
Happy reading....
Saat sampai di rumah setelah mengantarkan Silvia, Rey harus kembali ke kantor, sebab masih banyak kerjaan. Tapi sebenarnya bukan hanya itu saja, dia juga tidak ingin dimarahi oleh mamanya.
Saat Silvia masuk ke dalam, ibu Sari langsung memeluk tubuhnya dengan erat. Dia menangis karena melihat putrinya baik-baik saja.
"Alhamdulillah sayang, akhirnya kamu pulang. Ibu benar-benar mencemaskanmu," ucap Bu Sari sambil menangkup kedua pipi Silvia.
"Ibu tidak usah khawatir, aku baik-baik saja dan Tuan Rey juga sudah menyelamatkan aku," jawab Silvia.
"Bagaimana bisa kamu hilang?" tanya Tante Mega.
Kemudian Silvia pun menceritakan jika dia diculik oleh preman, dan tentu saja itu membuat Ibu Sari dan juga Tante Mega sangat syok.
Lalu Silvia juga menceritakan tentang saat dia menolong seorang wanita, dan ternyata orang yang dia tolong itu adalah seorang wanita malam, dan akhirnya dialah yang harus menggantikan profesinya. Namun Tuan Rey datang tepat waktu untuk menyelamatkannya.
"Lain kali jangan pernah turun di tengah jalan. Kalau terjadi apa-apa sama kamu, gimana?" ucap Tante Mega.
"Iya Nyonya, saya minta maaf."
"Jangan panggil Nyonya! Sebentar lagi kan kamu akan menjadi menantunya Mama. Jadi sekarang kamu panggil Tante ini, dengan mama ya!"
__ADS_1
"Tapi ..." Silvia menggantungkan ucapannya sambil melirik ke arah sang Ibu, dan wanita itu langsung menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, sekarang kamu mandi gih! Belum shalat kan," ujar Bu Sari dan Silvia mengangguk, sebab memang tadi dia belum salat ashar.
.
.
Saat semua sudah selesai makan malam, Rey pamit untuk mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai tadi siang, namun Om Baim menghentikan langkah.
Membuat Rey seketika menarik nafas dengan dalam, karena dia tahu sudah pasti kedua orang tuanya akan memberikan ceramah kepadanya.
"Kalian ini kan akan menikah, bisa tidak jangan berantem kayak Tom and Jerry? Suami istri itu harus akur," ujar Om Baim kepada Rey dan juga Silvia yang sedang berada di ruang makan.
"Sial? Sial kenapa?" tanya Tante Mega dengan penasaran.
"Gimana aku nggak sial? Gara-gara dia yang ngajak aku lari, terus tiba-tiba saja kepalaku kena kotoran burung. Bayangkan aku harus mandi dua kali!"
Mendengar itu Tante Mega dan juga Om Baim malah tertawa, membuat Rey bertambah kesal, sementara Silvia menahan ketawanya saat mengingat kejadian itu.
"Ya ampun Tuan Arogan. Itu bukan salahku kali, burungnya aja yang tidak tahu tempat untuk membuang kotoran?" celetuk Silvia.
__ADS_1
"Diam kamu gadis alien! Udah lah Ma, Pa, aku mau ngerjain pekerjaan dulu. Kalau untuk membahas tadi siang tuh udah kutebus 800 juta, puas!" Rey pun meninggalkan meja makan.
Sementara Ibu Sari merasa tidak enak karena pria itu harus mengeluarkan uang yang cukup banyak, hanya untuk menebus putrinya.
Setelah membereskan makanan yang ada di atas meja, ibu Sari menarik Silvia menuju Taman, membuat wanita itu merasa heran apa yang ingin dibicarakan oleh ibunya.
"Nak, ibu tahu kamu tidak akur bersama dengan tuan Rey. Tapi kalian akan menikah bukan? Kamu juga jangan sering melawan, karena nanti kamu akan menjadi seorang istri, dan harus menurut kepada suami. Dan jujur, Ibu merasa berhutang budi karena uang 800 juta itu tidak sedikit Nak," ujar Bu Sari dengan wajah yang terlihat risau.
Silvia terdiam, apa yang dikatakan ibunya memang benar. Uang 800 juta bukanlah jumlah yang sedikit, dan Tuan Rey dengan sukarela menebusnya. Bahkan dia tidak meminta imbalan apapun.
"Iya Bu, Silvia akan berbakti kepada tuan Rey saat sudah menikah nanti. Tapi kalau kami berantem, ya bukan berarti Silvia tidak menurut ya. Karena tuan Rey nya aja yang selalu bikin aku kesal. Lihatlah tingkahnya! Benar-benar menjengkelkan," rutuk Silvia sambil memanyunkan bibirnya.
"Iya Ibu tahu, tapi kamu juga jangan terlalu meladeninya. Yang ada nanti kalian kapan jatuh cintanya?"
Mendengar itu Silvia membulatkan matanya. "Iiih, ibu mah ada-ada aja. Lagian mana mau aku jatuh cinta sama cowok kayak dia? Nggak banget!"
"Hei, jangan salah. Ucapan adalah doa, kalau nanti kamu yang jatuh cinta duluan gimana?" kekeh Bu Sari. "Udahlah, Ibu mau ke dapur lagi masih ada kerjaan. Kamu istirahat aja! Lagi pula, kan pernikahan kamu sebentar lagi, jadi jangan terlalu capek." Bu Sari mengusap pipi Silvia dengan lembut, kemudian dia melangkah masuk ke dalam rumah.
Sementara Silvia menekuk wajahnya. Entah kenapa dia merasa tidak bahagia dengan pernikahannya bersama dengan Rey, karena pria itu bukanlah pilihannya.
Biasanya orang akan bahagia saat akan menikah, tapi berbeda dengan Silvia. "Lihat aja! Dia yang akan jatuh cinta duluan sama aku, bukan aku." tekad Silvia.
__ADS_1
BERSAMBUNG....