
Happy reading....
Pagi hari Silvia terbangun, dia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, kemudian wanita itu beranjak masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri lalu menunaikan shalat subuh.
Setelah selesai, Silvia membantu ibunya memasak di dapur bersama dengan beberapa pelayan. Dan saat Jam menunjukkan pukul 06.00 pagi, Ibu Sari meminta Silvia untuk membangunkan Rey.
"Tapi Bu, pria itu bisa bangun sendiri. Kenapa harus aku yang membangunkan, macam bayi saja!" kesal Silvia.
"Jangan begitu. Dia itu calon suamimu sana bangunin nanti dia kesiangan malah ngamuk, marahin pelayan yang lain! Memangnya kamu mau?"
Dengan rasa tak rela dan wajah ditekuk, Silvia akhirnya beranjak menaiki tangga menuju lantai atas di mana kamar Rey berada.
Wanita itu terdiam saat sudah berada di depan kamar calon suaminya, tangannya mengambang di udara hendak mengetuk pintu, namun dia merasa ragu.
"Ya ampun! Mood ku bisa tiba-tiba ancur kalau ketemu sama si terong gandul," gumam Silvia dengan kesal, kemudian dia mengetuk pintu itu.
Akan tetapi, sudah beberapa kali diketuk tidak ada jawaban, akhirnya Silvia pun masuk ke dalam kamar dan melihat Rey masih tertidur dengan nyenyak.
"Ya ampun anak orang kaya, begini amat ya hidupnya. Tanpa takut rezeki dipatok ayam pun, mereka bangunnya kesiangan. Bahkan lebih dulu ayam untuk mencari makan." Silvia menggelengkan kepalanya sambil berjalan ke arah ranjang.
Kemudian dia menggoyang lengan Rey. "Tuan bangun! Tuan, ini sudah siang. Anda harus ke kantor!"
"Hmm." Rey hanya bergumam saja namun matanya masih terpejam.
Meliihat itu Silvia benar-benar kesal, kemudian dia kembali menggoyang lengan Rey. "Tuan bangun! Ini sudah siang Tuan. Aaakh!" jerit Silvia saat tiba-tiba saja Rey menariknya hingga wanita itu pun jatuh di atas tubuh pria tampan tersebut.
Mata Rey terbuka saat sesuatu yang berat menimpa tubuhnya, dan seketika dia terpaku saat melihat mata indah milik Silvia, hingga beberapa detik tatapan keduanya pun terkunci.
__ADS_1
Degh!
Jantung keduanya berpacu dengan kecepatan di atas rata-rata. Berdetak seperti orang habis lari marathon 5 km.
'Ya ampun! Saat bangun tidur saja dia tampan sekali. Tapi apa ini? Kenapa aku merasa ada yang mengganjal di bawah pahaku?' batin Silvia saat merasakan sesuatu yang mengeras di sana.
Dia pun tersadar, kemudian menampar wajah Rey. "Dasar terong gandul mesum!" kesal Silvia sambil bangkit dari tubuh Rey.
Pria itu melongo saat tiba-tiba saja Silvia menampar wajahnya, kemudian dia bangkit dari tidurnya dengan posisi duduk, lalu menatap tajam ke arah wanita tersebut.
"Are you crazy! Kenapa kau menampar wajahku, hah!" marah Rey sambil memegangi pipinya yang terasa panas.
"Ya Tuan ngapain narik tangan saya, hayo. Ternyata Tuan ini bukan hanya terong gandul ya, tapi Tuan juga mesum. Bilang mau cari kesempatan? Berani macam-macam, saya aduin sama tuan besar, mau!" ancam Silvia.
Mendengar itu Rey tersenyum sinis, kemudian dia bangkit dari ranjang lalu mencengkram tangan Silvia, hingga membuat wanita itu meringis.
