Izinkan Aku Bersama Mu

Izinkan Aku Bersama Mu
BAB 6


__ADS_3

Perlahan, Nico membuka pintu kamarnya. Benar saja, pagi ini semuanya sudah berkumpul di ruang tamu, karena hari ini hari minggu. Harusnya Nico tadi tetap berada di dalam kamar saja.


Nico tidak dapat muncur lagi, karena ayah sudah keburu melihatnya dan memberinya tatapan tajam. Jadi, di melangkah ke luar kamar saja, lalu duduk di meja makan. Dia pun menyomot sosis gorang dan makan dalam diam.


Ayah mendengus sambil membuka koran dengan kasar setelah melihat wajah Nico yang lebam. "Kamu ini mau sampe kapan ngelakuin hal hal yang nggak berguna?" serunya tanpa melepaskan matanya dari koran.


Nico terdiam sesaat. Ayah sudah mulai lagi membicarakan hal ini. Nico hanya menggerakkan bahu, malas untuk menjawabnya.


Begitu tahu Nico tak menjawab, Ayah mendelik sewot kepadanya. Nathan dan ibu memilih untuk diam. Di benak mereka, sebentar lagi pasti akan terjadi pertengkaran, seperti yang biasa terjadi di hari minggu pagi.


"Kamu ini kerjaannya mencoreng nama baik ayah." kata ayah lagi. Urat urat di dahinya sudah mulai tampak.


"Ck.. Aku nggak pernah nyebut nyebut nama ayah waktu berantem." jawab Nico tak peduli.


Ayah pun menghempaskan koran yang sedang di bacanya ke meja makan, lalu menatap Nico garang.


"Kecuali kamu bukan anak ayah, sana berantem sepuasnya!" serunya dengan suara yang mengelegar. Nico balas menatap ayah dengan geram. Sosis yang di pegangnya sudah terasa lembek di tangan nya. "Mungkin cuma kematian yang bisa buat kamu berhenti berkelahi." sambung ayah lagi, lalu mendesah pelan.


Nico mendengus. "Mungkin saja." katanya, lalu kembali melahap sosisnya.


Ibu menatap Nico khawatir, lalu mengulurkan tangan untuk membelai pipi Nico yang biru dan membengkak. Nico segera menepis tangan ibunya.


"Apa nggak sebaiknya kamu ke dokter saja, Co?" tanya ibu pelan.


"Nggak usah lah." tandas ayah sebelum Nico sempat mengeluarkan suara. "Biar kapok dia."

__ADS_1


Nico memilih tak menanggapi perkataan ayahnya. Nico tak akan kapok dengan pukulan ringan di pipi. Selama beberapa menit, keheningan merayapi keluarga itu.


"Yah, pinjem korannya dong." kata Nathan mencoba untuk mencairkan suasana.


Ayah lalu menyodorkan koran ke tangan Nathan, sambil melirik pada Nico yang tampak tidak berminat.


"Coba sekalis sekali kamu baca koran. Kerjaannya cuma bisa dengerin musik yang aneh terus. Gimana bisa nambah pengetahuan, kamu?" sindir ayah sinis pada Nico.


Baca koran. Kerja yang bagus Nathan, pikir Nico. Membaca koran adalah hal yang paling di benci Nico, selain apapun yang berhubungan dengan ayah dan Nathan.


Bukannya Nico tidak mau membaca, tapi Nico di vonis menderita disleksia lima tahun yang lalu. Tidak ada satu orang pun yang mengetahui hal tersebut di keluarganya, karena Nico selalu berhasil menutupinya. Seumur hidupnya, Nico menderita dan dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Baru setelah remaja, Nico memutuskan untuk memeriksa dirinya tanpa ada yang menemaninya. Dari dokter dia tahu bahwa dia ternyata penderita disleksia, penyakit gangguan syaraf pada otak yang menyerang anak yang lahir prematur atau otak nya kekurangan oksigen saat baru lahir.


Kemungkinan besar, penyebab yang kedua lah yang terjadi kepada Nico, karena dia dan Nathan lahir pada waktu yang bersamaan. Penyakit inilah yang menyebabkan Nico tidak dapar membaca, menulis ataupun mengeja dengan benar. Walaupun disleksia yang terjadi pada Nico tidak begitu parah, dia tumbuh menjadi anak yang emosinya labil karena sudah terbiasa di katakan bodoh oleh semua orang.


