Izinkan Aku Bersama Mu

Izinkan Aku Bersama Mu
BAB 10


__ADS_3

"Aduh, buku apa sih yang ke bawa?" gumam Nico kesal setelah sampai di kampus. Ternyata, tadi dia membawa novel Dave Pelzer hadiah dari Lisa setahun yang lalu. Hadiah yang ironis, menurut Nico. Dia benar benar kesusahan membacanya, walaupun hanya prolog nya.


"Berat beratin aja." gumam Nico sambil menyurukkannya kembali ke dalam ranselnya.


Nico menundukkan kepala, lalu memegangnya dengan kedua tangan. Kepalanya berdenyut sangat hebat saat memikirkan kejadian tadi pagi. Wajah Frisca yang begitu cantik, bahkan saat ia baru bangun tidur. Nico tak mengira Frisca akan menjadi gadis secantik itu dalam tempo sepuluh tahun. Dulu Frisca sangat culun dengan dua gigi depan besarnya dan kepang dua.


Nico hampir saja tertawa kalau tidak ingat gadis itu sekarang ada di rumahnya. Semua ini terasa seperti keajaiban. Nico tak pernah mengharapkan kedatangan nya lagi, semenjak ia menyerah setelah menunggu selama sepuluh tahun.


"Co! Lo kenapa? sakit?" tanya Lisa yang datang tiba tiba. Nico mendongakkan kepalanya.


Nico menggeleng tanpa menatap Lisa. Sudah cukup parah sakit kepalanya, tak perlu di tambah dengan kehadiran Lisa segala.


Lisa menatap Nico yang bergeming, menghela napas, lalu duduk di sebelahnya.


"Lo masih marah ya, Co?" tanya Lisa sambil menatap Nico lekat lekat. Nico tak membalasnya.


"Udah deh, lo nggak usah deket deket gue lagi. Terakhir kali lo ada di deket gue, gue udah mukul banyak orang." kata Nico ketus, tanpa memedulikan mata Lisa yang membelakak.


"Apa? Lo di serang, Co? Di mana? Kapan? Sama siapa?" tanyanya histeris.


Nico menatapnya sebal. "Lo nggak usah pura pura nggak tahu, deh. Lo tau kan, fans lo yang cinta mati sama lo itu paling nggak bisa kalah."


Lisa terpekur. Tian. Pasti anak itu. Dia terus mengejar ngejar Lisa semenjak mereka putus dengan Nathan dan malah menyukai Nico.


Nico terdiam. Memang bukan kesalahan Lisa, tapi Nico sudah terlanjur menganggapnya demikian. Kalau saja dulu Lisa tidak memilih Nathan sehingga membuat Tian merasa tersaingi , pasti tidak akan begini jadinya. Nico meyakini ini sebagai sebuah karma.


"Lo tau? Adas satu hal yang bisa bikin kejadian itu nggak terulang lagi. Yaitu, lo jauh jauh dari gue." kata Nico dingin, lalu bangkit dan meninggalkan Lisa.

__ADS_1


*****


Nathan memasukkan bola basketnya ke loker sambil bersiul. Hari ini dia tidak akan latihan. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membolos latihan sesering mungkin selama Frisca ada di Indonesia. Nathan tak ingin membuang waktu walau sedetik pun. Sudah cukup lama waktu terbuang, dan sekarang, Nathan ingin membalasnya.


"Nat! ntar jam tiga , ya!" seru Odi, teman setim basketnya.


"Wah, sorry di, gue nggak bisa." kata Nathan. "Ntar ntar gue juga bakalan jarang latihan deh. Soalnya ada hal yang penting." sambung Nathan.


Odi mengernyitkan dahi. "Ck.. Lo becanda, kan? Bentar lagi ada pertandingan turnamen loh, Nat! Emangnya lo mau, tempat lo di gantiin sama Tian?"


"Masa bodo." tukas Nathan sambil menutup lokernya. "Masih banyak kok turnamen yang lain. Yang ini, gue udah nunggu lama sampe sepuluh tahun. Gue nggak akan ninggalin dia cuma gara gara turnamen."


"Apaan sih? Sampe lo bisa bisanya nyerahin posisi lo buat Tian?" tanya Odi.


"Seseorang." Nathan tersenyum membayangkan Frisca. "Seseorang yang lebih berharga dari apapun juga di dunia ini. Bahkan medali MVP."


