
Happy reading....
Setelah menunggu selama 3 jam, akhirnya Nando pun kembali dan masuk ke dalam ruangan Rey, membuat pria itu bisa bernafas dengan lega.
"Bagaimana Nando? Apa kau sudah mendapatkan kabar tentang dia?" tanya Rey tanpa berbasa-basi.
"Sudah Tuan muda, dia diculik dan saya juga sudah mendapatkan alamatnya ke mana wanita itu di bawa," jawab Nando.
"Bagus, kita pergi sekarang!" Rey beranjak dari kursinya kemudian mereka pun keluar dari kantor.
Saat Rey dan juga Nando baru saja sampai di parkiran, tiba-tiba langkah pria itu terhenti saat tiba-tiba saja seorang wanita memeluk tubuh Rey dari belakang.
"Rey, aku begitu sangat merindukanmu sayang," ucap wanita itu yang tak lain adalah Nagita.
Rey mengepalkan tangannya, "Buat apa lagi kau ke sini, hah! Minggir, aku lagi buru-buru!" ujar dengan nada yang dingin.
Akan tetapi Nagita tidak mau melepaskan pelukannya di pinggang pria tersebut, hingga Rey yang sudah kadung geram dan khawatir dengan keadaan Silvia menarik tangan Nagita dengan paksa, lalu mendorong tubuh wanita itu hingga tersungkur ke lantai.
"Sudah kubilang, jangan menghalangiku! Aku sedang buru-buru. Satpam!" teriak Rey memanggil security di sana.
"Apa kau sudah bosan bekerja di sini, hah! Sudah kubilang jangan membiarkan wanita ular ini masuk!" bentak Rey dengan marah.
"Maaf Tuan, tadi kami kecolongan," jawab security tersebut.
"Sekali lagi seperti ini, akan ku pecat dirimu, paham! Ayo Nando kita pergi! Dan kau urus dia!" ajak Rey sambil masuk ke dalam mobilnya diikuti oleh Nando.
Nagita memberontak, "Tidak Rey. Jangan tinggalkan aku! Aku masih sangat mencintaimu, Rey!" teriak Nagita_ tapi Rey tidak perduli.
Saat ini yang ada dalam pikiran pria itu hanyalah keselamatan Silvia, karena Rey merasa bersalah sudah meninggalkan wanita itu sendirian di taman.
"Cepat Nando! Bagaimana kalau wanita itu di apa-apakan oleh mereka? Bisa-bisa aku yang kena amukan Papa," titah Rey kepada asistennya.
__ADS_1
"Baik Tuan," jawab Nando. Kemudian dia menambah kecepatan laju mobilnya.
Melihat kedatangan Nagita tadi ke kantornya dan saat wanita itu memeluk dirinya, sudah tidak ada lagi rasa bahkan desiran cinta di dalam hati Rey, karena saat ini hati pria itu tengah diselimuti kegelisahan tentang keadaan Silvia.
''Apa kau sudah mengetahui motif mereka, kenapa menculik wanita itu?" tanya Rey kepada Nando.
"Sudah Tuan, dari yang saya selidiki Nona Silvia pernah membantu seseorang perempuan, dan ternyata orang itu adalah buronan dari preman tersebut. Dan preman itu mengira bahwa Nona Silvia adalah temannya, sehingga mereka pun diperintahkan oleh bosnya untuk menangkap Nona Silvia sebagai gantinya."
"Memangnya siapa wanita yang ditolong oleh Silvia?"
"Dia adalah wanita malam yang bekerja di salah satu klub ternama di kota ini," jawab Nando
Rey menganggukkan kepalanya, dia mulai paham dengan situasi dari wanita itu. 'Dasar gadis ceroboh. Menolong seseorang tapi kau sendiri yang berada dalam masalah.' gumam Rey di dalam hati.
Hingga mobil pun telah sampai di salah satu rumah mewah, lalu Nando langsung turun dan bertemu dengan satpam sementara Rey menunggu di dalam mobil.
Setelah beberapa lama Nando pun masuk kembali ke dalam mobil, dan melaju masuk ke dalam rumah tersebut setelah satpam membukakan pintu. Dan terlihat ada beberapa orang berseragam hitam seperti penjaga di rumah itu.
