Istri Somplak Tuan Rey

Istri Somplak Tuan Rey
Pipi Suciku Ternoda


__ADS_3

Happy reading....


Malam ini adalah malam pengantin, atau biasa disebut malam pertama bagi pasangan pengantin yang baru saja menikah.


Silvia tengah membuka gaun pernikahannya yang terasa begitu berat di tubuh. Dia juga merasa badannya sangat gerah dan lengket, karena seharian tidak mandi, dan harus dipakaikan gaun dengan sepatu yang lumayan tinggi.


"Aduh, susah banget sih," gumam Silvia sambil membuka sleting yang berada di punggungnya.


Sudah 15 menit dia mencoba, namun gaun itu masih belum terbuka. Tapi Silvia tidak pantang menyerah, dan pada akhirnya dia pun menghela nafas karena sudah lelah sedari tadi membuka tapi tidak berhasil.


Saat wanita itu tengah menundukkan kepalanya, tiba-tiba seletingnya terbuka. Kemudian dia mengangkat wajah dan melihat pantulan cermin di mana saat ini Rey tengah berada di belakang punggungnya.


Silvia langsung menyilangkan tangannya di depan dada, kemudian dia berbalik karena tidak rela jika punggung mulusnya ditatap oleh Rey.l


"Kenapa Anda tiba-tiba saja masuk dan membuka baju saya seenak jidat?" tanya Silvia dengan ketus.


Mendengar itu Rey melemparkan jasnya ke arah sofa. "Aku hanya ingin membantumu saja. Aku lihat kau tadi kau sangat kesulitan, sudah cepat mandi sana! Aku juga mau membersihkan diri juga, gerah. Atau kalau kau tidak mau, biar aku saja duluan."


"Eeh, tidak. Enak saja. Aku yang mandi duluan," ujar Silvia sambil berlari ke arah kamar mandi dengan punggung yang terpampang begitu jelas.


Rey meneguk ludahnya dengan kasar, dia adalah pria yang normal. Melihat punggung seperti itu tentu saja membuat Rey sedikit tergoda, namun dengan cepat pria itu pun mengusir pikiran kotor dari otaknya.

__ADS_1


"Apa yang kau pikirkan Rey? Malam ini tidak akan pernah terjadi selayaknya pengantin baru. Aku dan dia saja tidak saling mencintai, apalagi kami bagaikan Tom and Jerry," gumam Rey sambil mengendurkan dasinya yang terasa mencekik.


Setelah 20 menit Rey masih belum melihat Silvia keluar dari kamar mandi, dia yang sudah gerah pun segera mengetuk pintu tersebut.


"Hai gadis alien, cepatlah! Aku juga mau mandi. Kau pikir kamar mandi ini milikmu, hah!" teriak Rey dari luar dengan kesal.


"Tuan, aku tidak membawa handuk. Bisakah Anda membawakan handuk untukku," jawab Silvia dari dalam.


Mendengar itu Rey hanya menghela nafas dengan kasar, kemudian dia mengambil handuk di dalam lemari. "Buka pintunya! Ini handuknya."


Terdengar suara pintu dibuka, Rey pun tersenyum menyeringai, karena dia ingin mengerjai wanita itu yang sudah membuatnya menunggu terlalu lama.


Saat tangan Silvia dikeluarkan, Rey segera memberikan handuk tersebut namun dengan cepat dia masuk ke dalam, membuat Silvia menjerit dan langsung menyilangkan tangannya di depan dada dan juga di area terlarang miliknya.


Pria itu tadinya ingin mengerjai Silvia, namun dialah yang malah terpaku saat melihat body dari wanita yang saat ini sudah bergelar menjadi istrinya. Di mana mempunyai dua buah semangka yang begitu menggoda, sedangkan yang di bawah sana tidak terlihat sebab Silvia menutupnya.


'Astaga! Aku ingin mengerjainya, kenapa aku sendiri yang terjebak?' batin Rey menggerutu, namun matanya tidak berkedip sama sekali.


Silvia segera mengambil handuk lalu menutup tubuhnya, kemudian dia berjalan ke arah Rey dan langsung menampar wajah pria itu.


"Dasar pria mesum! Kenapa Anda masuk tidak bilang dulu? Saya tidak memakai apapun!" kesal Silvia dengan wajah garangnya.

__ADS_1


Rey tersadar saat sebuah tamparan mendarat di pipinya, kemudian dia berjalan ke arah Silvia, membuat wanita itu semakin gugup dan memundurkan tubuhnya hingga terbentuk di dinding.


"Berani kau menamparku, wanita alien?!"


"Kenapa tidak berani? Kan Tuan sendiri yang tadi masuk tidak ketuk pintu. Dasar mesum!" jawab Silvia dengan menantang


"Memangnya kenapa? Aku ini adalah suamimu, dan apa kau lupa? Malam ini adalah malam pertama kita, jadi tidak ada salahnya aku melihat semuanya. Toh pada akhirnya aku akan menikmatinya juga," bisik Rey di telinga Silvia.


Wanita itu meneguk ludahnya dengan kasar. Entah kenapa saat ini dia merasa jantungnya berhenti berpacu, seakan kata-kata Rey membuat waktu berhenti begitu saja.


Biasanya orang akan senang saat mendengar kata malam pertama, tapi bagi Silvia itu adalah kata-kata keramat yang begitu menyeramkan di telinganya.


"Jangan pernah bermimpi ya Tuan. Saya tidak akan mau menyerahkan mahkota saya kepada Anda," ujar Silvia dengan gugup, dan itu malah membuat Rey semakin gencar untuk menggodanya.


"Kenapa tidak? Aku ini adalah suamimu bukan? Dan kau adalah istriku." Rey mencium pipi Silvia, membuat kedua mata wanita itu mendelik tajam.


Kemudian dia hendak menampar wajah Rey, namun ditahan oleh pria tersebut. "Berani kau menamparku lagi. Maka bukan hanya pipimu yang akan ku cium, tapi bibirmu juga!"


Silvia yang kadung geram pun menginjak kaki Rey, hingga membuat pria itu meringis kesakitan. "Rasakan itu Tuan mesum. Jangan pernah berani Anda mencium saya ya! Anda sudah mengambil kesucian pipi saya, jangan sampai Anda mengambil kesucian dari bibir saya, paham!" kesal Silvia kemudian dia pergi meninggalkan kamar mandi.


Sementara Rey terkekeh, kemudian dia memegangi bibirnya. "Ternyata itu yang pertama baginya. Sepertinya tidak rugi juga aku menikahinya, sebab dia adalah wanita baik-baik. Tapi sebelum aku mencapnya seperti itu, aku harus membuktikannya dulu, apakah dia masih tersegel atau tidak," gumam Rey sambil melepaskan seluruh bajunya, kemudian dia mengguyur tubuhnya di bawah guyuran air shower.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2