*****


"Sini, biar Frisca bantu, tan."


Frisca mengambil lalu mulai mengupasnya. Di sampingnya, Tante Monika sedang memasak makanan untuk makan malam.


"Wah, kamu bisa ngupas bawang, Fris?" tanya tante Monika, ibu dari Nico dan Nathan.


"Ya busa lah, tan. Tante lupa ya, dalemnya kan masih orang Indonesia asli." jawab Frisca, membuat tante Monika tertawa kecil.


"Bahasa Indonesia kamu juga bagus banget. Padahal kan waktu kamu pindah ke London kamu masih kecil, lho." kata tante Monika.

__ADS_1


"Aku selama di rumah selalu pake bahasa Indonesia, tan." jelas Frisca. "Lagian, temen ku yang juga orang Indonesia di sana banyak kok, tan. Tapi kebanyakan yang udah pada kuliah sih."


Tante Monika mengangguk angguk mengerti. Selama beberapa menit kemudian, mereka berdua sibuk dengan kegiatan masing masing. Namun akhirnya, Frisca tidak tahan untuk tidak bertanya tentang Nico.


"Tan, Nico kuliahnya di jurusan apa?" tanya Frisca, merasa Nico pasti tidak akan menjawab jika dia menanyakannya langsung.


"Eh?" tante Monika menghentikan kegiatan mengaduk sayur, berusaha untuk mengingat ingat. "Ng ... di mana ya? Tante lupa deh. Kalo nggak salah sih di Teknik Industri.. Atau apa yah? Eh, itu sih si Nathan.."


Frisca bengong mendengar jawaban polos tante Monika. "Jadi, tan?" tanya Frisca lagi setelah beberapa lama menunggu.


"Ng .. tante lupa, Fris. Dulu pas mau mauk kuliah, dia sendiri bingung mau milih apa, sampai kita jadi nggak tahu lagi. Ntar tanyain aja deh sama anaknya langsung, yah!" katanya, lalu kembali mengaduk sayur.


Frisca semakin bingung. Kenapa tante Monika sampai tidak tahu anaknya kuliah di mana? Tapi Frisca tidak ambil pusing. Mungkin saja tante Monika memang lupa.


"Terus tan, anaknya emang nggak suka ngomong, ya?" tanya Frisca lagi. "Perasaan dulu nggak segitunya."


"Emang, dari kecil tabiatnya udah kayak gitu. Tepatnya sih setelah kamu pindah." kata tante Monika lagi. "Kamu di judesin ya? Maklumin aja deh Fris, dia emang bandel."


Frisca terdiam sesaat. Ternyata Nico sudah berubah menjadi orang yang dingin. Dulu, Nico memang tidak banyak bicara, tapi itu kepada semua orang kecuali Frisca. Dulu Frisca adalah orang yang paling sering di ajak bicara sama Nico. Entah kenapa, sekarang Nico terkesan menjauhi Frisca, padahal Frisca sangat merindukan Nico.


"Dia itu nakal banget Fris, doyannya berkelahi mulu." kata tante Monika lagi. Wajahnya berubah mengeruh. "Waktu SMP sama SMA, dia nggak satu sekolah sama Nathan."


Frisca berhenti mengupas bawang lalu menatap tante Monika, "Nggak pernah satu sekolah, tan? Kenapa?"


"Sebenernya dia tante masukin di sekolah yang sama dengan Nathan, tapi dia selalu di keluarin." jawab tante Monika tersenyum getir. "Abis kerjaannya berantem melulu. Semua anak pernah ngerasain bogem mentahnya. Masuk BP sampe berpuluh puluh kali. Malah sempet nggak mau naik kelas karena keseringan bolos, tapi setelah tante ngelobi pihak sekolah, dia akhirnya bisa naik kelas. Tante sampe terharu waktu sekolah nyatai Nico lulus SMA. Habis, rapotnya kebanyakan merah nya."


"Nico telat setahun masuk kuliah, soalnya Nico ikut kelas akselerasi." kata tante monika lagi, membuat Frisca tertegun. "Atau lebih tepatnya, Nathan lebih cepat setahun."

__ADS_1


Nico masuk kuliah setahun setelah Nathan. Frisca tak pernah tahu. Kenyatanyaanya, Frisca tak tahu apapun tentang Nico.


__ADS_2