"Ayo masuk!" jawab penjaga itu, kemudian Rey dan juga Nando mengikuti langkahnya hingga mereka sampai di ruang tamu.
Tak lama seorang wanita yang ditaksir sekitar 40 tahunan turun dengan dandanan yang begitu menor dan pakaian yang sangat seksi, membuat Nando dan juga Rey hanya terdiam karena itu sudah biasa mereka lihat.
"Ada apa kalian menemuiku?" tanya wanita itu.
"Kami ingin menebus seorang wanita yang baru saja diculik oleh anak buahmu," ujar Rey mengangkat bicara.
"Oh wanita itu. Gara-gara dia aku kehilangan uang yang begitu besar, dan dia harus menggantikannya."
"Memangnya biayanya berapa, sampai kau harus menculiknya? Apa kau tidak tahu, jika dia calon istriku, hah!" bentak Rey dengan keras.
Wanita itu tersenyum sinis, "Gara-gara dia, aku kehilangan uang 800 juta."
__ADS_1
Mendengar itu Rey membuang nafasnya dengan kasar. 'Benar-benar gadis alien yang menyusahkan. Tidak ada jika tidak berhubungan dengannya aku tidak sial!" rutuk Rey dalam hati.
Kemudian dia melirik ke arah Nando, dan pria itu pun mengerti lalu Nando mengeluarkan sebuah cek di balik jasnya, dan menuliskan angka sesuai dengan wanita itu katakan.
"Apa ini cek asli?" tanya wanita itu sambil menatap ke arah Rey.
"Kau pikir itu cek palsu?" jawab Rey sambil menatap sinis ke arah wanita tua itu, sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Wanita tersebut menatap ke arah cek tersebut, dan ternyata Rey adalah CEO dari Wiratama Group. Itu membuatnya sedikit gugup, "Apakah Anda pemilik dari Wiratama Group?" tanya wanita tersebut memastikan.
"Tanpa kujawab, kau harusnya bisa mengetahui dari cek itu. Sekarang lepaskan dia!" pinta Rey dengan aura yang begitu dingin.
Wanita itu pun menyuruh anak buahnya untuk melepaskan Silvia, karena dia tidak mau berurusan dengan pemilik dari perusahaan ternama tersebut. Bisa-bisa klub malamnya bisa hancur dan rata dengan tanah.
"Dengar ya! Jika kau berani untuk berurusan lagi denganku, maka kuratakan semua klub malammu, paham!" gertak Rey, dan wanita itu langsung menganggukkan kepalanya.
Silvia turun digandeng oleh kedua anak buah dari wanita itu, dan melihat Rey di sana tentu saja Silvia sangat senang. Dia langsung menghambur memeluk tubuh pria tersebut membuat Rey terpaku.
"Sudah jangan menangis. Ayo kita pulang!" ajak Rey sambil menggandeng tangan Silvia, dan wanita itu pun mengangguk lalu mereka berjalan masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan rumah tersebut.
"Heran, jika bersamamu pasti ada saja kesialan. Kau tahu, aku harus membayarmu tadi berapa?"
Silvia hanya menggelengkan kepalanya sambil menundukkan kepala.
"Aku harus merogoh kocek 800 juta untuk menebusmu. Lain kali, jika kau ingin menolong seseorang, maka lihat dulu orang itu apakah dia akan merugikanmu atau tidak!" marah Rey sambil mendengkus dengan kasar.
"Hai Tuan pemarah. Mana saya tahu kalau orang yang saya tolong itu adalah tahanannya mereka? Saya kan niatnya cuma pengen nolong aja," jawab Silvia dengan kesal karena sedari tadi Rey terus saja memojokkan dirinya.
Kemudian keduanya pun tidak saling berbicara kembali, hanya ada keheningan saja. Sementara Nando hanya menggelengkan kepalanya dengan kecil, merasa heran dengan tingkah dari dua orang tersebut.
'Baru kali ini aku melihat ada seorang wanita yang berani kepada Tuan Rey? Dan selalu membuatnya kesal, lama-lama mereka ini bakalan menjadi pasangan tersomplak sepertinya?' batin Nando sambil terkekeh di dalam hati.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....