Selama dua puluh tahun, Nico berusaha untuk menyetarakan dirinya dengan Nathan - yang sialnya, begitu cemerlang. Ayah menyerah mengajari Nico karena dia lambat dalam menangkap pelajaran dan akhirnya menganggapnya lebih bodoh dari Nathan. Sementara itu, ibunya tak bisa berbuat apa apa. Bukannya ibu tidak mencintainya, dia di larang oleh ayah untuk membantu Nico, itu di lakukan ayah supaya Nico jera. Karena tidak punya pilihan lain, Nico belajar membaca, menulis, juga mengeja sendirian pada waktu malam hari.


Tidak seperti Nathan, Nico tidak begitu mengerti musik jazz yang mengutamakan ketepatan nada. Nico lebih akrab dengan musik musik rock atau metal yang keras.


Perjuangannya selama dua puluh tahun membuahkan hasil. Kini Nico sudah lebih terbiasa untuk membaca dan menulis, tapi dia tetap tidak senang melihat tulisan tulisan kecil yang ada di koran karena dia masih harus berpikir keras. Nico tidak akan membaca apapun kecuali memang perlu.


"Co! Kok bengong?" ibu tahu tahu mengusap rambut Nico, hal yang tidak pernah di lakukannya lagi selama bertahun tahun.


Nico menatap ibu muram. Sebenarnya, Nico merindukan pelukan ibu, ia juga merindukan cerita ceritanya sebelum tidur, yang telah terhenti saat usianya baru tujuh tahun, sesaat setelah orang tuanya mengetahui ada yang tidak beres pada otak Nico. Selanjutnya, hanya Nathan lah yang masih di belai dan selalu di ceritakan dongeng sebelum tidur, sementara Nico di pukuli karena tidak bisa menjawab pertanyaan yang benar dari ayah.


"Kerjaannya memang begitu. Bengong saja kayak orang bodoh." kata ayah tiba tiba sambil bangkit untuk menghisal rokok. "Cobalah, buat sesuatu yang berguna Nico. Sekali saja, bikin ayahmu ini bangga."

__ADS_1


Mata Nico memgikuti ayah yang segera berbalik dan berjalan menuju pintu depan. Nico merasakan darahnya sudah mendidih dan naik ke kepalanya. Ibu menatap nya simpati, lalu bergerak menuju dapur. Nathan juga bangkit dan membawa koran ke depan TV.


Selalu begini. Selalu Nico yang tertinggal di belakang.


*****


"Wow,, panas banget ahh!" keluh seorang gadis saat keluar dari bandara. Dia pun menyibak rambut indah nya yang panjang dan bergelombang, lalu menyeka keringat yang mengalir di dahinya dengan dengan sekali gerakan indah.


Orang orang yang berada di sekitar gadis itu menatapnya kagum. Gadis itu pun menoleh ke kanan dan kiri, bermaksud untuk mencari taksi.


Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan seseorang. Seseorang yang sangat di rindukannya.


*****


"Besok, jangan pada kemana mana ya!" seru ayah saat makan malam berlangsung.


Nico dan Nathan mendongak, lalu kemudian menatap ayah heran.


"Emangnya ada apaan sih yah?" tanya Nathan. "Lagian besok aku ada kuliah, terus mau latihan basket yah."


"Udah bolos aja dulu kuliah nya." kata ayah tak peduli. "Lagian sekali ini bolos kan tidak langsung berpengaruh sama nilai kamu juga Nat." sambung ayah lagi.


Nico menganga lebar. Dia tidak percaya, ayah menyuruh Nathan untuk bolos kuliah. Pastilah hal ini sangat darurat. Mungkin besok ayah akan mengadakan acara pemancungan bagi Nico, dan Nathan wajib bolos kuliah supaya tidak melewatkannya.


"Ha? Bolos yah? Sebenarnya ada apaan sih yah?" desak Nathan, seakan setengah mati tak mau kehilangan satu hari kuliah demi hal yang tidak benar benar penting.

__ADS_1


"Pokoknya bolos aja saja. Ayah juga udah minta izin kok sejam dua jam dari kantor. Nanti kalian juga bakal tahu." kata ayah menutup percakapan itu, lalu melanjutkan kembali makan malamnya.


Nico pun segera memikirkan cara untuk mengatur pelarian dirinya besok.


__ADS_2