
Frisca memperhatikan kalau setelah perkelahian itu, hubungan Nico dengan Nathan semakin buruk. Mereka tak pernah bicara satu sama lain. Frisca bahkan menyangsikan apa mereka memang pernah berbicara.
Frisca mengamati Nico yang sedang mengambil baju di lemari. Semalam, Frisca sempat berpikir untuk menyerah tentang Nico, tapi tak bisa di lakukannya.
“Co, kenapa kamu nyerahin aku sama Nathan?” tanya Frisca tiba tiba, membuat Nico menghentikan kegiatannya.
“Ngomong apa sih lo?” kata Nico sambil meneruskan pekerjaannya memindahkan baju. Nico memutuskan untuk memasukkan semua bajunya ke koper sehingga dia tidak haruss masuk ke kamar ini lagi selama Frisca masih di sini.
“Kemaren kamu bilang kalo Nathan mau aku, dia tinggal ambil aja. Apa maksudnya? Apa kamu pikir aku ini barang? Aku berhak untuk memilih, Co!” sahut Frisca.
“Terus, lo emangya mau milih gue? Lo udah gila?” kata Nico dengan nada mencemooh.
“Ya, aku gila! Aku milih kamu! Emangnya kenapa aku balik lagi ke sini? Aku mau ketemu kamu loh, Co!” sahut Frisca tegas.
Nico menutup lemari, lalu menatap tajammata Frisca. Sepertinya gadis itu bersungguh sungguh, tapi Nico tak peduli. Tak ada seorang pun yang pernah memilihnya.
“London ternyata udah ngubah lo jadi perayu ulung ya? Ck..ck.. Liat lo sekarang, Fris.” Sindir Nico.
Frisca menggeleng. “Co, kamu tuh Cuma skeptis! Kamu anggap aku sama dengan yang lain! Aku beda Co, Aku benar benar peduli sama kamu!”
“Fris, apa bedanya sih lo sama orang lain? Lo tuh sama aja tau gak? Lo khianatin gue juga!” seru Nico.
“Co, kalo itu iya gue ngaku salah. Aku lupa alamat rumah kamu, aku lupa nomor telepon kamu. Selama sepuluh tahun aku berusaha nyari tapi bahkan mama papa aku juga nggak inget! Terus, pas tanggal 14 Februari, aku smape nangis gara gara nggak tau mau ngapain! Aku kangen banget sama kamu, Co” Frisca mulai terisak. “Baru pas sebulan setelahnya, aku liat nama Nathan di internet, setelah itu baru aku nemu titik terang! Kamu tau nggak? Aku seneng banget waktu liat dia di sana. Dengan begitu aku bisa dapet alamat kalian lagi, terus bisa ketemu sama kalian lagi!”
Nico ingin mempercayai cerita Frisca, tapi entah mengapa Nico tidak ingin menerima alasan itu begitu saja.
“Co, please.. Waktu di The Club, aku pengen cerita. Sebenernya, begitu nyampe sini aku udah pengen cerita. Tapi karna kamu nggak pernah mau liat aku, kamu juga nggak keliatan seneng ngeliat aku, aku jadi ragu. Aku sedih banget waktu Nathan bilang kamu udah ngelupain aku.”
__ADS_1
Nico menatap Frisca yang sekarang sudah berhenti menangis.
“Co, kamu tuh Cuma taku, ya kan? Kamu takut mempercayai orang. Aku salah Co, aku pernah sekali ngekhianatin kamu, tapi waktu itu aku masih kecil! Dan sumpah mati, aku nggak akan ngelakuin itu lagi!” sahut Frisca dengan seluruh sisa tenaganya.
Frisca sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa tentang seorang anak laki laki yang sudah kehilangan kepercayaan kepada semua orang ini. Nico terlalu menarik diri sehingga Frisca tidak bisa lagi menggapainya.
Nico menatap Frisca lama. Nico tahu, Frisca benar. Nico sudah terlalu takut untuk mempercayai siapa pun lagi. Nico takut jika dia mempercayai Frisca, dan jika Frisca mengkhianatinya sekali lagi, maka Nico akan benar benar hancur.
