


"Aduh, kamu ini banyak protes sekali sih. Lagi pula semangka kembar kecil kayak gitu tidak ada yang nafsu melihatnya, kelihatannya aja datar," ledek Rey sambil merapikan jasnya.


Mendengar itu Silvia tentu saja tidak terima. "Eh terong gandul, enak aja kalau ngomong. Gini-gini semangka kembar milikku itu montok. Tuan juga kalau nanti melihatnya pasti akan ketagihan," jawab Silvia dengan somplak.


"Apa! Aku akan ketagihan dengan semangka Kamu itu? Jangan mimpi gadis alien! Melihatnya saja tidak selera." Rey melengos membuat Silvia benar-benar kesal.


Dia tidak terima karena ukuran semangkanya diremehkan, sebab menurut Silvia ukurannya cukup memuaskan dan membuat pria pasti merasa ketagihan.


Tante Mega memijit keningnya yang terasa pening, karena setiap hari selalu saja ada perdebatan antara dua orang tersebut yang sebentar lagi akan sah menjadi suami dan istri.


"Sudah. Sudah. Kalian ini bisa tidak sih, sehari saja tidak bertengkar! Belum menikah saja sudah seperti ini, gimana kalau sudah menikah? Bisa-bisa ranjang kalian roboh," tutur Tante Mega.


"Ya bisa lah. Yang ada bukan malam pertama yang akan terjadi, tapi malam peperangan antara bantal dan guling. Lihat, kalian ini sebenarnya jodoh, hanya saja diawali dengan rasa benci. Tapi jangan salah! Benci dan cinta itu beda tipis, jadi jangan pernah menahan atau memberikan benteng, karena pada akhirnya akan sakit kalau kalian tidak bisa jujur pada perasaan sendiri," jelas Tante Mega.


"Tidak akan!" Lagi-lagi Silvia dan juga Rey berkata bersamaan, membuat kedua orang itu seketika saling menatap dengan tajam.


"Tuan, Anda ini cari kata-kata sendiri dong! Jangan ikutin saya terus," ucap Silvia dengan nada yang ketus.


"Eh cewek alien, denger ya! Siapa juga yang ngikutin kamu. Adanya kamu yang ikutin aku."


"Enak aja. Jelas-jelas dari tadi Tuan yang ngikutin saya," ucap Silvia dengan nada yang nyolot.

__ADS_1


"Sudah. Sudah. Kalian ini lama-lama bikin kepala Mama puyeng. Karena fitting bajunya sudah selesai, jadi sekarang Rey, antarkan Silvia untuk pulang! Mama mau ada arisan. Ingat, jangan berantem lagi!" tegas Tante Mega, setelah itu dia keluar dari butik.


Sejujurnya Rey tidak ingin bersama dengan Silvia atau mengantarkan wanita itu untuk pulang, tapi dia tidak mempunyai pilihan lain. Akhirnya mau tidak mau Rey pun mengantarkan gadis tersebut.


Namun saat di tengah jalan Silvia meminta berhenti, saat tiba-tiba saja ada pedagang es dawet di pinggir jalan. Dan dia meminta Rey U


untuk menghentikan mobilnya.


"Haduh, lama banget sih!" geram Rey, kemudian dia turun dari mobil.


"Eh gadis alien, cepetan! Aku ada meeting ini!" kesl Rey sambil menyandarkan tubuhnya di pohon di pinggir jalan.


"Iya, sebentar Tuan bawel!" jawab Silvia dengan ketus


Setelah es cendol sudah siap dan Silvia membayarnya, wanita itu pun berjalan ke arah Rey. Namun, tiba-tiba saja ada yang berteriak, membuat Silvia seketika menengok. Tapi tiba-tiba wajahnya menjadi panik.


"Hai kau! Kau yang waktu itu kan!" teriak seorang pria yang ditapsir oleh Rey adalah seorang preman, karena pakaiannya begitu brandal.


"Gawat!" ucap Silvia dengan panik, kemudian dia menarik tangan Rey untuk berlari dari sana.


"Hei, mau ke mana?" tanya Rey, saat Silvia menarik tangannya.


"Ayo cepat lari! Bahaya!" ucap Silvia dengan panik.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2