
Mendengar percakapan antara Nathan dan temannya Odi Frisca menjadi bingung.
“Ada apaan sih Nat?” tanya Frisca akhirnya.
“Aku bolos latihan basket supaya bisa nemenin kamu selama kamu ada di sini, Fris. Kapan lagi kan kamu bisa di sini.” Jelas Nathan membuat Frisca mengangkat mulutnya.
“Kamu ngapain pake bolos bolos segala? Dasar Bodoh! Kamu latihan aja gih!” sahut Frisca sambil mendorong tubuh Nathan yang lebih besar darinya. “Udah, ayo sana latihan! Ntar kamu jadi kehilangan kesempatan, lho!”
“Terus kamu gimana? Aku bakal kehilangan banyak waktu sama kamu kalo ikut latihan sama turnamen!” sahut Nathan tak rela.
“Ya udah, aku temenin deh pas kamu latihan sama turnamen!” sahut Frisca lagi.
Mata Nathan segera berbinar. “Wah, serius kamu Fris? Janji ya?”
“Iya! Udah sana! Dasar manja.” Kata Frisca sambil tersenyum, lalu mengikuti langkah Nathan menuju lapangan basket.
*****
Nico mengisap rokonya dalam dalam sambil mengangguk anggukkan kepalanya menurut irama lagu B.Y.O.B milik System Of A Down. Saat ini dia sedang berada di atap gedung kampus utama, tempat yang sebenarnya terlarang bagi mahasiswa, tapi Nico mengganggap dirinya adalah penemu tempat itu. Dari sini, terlihat taman kampus yang luas dengan sebuah kolam besar beserta beberapa gedung perkuliahan lainnya.
Nico menghembuskan asap rokok dan berusaha membentuk lingkaran lingkaran kecil di tengahnya. Nico menatap cincin cincin asap itu yang langsung hilang dan menyatu dengan angin. Musim kemarau ini, angin bertiup cukup kencang, cukup kencang untuk menggoyangkan rambut lurus setengkuk Nico kesana kemari.
Nico kembali menghisap rokoknya, mematikan CD-player nya, lalu mengubah posisi duduknya memandang ke arah taman belakang kampus yang luas. Dari sini, Nico sering mendapati Nathan sedang berlatih basket di lapangan basket di tengah taman itu.
Mendadak Nico berhenti menghisap rokoknya ketika melihat sesuatu yang tak ingin di lihatnya.
__ADS_1
Frisca. Duduk di bangku penonton, menyaksikan Nathan yang sedang berlatih dengan wajah ceria. Kadang kadang Frisca bersorak saat Nathan berhasil memasukkan Bola. Nico mengawasi mereka dengan pandangan jijik.
Nico tak tahu apa yang menyebabkannya tidak cepat cepat pergi dan malah mengawasi mereka. Mungkin karena Nico ingin memandang Frisca lebih lama tanpa di sadari siapa pun.
Semuanya sudah benar benar berubah. Keadaan sudah tak seperti dulu lagi. Dulu, saat Nico harus menerima segala ketidakadilan, Frisca lah satu satunya kekuatan yang dia punya. Saat Frisca pergi, Nico kehilangan semuanya. Sekarang, saat Frisca kembali, kekuatan itu malah berbalik menyerangnya dengan selalu memilih orang yang dari lahir sudah di bencinya. Awal dari segala ketidakadilan itu. Nathan.
Nico tidak bertanya tanya kenapa Frisca memilih Nathan. Nathan jelas lebih segalanya dari Nico. Nathan hampir tanpa cela. Nathan nyaris sempurna. Nico terlihat sangat buruk bila di sandingkan dengan Nathan. Dan gadis seperti Frisca tidak mempunyai alasan untuk tidak bersama orang seperti Nico.