"Berani kau mengancamku, hah! Dengar ya wanita alien! Kau yang datang ke kamarkux dan tiba-tiba saja kau mengganggu tidurku lalu kau menampar wajahku. Yang salah siapa, dan yang ditampar itu siapa!" bentak Rey dengan nada yang sangat kesal.
"Loh, kok Tuan nyalahin saya sih? Saya tadi membangunkan Tuan karena takut kesiangan lagian mentang-mentang uang yang datang, bukan Tuan yang mendatangi uang, seenaknya bangun siang. Terus ngapain tuh terong gandul pake mengeras kayak tiang bendera? Sensitif amat sih."
Mendengar itu Rey melongo, kemudian dia melihat ke arah celananya yang menyembul, lalu seketika dia pun segera menutupinya dengan tangan, bahkan wajahnya makan memerah malu.
Sementara Silvia hanya menahan tawanya saja, saat melihat wajah malu dari pria tersebut. "Memangnya kenapa? Wajar, namanya juga pria normal. Sebaiknya kau keluar dari sini sekarang! Sebelum kuterkam kau!"
"Memangnya Tuan ini singa."
"Oh_ jadi kamu meremehkanku, iya." Kemudian dia berjalan mendekat ke arah Silvia, membuat wanita itu sedikit panik. "Tuhan mau apa?" tanya Silvia dengan sedikit ketakutan.
__ADS_1
"Aku ingin menerkamu. Kau dari tadi meremehkan diriku, dan kau sudah menamparku. Jadi apa salahnya jika aku menerkam kamu pagi ini? Anggap saja itu sarapan yang spesial," ucap Rey dengan nada yang dingin, namun terdengar menyeramkan di telinga Silvia.
Wanita itu menjadi sangat gugup saat mendengar kata-kata Rey. Dia bukan wanita yang polos yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan dari pria tampan tersebut.
Langkahnya terus saja mundur, hingga tubuhnya terpentok di lemari. "Tuan, jangan macam-macam ya! Nanti saya akan laporkan kepada Tuan besar!" ancam Silvia dengan sorot mata yang ketakutan.
Sejujurnya Rey ingin tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah ketakutan Silvia, namun dia tahan karena pria itu ingin memberikan pelajaran kepada wanita yang sudah membuat mood-nya di Pagi harinya hancur.
"Kau mengancamku? Silahkan laporkan kepada papa, biar kita segera dinikahkan!" Rey tersenyum miring, kemudian dia menaruh kedua tangannya di dinding mengungkung tubuh Silvia.
"Jangan macam-macam ya, Tuan!"
Namun Rehan tidak mendengar, dia semakin mendekat dan mengikis jarak antara mereka, membuat Silvia benar-benar ketakutan dan menjadi panik.
"Tuan, jangan berani mencium saya ya! Anda itu bau jigong!" teriak Silvia sambil memejamkan matanya.
Rey membulatkan mata dengan mulut sedikit menganga saat mendengar ucapan dari wanita yang berada di hadapannya saat ini. Bahkan wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.
Mendengar itu Rey mengepalkan tangannya, kemudian dia semakin mendekatkan wajahnya hingga di samping telinga Silvia, lalu dia pun berbisik.
"Bau jigong juga kau akan menyukainya, sayang," cap Rey.
Bulu Kuduk Silvia meremang saat tiba-tiba saja pria itu meniup daun telinganya, kemudian dia yang sudah panik seketika menendang barang berharga dari pria tampan tersebut, hingga membuat Rey seketika mengaduh kesakitan.
"Aaaakhh! Belut alaska ku!" jerit Rey sambil memegangi belut kesayangannya yang sedang terjaga.
Silvia tidak menghiraukan kesakitan Rey, kemudian dia segera keluar dari kamar itu sambil memegangi dadanya yang berdegup dengan kencang.
__ADS_1
"Heh gadis alien! Jangan kabur kau! Tanggung jawab, belut alaska aku sangat sakit! Gadis tak waras! Lihat pembalasanku nanti!" teriak Rey sambil menahan sakit.
BERSAMBUNG.....