“Co, all you have to do is have a little faith in me.” Kata Frisca pelan.
Nico masih bergeming. Frisca akhirnya menggangguk anggukkan kepalanya pasrah.
“Ya udah deh kalo kamu masih nggak yakin. Kmau mau kuliah kan? Ntar, habis kuliah, kamu langsung cepet pulang ya. Aku mau buktiin kamu satu hal.” Frisca lalu tersenyum. “Buktinya ini cukup kuat lho.” Sambungnya lagi sambil mengedipkan mata lalu menghilang di balik pintu.
Selama beberapa saat Nico terdiam karena otaknya terasa membeku, lalu lanjut mengepak bajunya.
*****
Nico melangkahkan kakinya ke atap untuk bersantai sejenak sebelum mengiktui kuliah selanjutnya. Nico mengekuarkan sebatang rokok, memandangnya, lalu teringat kepada bekas luka di telapak tangan Frisca. Nico segera membuang rokok itu ke lantai semen.
Merasa sedikit bangga dengan dirinya sendiri, Nico menghela napas mantap dan melempar pandangannya ke arah lapangan basket. Lagi lagi, dia melihat Nathan. Si banci itu sedang bertanding di lapangan yang di kerubuti gadis gadis. Nico mendengus keras.
Mendadak, Nico mendapati Frisca duduk di bangku penonton, sedang berteriak teriak menyemangati Nathan. Nico terdiam, tangannya terkepal keras sementara darahnya mendidih di kepalanya. Nico memungut rokok yang telah di buangnya, lalu kembali menyalakannya. Nico bangkit sambil menghisap roko itu dalam dalam.
Nico akhirnya kembali pada satu kesimpulan. Frisca sama saja dengan orang lain.
*****
__ADS_1
“Hei.. akhirnya pulang juga.” Frisca menyambut dengan wajah ceria saat Nico menampakkan diri di pintu.
Nico menatapnya datar, lalu melangkah masuk dan melewatinya begitu saja. Frisca menatapnya heran.
“Co, dari mana saja sih? Tadi Nathan tanding dan dia menang loh.” Kata Frisca polos.
Nico berusaha untuk tak mempedulikannya. Dia bergerak menuju lemari es dan mengeluarkan jus jeruk, lalu meneguknya langsung dari kotak sampai habis.
“Co?” tanya Frisca lagi setelah tak mendapatkan tanggapan. “Kamu kenapa? Ayo, aku mau tunjukkin bukti yang aku bilang itu. Nathan udah ngungguin tuh.”
Nico tak habis pikir betapa ringannya Frisca menyebutkan nama Nathan di depannya. Tapi Frisca sepertinya tidak sadar, karena dia sekarang sudah menarik tangan Nico dan membawanya ke taman tempat dulu Nico, Nathan dan Frisca memiliki perjanjian.
Nathan sudah menunggu, duduk di bawah pohon akasia sambil memainkan bola basketnya. Nico menatapnya sengit, yang langsungdi balas sama sengitnya oleh Nathan. Frisca melangkah menuju pohon itu dengan riang, lalu menatap Nico.
“Sekarang, ayo kita buka surat permohonannya!” sahut Frisca membuat Nico terkejut.
Nathan dan Frisca seolah tak mengetahui keterkejutan Nico. Mereka sama sama menggali tanah yang tepat di bawah pohon itu, lalu mengeluarkan kaleng biskuit yang dulu mereka kubur. Semua kenangan itu berkelebat di otak Nico dengan cepat sehingga membuatnya pusing.
“Ini dia!” sahut Frisca gembira sambil mengacungkan kaleng kotor itu, yang di asmbut cengiran Nathan. “Ayo, Co, kita sama sama baca!”
“Konyol banget.” Komentar Nico dingin, membuat senyuman Frisca mendadak hilang.
“Apanya yang konyol sih?” tanya Frisca bingung.
“Ya ini, ini semua.” Kata Nico dengan nada mencemooh.
“Jadi kamu anggep perjanjian kia konyol?” tanya Frisca tersinggung.
__ADS_1
“Semuanya udah lewat, Fris! Kita bukan anak kecil lagi!” sahut Nico emosi.