
Kembali tinggal Nico dan Frisca berdua di kamar. Tapi itu tidak berlangsung lama. Detik berikutnya, ibu masuk membawa seprai baru. Frisca segera menawarkan diri untuk bantu memasang seprainya. Merasa situasinya begitu cukup aman, Nico kembali membereskan CD.
"Di ganti dulu seprainya, ya Fris. Takut ada sesuatu nya." kata ibu mengedipkan mata jenaka ke arah Frisca yang tertawa kecil. "Tau kan, gimana laki laki.." lanjut ibu lagi, membuat Nico memutarkan bola matanya sambil mendesah panjang.
Nico menoleh sebentar dari kegiatan menyusun CD-nya, lalu terbelalak saat melihat benda yang di pegang ibunya.
"Bu, kok motif seprai itu bunga bunga sih?" tanya Nico dingin.
Ibu dan Frisca menatap Nico dengan ekspresi bingung.
"Iya, terus kenapa?" tanya ibu tanpa bersalah.
"Seprai motif bunga bunga di kamar ku? Yang bener aja dong bu?" kata Nico lagi dengan penekanan yang lebih di kata 'bunga bunga' dan 'kamarku'. "Ini bukan kamar Nathan, bu!"
"Ah, Nico ini. Nggak apa apa, kan? Manis banget, lagi." kata ibu sambil membentangkan seprai itu ke ranjang Nico, sehingga tampak kontras dengan poster Queen di belakangnya.
Nico menatap seprai itu jijik sesaat, geleng geleng kepala, lalu meletakkan CD-CD nya begitu saja di meja dan bergerak menuju pintu.
"Aku bersumpah, nggak akan masuk lagi ke kamar ini selama seprai itu masih di sana." kata Nico dengan wajah masam sebelum keluar dari kamarnya.
Ibu dan Frisca terkikik bersama.
*****
Malam ini, semuanya sudah berkumpul di meja makan. Makanan yang di suguhkan benar benar spesial. Nicos sampai bingung sendiri, karena meja makan mereka secara tiba tiba penuh sesak dengan gurami goreng tepung, capcay, ayam semur, dan sapo tahu.
"Jadi, kamu mau sampe kapan di sini?" tanya Nathan kepada Frisca.
"Oh, jadi kamu mau nyuruh aku pulang, ya?" balas Frisca pura pura merajuk. Nathan, ayah, dan ibu tertawa.
"Nggak kok, malah aku pengennya sih kamu di sini terus, nggak usah pulang ke London lagi." kata Nathan jujur.
__ADS_1
"Aduh, kalo gitu nggak bisa Nat." kata Frisca. "Aku harus balik lagi ke London paling lama sekitar dua bulan lagi.
"Dua bulan aja nggak cukup lah." Nathan berkata dengan wajah serius. "Harusnya kamu tuh tinggal di sini aja."
Frisca tertawa renyah. "Yah, pengennya sih juga gitu." kata Frisca sambil melirik ke arah Nico yang tampaknya sama sekali tidak tertarik akan pembicaraan mereka.
"Co, kamu kok diam aja. Emangnya nggak kangan sama Frisca?" tanya ibu, membuat Nico hampir saja tersedak saat memakan tahu.
"Biasa aja." jawab Nico singkat sambil meraih gelasnya dan minum banyak banyak. Sejak itu Frisca tidak lagi menunjukkan senyumnya selama makan.
Nathan berhenti makan, lalu menatap Nico lekat lekat, bertanya tanya apa yang membuatnya tampak sinis seperti biasa di saat ada Frisca di sini, bersama mereka. Tidak mungkin Nico sudah melupakan Frisca begitu saja.
Setelah selesau makan, Frisca dan Nathan mengobrol di gazebo. Nico memilih untuk menonton TV, tidak ingin melihat Frisca dan Nathan berdua.
Nico menyandarkan kepalanya di bantalan sofa. Terlalu banyak yang terjadi hari ini dan entah kenapa Nico serasa tak mampu untuk menghadapinya. Ini bukan Nathan, ini bukan ayah, ini juga bukan Tian atau siapapun itu.
Ini Frisca. Gadis yang selalu ada dalam mimpinya.