Nico tidak berharap apapun. Nico tak biasa berharap. Nico sudah berhenti berharap. Dia pernah melakukannya beberapa kali saat masih kecil, tapi harapan itu tak pernah terjadi. Nico pernah berharap ayah dan ibu datang mengambil rapor, tapi mereka berdua tidak datang karena mereka harus menghadiri pengambilan rapor Nathan yang menjadi juara kelas selama hidupnya. Nico pernah berharap pergi sekeluarga ke Dufan saat libur kenaikan kelas, tapi ayah dan ibu terlalu sibuk mengajak Nathan berjalan jalan, sementara Nico di tinggal di rumah karena tidak bisa menghabiskan buku bacaan yang di suruh ayah.
Nico sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya berharap. Karena itu, dia tak mau lagi mengharapkan apapun lagi dari seorang Frisca, apalagi berusaha untuk merebutnya dari tangan Nathan. Di mata Nico, Frisca juga merupakan seorang penghianat. Semua yang pernah di kenal Nico adalah penghianat. Dan Nico tidak mempercayai siapa pun lagi.
Frisca bersorak lagi saat Nathan berhasil mencetak angka, membuat Nico tersadar dari lamunannya. Nathan berlari menuju Frisca dengan cengiran bangga, berhenti di depannya, lalu Frisca mengacak rambutnya seolah Nathan seekor anak anjing yang berhasil menangkap frisbee.
Co, aku peduli sama kamu!
Nico bangkit dengan gerakan menyentak, lalu segera pergi dari tempat itu.
*****
“Co, bagi rokok dong”
Nico mengeluarkan kotak rokoknya, lalu melemparkannya kepada Vino-teman satu bandnya-yang menangkap dengan gesit. Sementara itu, Wanda, anggota band-nya yang lain, mengamatinya dari pojok ruangan. Saat ini, mereka sedang berada di gudang rumah Wanda yang di jadikan markas band mereka.
“Co, lo kabur lagi ya?” tanya Wanda.
__ADS_1
Nico hanya mengangguk sambil memetik gitarnya.
“Kayaknya masalah lo cukup gawat. Emang ada apaan?” tanya Vino.
“Nggak usah ikut campur.” Kata Nico datar sambil bangkit. “Ayo, kita berangkat ke klub. Ntar telat jadi nggak dapet bayaran, lagi.”
Vino dan Wanda berpandangan sebentar, lalu mengedikkan bahu, kemudian mengikuti Nico.
*****
Frisca menatap keluar jendela. Nico masih belum pulang walaupun hari sudah larut. Frisca melirik jam tangannya dengan gelisah. Pukul sepuluh malam.
“Fris, nggak usah sekhawatir itu.” Kata Nathan, lalu menguap. “Paling dia lagi manggung.”
Frisca menatap Nathan ingin tahu, tapi segera mengubah ekspresinya agar Nathan tak curiga.
“Oh.” Kata Frisca seolah tak peduli. “Emang nya dia suka manggung di mana?”
“Mungkin di The Club kali. Itu tuh kelab nya orang orang katro,” Nathan kembali menguap, tak menyadari Frisca mengangguk angguk. “Fris, tidur sana. Udah malem.”
“Iya deh.” Kata Frisca, lalu melangkah riang ke dalam kamar Nico. Lalu melangkah cepat menuju kopernya dan megeluarkan baju baju andalannya. Setelah menemukan sebuah setelan yang cantik, Frisca mengenakannya dan memoles wajahnya dengan make up tipis. Frisca kemudian membuka jendela kamar Nico dan tersenyum simpul.
Memang jendela khas anak nakal yang sering kabur. Jendela kamar Nico membuka terbuka lebar tanpa memiliki teralis. Frisca dengan mudah melompat keluar, lalu dengan langkah berjingkat, dia bergerak menuju pagar dan melompatinya.
Frisca menelepon penerangan, meminta nomor telepon taksi. Setelah berhasil memesan taksi, dia menunggu di kegelapan. Angin malam yang berembus membuat Frisca merasa bulu kuduknya berdiri. Dia tak pernah melakukan hal yang menegangkan seperti ini, tapi dia harus melakukannya demi Nico.
__ADS_1
Tak lama taksinya datang, dan Frisca bergegas masuk.
“The Club ya Pak,” kata Frisca, dan taksi pun bergerak maju.