Izinkan Aku Bersama Mu

Izinkan Aku Bersama Mu
BAB 5


__ADS_3

"Nico, lo dapet pesan. Ada yang nunggu lo di belakang kampus."


Seorang cewek tiba tiba mendekati Nico saat dia baru beranjak pulang. Nico menghabiskan sepanjang hari dengan berbaring di kursi taman kampusnya sambil menghabiskan dua bungkus rokok.


Nico menatapnya heran. "Siapa sih?"


"Ya Gue nggak tau. Gue nggak kenal juga. Tapi cowok cowok." kata cewek itu, lalu pergi begitu saja, seolah tak mau berurusan lebih lama dengan Nico.


Nico menatap kepergian cewek itu, lalu melangkah berjalan menuju belakang kampusnya. Dalam hati, dia merasakan adanya ketidakberesan. Benar saja, segerombolan anak lelaki yang tampak marah sedang menunggunya di sana.


"Mau apa cari gue?" tanya Nico begitu dirinya sudah berjarak tiga meter dari gerombolan itu.


Salah satu dari mereka maju, tampaknya yang paling kuat. Wajahnya legam dan memiliki banyak bekas luka.


"Lo Nico?" tanyanya dengan suara yang berat, khas perokok. Sama seperti yang di miliki Nico.


"Bisa di bilang begitu." jawab Nico dengan nada menantang. "Dan lo? Bang napi?"


Laki laki itu mendengus. "Gede juga nyali lo."


"Mau apa kalian? Siapa yang nyuruh?" tanya Nico ringan. Dirinya sudah terbiasa akan hal hal seperti ini. Orang yang membencinya tidak bisa di bilang sedikit. Malah orang yang menyukainya yang luar biada sulit untuk di cari.


"Nggak penting lo tau kita suruhan siapa. Yang jelas, lo pastinya sudah tau kita mau ngapain." jawab seorang laki laki lainnya.


Nico menarik napas, lalu mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Di isapnya dalam dalam, lalu di hembuskannya tepat ke wajah pria hitam.


"Gue tau," katanya singkat.

__ADS_1


Laki laki itu segera melayangkan tinjunya pada Nico, yang dengan mudah. Secepat mungkin Nico meraih tangannya, memelintirnya, lalu mematikan rokoknya pada tengkuk laki laki itu, yang langsung berteriak kesakitan. Teman teman nya memandang Nico geram.


"********!!" seru gerombolan itu, lalu menyerbu Nico dengan membabi buta.


*****


"Mau ada pertandingan lagi, yah."


Suara Nathan terdengar ketika Nico memasuki rumah. Nico menarik napas sebentar, menghembuskannya, lalu bergegas meneruskan langkahnya melewati ruang tamu. Ayah, ibu, dan Nathan sedang duduk di sana. Benar benar sial. Pertemuan keluarga tepat di saat keadaannya lagi berantakan.


Nico memutuskan untuk bergerak cepat ke kamar, bermaksud untuk menghindari pertemuan itu. Tapi rupanya tak cukup cepat, karena semua keluarganya menyadari keadaan Nico dari tubuhnya yang kotor dan wajahnya yang lebam.


"Nico! Kamu berantem lagi ya?" teriak ayah berang.


Nico tidak berhenti dan mengabaikan pertanyaan ayah nya. Dia segera masuk ke kamarnya dan membanting pintu tepat di depan hidung ayah nya.


Suara ayah teredam oleh suara Kurt Cobain dengan 'Smells Like Teen Spirit' -nya. Nico membanting tubunya ke atas ranjang, lalu terduduk dengan rasa sakit luar biasa yang menyerang perutnya. Gerombolan sialan tadi berhasil memukulnya sekali pada perut dengan sebuah balok besar. Rupanya tadi Nico bergerak kurang lincah. Biasanya dia tak pernah terluka separah ini.


