Izinkan Aku Bersama Mu

Izinkan Aku Bersama Mu
BAB 4


__ADS_3

Seperti biasa, Nico memasuki kampus tanpa semangat macam apapun. Tidak ada niat untuk belajar. Dia hanya datang ke kampus untuk menghindari rumah selama mungkin. Tidak ada alasan lain selain itu.


Nico berjalan menuju kelas mata kuliah Telaah Drama Inggris. Nico betul betul muak. Segala paket yang di sajikan dalam mata kuliah itu, baik dosen, diktat membuatnya sakit perut seketika. Selama dua tahun ini, Nico menyesali seluruh kehidupan perkuliahannya.


Nico membuka pintu kelasnya dengan malas. Begitu menampakkan diri, Pak Robin, sang dosen lah yang pertama kali terlihat. Nico menatapnya sebal sesaat. Lalu memutuskan untuk mencari tempat duduk yang paling belakang, yang akan memungkinkannya untuk bisa tidur dengan nyaman. Tapi sebelum Nico sempat bergerak, Pak Robin menghalanginya.


"Look who's coming?" kata Pak Robin dengan sinisnya sambil menatap Nico dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Worn out t-shirt, refugee like pants, dog necklace.. So a next generation. I'm Wondering.. What are you doing in my class, Mr. Nico?"


Nico menatap Pak Robin dengan pandangan menantang. Si pria tua ini merasa dirinya sebagai pemilik kampus ini.


"You have a problem with that?" tanya Nico dingin. Seketika Pak Robin langsung membelalakkan matanya.


"You..!!" seru Pak Robin berang, tapi detik berikutnya langsung mengendalikan diri karena seluruh kelas memperhatikannya. "If you don't have any intention to get along in my class, you may leave now. Pelase.." kata Pak Robin sambil menunjuk ke arah pintu.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Nico melangkah keluar dengan menendang pintu kelas hingga terbuka lebar. Di koridor, dia masih menendang apapun yang di lihatnya. Tempat sampah, kursi, bahkan pot bunga yang membuat tanahnya sampai berhamburan. Nico pun di teriaki oleh semua orang, tapi Nico tak peduli. Saat ini, dia benar benar di luar kendali.


"Nico!"


Seseorang memanggil Nico, tapi Nico sedang tak ingin berbicara pada siapa pun. Yang memanggilnya ternyata Lisa. Lisa, si gadis manis itu berlari sekuat tenaga untuk menyamai langkahnya dengan Nico.


"Co! Lo kenapa sih? Kok semua pada di tendangin?" tanyanya setelah bisa sejajar dengan Nico.


"Apa urusan lo?" bentak Nico tanpa menoleh sedikit pun.


"Co, lo tau si Nathan ada di mana?"


Langkah Nico segera terhenti. Dia mendelik sengit ke arah Lisa yang malah tersenyum. Nico menatapnya seakan ingin membunuh seseorang.


"Apa lo serius mau tau jawaban gue?" tanya Nico keras.


"Nggak" jawab Lisa dengan tenang, karna sudah mengetahui watak Nico dengan baik. "Gue cuma mau bikin lo berhenti berjalan kayak The Flash aja" sambung Lisa, lalu tertawa kecil.

__ADS_1


Nico tidak ikut tertawa. Dia Masih memandang tajam Lisa, yang membuat Lisa segera menghentikan tawanya.


"Gue mau ngomong" kata Lisa akhirnya. "Tapi setelah lo kasih tau gue kenapa lo jalan kayak orang kesurupan gitu"


"Gue udah bilang bukan urusan lo" tandas Nico sambil kembali berjalan. Lisa pun segera mengikutinya.


"Kok bisa begitu? Perasaan gue, dulu apapun yang jadi urusan lo bakalan jadi urusan gue juga" kata Lisa lagi.


Nico berhenti mendadak sehingga Lisa menabrak punggungnya. Nico menatap Lisa lagi, lalu tertawa dengan sinisnya.


"Lo bercanda, kan?" tanyanya.


"Bercanda gimana?" Lisa balas bertanya. "Gue serius, Co. Lo kenapa sih?"


"Gue juga serius biar lo tau" kata Nico mencondongkan wajahnya ke wajah Lisa. Tatapannya menajam. "Lo jangan bercanda lagi. Gue muak dengan tampang sok innocent lo, dengan kata kata lo yang seakan nggak pernah terjadi apa apa" sambungnya, lalu kembali berjalan cepat menuju ke taman.


Lisa terdiam sesaat, lalu segera mengejar Nico kembali. Lisa meraih tangan Nico yang kekar dan membalikkan tubuhnya.


Ares benar benar muak dengan gadis ini, walau juga diam diam ia menyayanginya. Tapi, perasaan itu segera sirna setelah ia mengingat bahwa gadis ini, gadis yang sangat dekat dengan nya setahun lalu, adalah kekasih Nathan.


