Istri Somplak Tuan Rey

Istri Somplak Tuan Rey
Hilang


__ADS_3

Happy reading....


Tepat jam 04.00 sore, Tante Mega pulang ke rumah. Namun saat dia masuk ke dalam terlihat Bu Sari sedang mondar-mandir di ruang tengah dengan wajah yang cemas.


"Bu Sari, kenapa kok terlihat cemas seperti itu?" tanya Tante Mega dengan penasaran.


"Maaf Nyonya, tapi---"


"Jangan panggil saya Nyonya! Sebentar lagi kan kita mau jadi besan, jadi panggil saya Mega saja!" pinta Tante Mega.


"Tapi rasanya tidak pantas jika saya hanya memanggil nama."


"Kenapa tidak pantas? Kita ini kan sebentar lagi akan menjadi besan, jadi harus terbiasa. Kalau gitu bagaimana kalau Jeung? Saya manggil Bu Sari dengan sebutan Jeung Sari, sementara Jeung Sari juga menyebut saya dengan Jeung Mega, bagaimana?"


Bu Sari terdiam. Sebenarnya dia merasa sebutan seperti itu tidak cocok, cuma mau bagaimana lagi, akhirnya wanita itu pun hanya menganggukkan kepalanya.


"Lalu, kenapa Jeung Sari terlihat cemas sekali?" tanya Tante Mega.


"Bagaimana saya tidak cemas Jeung, sampai saat ini Silvia belum pulang. Bukankah harusnya fitting baju pengantin sudah selesai ya?" ucap Bu Sari.


"Apa! Silvia belum pulang? Harusnya mereka sudah pulang dari jam 11.00 siang tadi, Jeung," ujar Tante Mega tak kalah kaget saat mendengar jika Silvia belum sampai ke rumah.


Kemudian dia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, dan menekan nomor ponsel Rey untuk menanyakan tentang keberadaan Silvia.

__ADS_1


Satu kali tidak diangkat, akhirnya Tante Mega pun menelpon kembali, hingga panggilan kedua pun diangkat oleh Rey.


"Halo assalamualaikum, Rey," ucap tante Mega saat telepon tersambung.


"Waalaikumsalam Mah, kenapa?" tanya Rey di seberang telepon.


"Rey, apa Silvia masih bersama dengan kamu?"


"Tidak mah, dia kan udah pulang. Memangnya kenapa?" tmTerdengar suara Rey merasa heran di seberang telepon.


"Loh! Kan dia pulangnya sama kamu, memangnya tidak kamu antarkan pulang ke rumah? Sampai saat ini Silvia belum pulang, Rey."


Rey yang mendengar penuturan sang Mama pun menjadi panik. Dia tidak mungkin mengatakan jika Silvia tidak pulang bersama dengan dirinya, dan dia tidak mengantarkan Silvia ke rumah, bisa-bisa Rey kena amukan sang mama.


"Anu mah, Silvia ...."


"Jangan bilang kalian bertengkar di tengah jalan dan kamu menurunkan Silvia. Iya!" tebak Tante Mega.


'Mampus! Kenapa feeling mama kuat banget sih?' batin Rey sambil menepuk jidatnya.


"Rey, jawab pertanyaan mama!"


"Iya Mah, tadi aku sama Silvia itu bertengkar di tengah jalan, dan dia minta turun sebab gara-gara dia aku kejatuhan tai burung. Jadinya aku kesal."

__ADS_1


"Astaga Reyhan! Silvia itu baru sekali ini ke kota. Kamu ini gimana sih? Pokoknya mama nggak mau tahu ya, kamu cari Silvia sekarang dan bawa dia pulang! Apapun yang terjadi, paham!" Sebelum mendapatkan jawaban dari putranya Tante Mega menutup telepon secara sepihak.


Sedangkan Bu Sari yang mendengar perbincangan antara Tante Mega dan juga putranya merasa cemas tentang keadaan Silvia.


"Jeung, bagaimana ini? Gimana kalau terjadi apa-apa dengan Silvia?" tanya Bu Sari dengan wajah yang dirundung kecemasan.


Tante Mega mengusap pundak Bu Sari. "Jeung Sari tenang saja. Rey akan mencari keberadaan Silvia. Maafkan Putra saya ya, dan Silvia pasti pulang dengan selamat. Jadi kita berdoa saja."


Bu Sari hanya bisa mengganggukan kepalanya, walaupun sebenarnya perasaan dia tidak tenang. Bagaimana mungkin bisa seorang Ibu tenang saat mendengar jika putrinya telah hilang, dan entah keberadaannya saat ini ada di mana.


Sementara di tempat lain, Rey langsung memanggil Nando untuk masuk ke dalam ruangannya, dan tak lama pria itu pun datang.


"Iya Tuan, Anda memanggil saya?" ucapkan Nando sambil menundukkan kepalanya.


"Nando, kamu tolong cari Silvia ya! Cek CCTV yang ada di taman!" titah Rey kepada?


Nando mengerutkan keningnya, namun dia menganggukkan kepala tidak ingin membantah ucapan sang Bos. Kemudian Nando langsung mengerjakan tugas dari Rey, sedangkan pria itu hanya duduk di kursi dengan harap-harap cemas.


"Ke mana gadis alien itu? Bodoh. Kenapa sampai aku lupa kalau dia baru pertama kali ke kota, kalau sampai Papa tahu akan hal ini, habislah aku," gumam Rey sambil mengetuk Pulpen di atas meja.


Perasaannya tiba-tiba khawatir memikirkan keadaan Silvia, walaupun Rey tidak mencintai wanita itu. Tapi tetap saja, dia bertanggung jawab atas hilangnya Silvia.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2