Nico sudah ******* semua anak yang tadi menyerangnya. Semuanya di biarkan terkapar tak berdaya dengan berbagai macam keluhan. Mungkin yang terbanyak adalah patah hidung dan gigi. Tapi Nico cukup yakin tadi dia berhasil mematahkan tangan satu-dua orang.


Gerombolan tadi suruhan Tian, saingan utama Nathan dalam kompetisi basket antar kampus. Dia adalah mantan pacar Lisa sebelum Nathan, dan ternyata kabar bahwa Lisa memeluk Nico langsung sampai ke telinganya. Nico mendengus sebal. Rupanya banyak sekali mata mata Tian di kampus. Padahal baru beberapa jam kejadian itu berlalu, si pengecut itu sudah mengirim pasukan tak berguna untuk menghabisi Nico.


Nico memaksakan dirinya untuk mendekati kaca, lalu memerhatikan wajahnya yang lebam di bagian tulang pipi kirinya. Nico berumpah di dalam hati, akan terus mengingat ******** yang berhasil menempatkan kepalanya di sana, lalu balas dendam dua kali lebih parah.


Tiba tiba Nico bergeming. Bukan karena dia menemukan luka baru di wajahnya, tapi karena dia menemukan wajah Nathan di sana. Wajah yang persis dengan yang di milikinya. Wajah yang tidak di inginkannya. Nico pun sadar kalau dia sudah terlalu lama tidak bercermin. Dia terlalu takut untuk melihat wajah yang selalu membuatnya marah itu. Karena itulah, cermin menjadi hal terkutuk baginya.


Nico melangkah menjauhi cermin, lalu kembali terduduk di pinggiran ranjang. Mungkin lebih baik dia merubah wajahnya agar tidak terlihat mirip lagi dengan sang atlet . Terlalu banyak yang terjadi dalam satu hari ini. Dan semua membuatnya luar biasa lelah, sampai dia merasa ingin mati.

__ADS_1


*****


Nathan buru buru melangkah ke kamarnya begitu waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Malam ini, Frisca akan muncul di chat room, seperti janjinya.


Nathan segera terduduk, menyalakan laptop-nya yang segera terkoneksi ke internet. Setelah beberapa lama mencari, nama Frisca belum muncul. Nathan sudah mencoba berbagai nama yang mungkin di gunakan Frisca, tapi tak satu pun benar. Frisca belum muncul.


Selama satu jam di habiskan Nathan untuk menunggu kehadiran Frisca. Tapi, gadis itu tak muncul juga. Nathan mulai menggigiti kuku jarinya. Apakah Frisca mungkin lupa?


Nathan memutuskan untuk menunggu lebih lama. Sementara itu, dia mencoba membunuh waktu dengan membuka situs situs di laptop-nya Tapi nama Frisca belum muncul juga.


Satu jam berikutnya, Nathan memandang layar laptop-nya dengan hampa. Mungkin Frisca memang lupa. Nathan mengklik tampilan compose new message, lalu mulai membuat pesan.


To : frisca.thequeen@gmail.com


Subject : Hi!


Frisca, lupa ya, janji kita ketemuan di chat? Nggak apa apa deh, tapi besok ketemuan ya? Banyak yang mau aku obrolin nih!


Miss you always


Nathan.


Nathan menekan tampilan send, lalu menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi. Frisca. Gadis itu sudah membuatnya gila.


Setelah menutup laptop-nya dengan berat hati, Nathan bergerak menuju ranjangnya dan menghempaskan tubuhnya yang lelah. Dia mencoba untuk menutup mata dan sosok Frisca langsung terbayang di pelupuk matanya.


Frisca tidak pernah mau mengirimkan fotonya. Dia juga tidak menampilkan foto pada profil media sosialnya. Gadis itu tidak tahu betapa Nathan benar benar merindukannya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Nathan pun tertidur pulas. Ia memimpikan bagaiman Frisca yang sudah tumbuh dewasa.


__ADS_2