*****
Frisca mencoba memejamkan mata, tapi yang terbayang olehnya adalah saat makan malam tadi. Nico sama sekali tidak memandangnya, tidak juga mencuri pandang. Sepertinya, Nico sudah sama sekali melupakannya. Saat Frisca baru datang tadi, Nico bahkan tak mau menjabat tangannya.
Frisca membalikkan badannya, lalu sebutir air mata terjatuh dari matanya.
Sebenarnya, Nico lah satu satunya alasan Frisca datang kembali ke Indonesia. Tapi bahkan alasan itu sendiri tidak mengharapkan kedatangannya.
*****
Pagi ini, Nico terbangun dengan perasaan hampa. Dia berharap kedatangan Frisca hanyalah mimpi, tapi wangi tubuh gadis itu ada di mana mana di rumahnya.
Nico bangkit, mengambil handuk, lalu masuk ke kamar mandi. Dia membasuh kepalanya dengan air, berharap air itu bisa menghapus bayangan Frisca di otaknya. Nico menengadahkan kepalanya membiarkan air yang dingin dari shower jatuh ke tepat ke wajahnya.
__ADS_1
Tanggal 14 Februari 2018, kita ke sini lagi, terus kita baca deh surat surat kita.
Ketika mengingat kalimat itu kembali, Nico menghajar tembok di depannya dengan keras keras sampai buku buku jarinya terasa nyeri.
Setelah selesai mandi, Nico segera melangkah menuju kamarnya, sejenak ia lupa bahwa ada sesosok gadis yang tidur di sana. Dia baru teringat setelah membuka pintu kamarnya dengan berisik dan mendapatkan Frisca sedang berbaring di tempat tidurnya dengan berselimut setengah badan. Ia melihat Frisca yang mengenakan tanktop sehingga menampilkan kulit leher yang mulus.
Nico mendesah pelan dengan hati yang bergejolak. Dia sudah terlanjur masuk, lagi pula semua baju bajunya ada di kamarnya. Tak lama lagi Nico harus berangkat kuliah.
Nico melangkah hati hati ke dalam kamar menuju lemarinya yang terletak tepat di samping ranjang. Nico pun tak bisa menahan godaan untuk tidak menoleh ke Frisca.
Frisca terlihat sangat manis saat tertidur. Rambutnya yang lembut menutupi sebagian wajahnya. Ingin rasanya Nico membelai kepala gadis itu, menyibak rambutnya supaya wajahnya yang cantik itu tidak tertutupi.
Detik berikutnya, Nico tersentak. Dia tidak boleh membiarkan fantasinya berkeliaran. Nico segera membuka lemari dan mengambil acak sebuah t-shirt hitam.
"Co?" kata Frisca, ternyat terbangun oleh suara deritan lemari
Nico menoleh kaget, tapi segera menenangkan perasaannya dengan memalingkan mukanya dan membuka kausnya.
"Baju gue semua di sini." Nico menjelaskan sambil melemoar kaus kotornya ke seberang ruangan, yang masuk tepat ke dalam keranjang baju kotor.
"Oh," gumam Firsca sambil duduk bersandar lalu mengawasi Nico yang mengenakan kaus baru.
Nico merasakan tatapan itu, tapi sebisa mungkin mengacuhkannya.
Frisca tiba tiba terkiki. "Co, kamu tau nggak, kalo ada orang yang masuk ke kamar kamu sekarang, orang itu bisa aja salah paham lho."
Nico menoleh, mencari tahu maksud kata kata Frisca barusan, lalu detik berikutnya dia paham. Keadaan dimana Nico sedang berganti baju dan Frisca sedang duduk di ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya, benar benar seperti adegan kalau mereka yang baru menghabiskan malam bersamaa atau apalah itu namanya.
Nico membuang muka, lalu menutup pintu lemari pakaiannya dengan sedikit membanting.
"Nggak ada yang akan salah paham." kata Nico sambil menyambar ranselnya, memasukkan buku buku yang di pilihnya secara acak, lalu berderap ke luar kamar.
__ADS_1
Frisca menatap sedih punggung Nico yang menghilang di balik pintu.