"Denger ya, Sa. Jangan lo pikir kita masih bisa baik baik aja setelah apa yang lo lakuin terhadap gue! Udahlah, minggir lo sana. Cari sana si atlit tengik itu." Nico berkata dengan dingin, lalu berbalik.


"Co! Gue sama Nathan udah putus!" sahut Lisa, membuat langkah Nico terhenti. "Gue sama dia itu udah putus! Lo denger kan?"


Nico bergeming. Berita itu cukup mengejutkannya. Selama ini, dia menyangka hubungan Lisa dan Nathan baik baik saja.


"Gue baru sadar, kalo yang gue peduliin itu elo. Dan gue nyesel banget udah kehilangan lo" kata Lisa lagi dengan suara yang bergetar.


Selama beberapa menit, yang terdebgar hanyalah isakan tangis Lisa.


"Penyesalan selalu datang belakangan" jawab Nico akhirnya, lalu untuk ke sekian kalinya mencoba pergi lagi. Tapi untuk ke sekian kalinya juga, tangan Lisa mencegahnya.

__ADS_1


"Co, tolong dengerin gue!" jerit Lisa dengan suara yang parau.


Nico menatap Lisa lagi. Gadis yang pernah dekat dengan nya, bahkan satu satunya yang pernah berbicara dengannya. Gadis yang dulu mendapat tempat di hatinya. Tapi semua itu lenyap dan terbakar menjadi kemarahan saat Lisa dengan cerianya mengatakan bahwa dirinya dan Nathan sudah bersama. Ternyata, selama setahun Lisa mendekati Nico, hanyalah untuk mendapatkan seorang Nathan.


Oh, bukan 'hanya' seorang Nathan, tapi seorang cowok yang hebat di segala bidang, baik akademis maupun ekstrakurikuler, sekaligus cowok yang paling populer di kampus.


"Sa, denger. Lo denger baik baik karna gue cuma mau ngomong sekali. Gue nggak mau dengerin apalun lagi. Lo pikir, setelah lo putus sama Nathan dan lo bilang nyesel dan segala macem, lo bisa deket lagi sama gue? Jangan mimpi deh lo!" kata Nico dingin sambil berusaha melepaskan tangan Lisa. Tapi gadis itu memegangnya dengan sekuat tenaga.


"Co, tolong kasih gue kesempatan.." kata Lisa lirih. "Gue mohon.."


Nico menatap Lisa jijik. Dia tak menyangka Nathan sudah memutuskan hubungannya dengan gadis ini. Dulu, Nico mengira Nathan tak akan menyia nyiakan Lisa. Tapi tidak. Nico tidak akan peduli apapun lagi. Kebenciannya pada Lisa sudah terbentuk semenjak Lisa mengatakan bahwa dia mencintai Nathan. Dan karena statusnya sebagai pasangan dari Nathan, Lisa yang tadinya bukan siapa siapa mendadak menjadi cewek terpopuler saat itu. Lisa jelas menikmatinya sehingga melupakan keberadaan Nico.


Tetapi dari semua itu, yang paling membuat Nico muak adalah, Lisa mengetahui ada persaingan di antar Nico dan Nathan. Maka dari itu, dia mendekati Nico dengan tujuan membuat Nathan cemburu. Nico tahu betul hal itu. Hal bahwa selama ini Lisa sudah memperalatnya.


"Sa, Lo tau gue bukan tipe orang yang ngasih kesempatan kedua. Jadi lo harusnya tau nggak ada gunanya lo ngelakuin yang kayak begini" kata Nico. Lalu di sentaknya tangan Lisa sehingga terlepas dari tangannya.


"Nico, gue nyesel! Gue nyesel, oke? Gue nyesel! hiks..hiks..." sahut Lisa putus asa. Gadis itu mulai menangis lagi.


Nico mencoba untuk tidak menatapnya. "Bagus kalo lo nyesel. Tapi sayang, itu nggak ada artinya lagi buat gue."


"Co! Gue kangen elo. Gue kangen saat saat dulu kita main bareng!" sahut Lisa lagi. Nico meliriknya tajam.


"Sa, lo kenapa sih? Lo pengen balik lagi sama Nathan, tapi nggak tau caranya? Mau gunain cara licik lai kayak dulu? Udah nggak populer lagi rupanya?" bentak Nico, yang membuat Lisa menangis lebih keras.


Nico membuang mukanya. Kalau saja Lisa menangis bukan karena hal sepenting ini, Nico pasti sudah memeluknya untuk menenangkannya. Tapi Nico pantang menyentuh apapun yang sudah di sentuh Nathan.


Lisa tiba tiba melompat ke arah Nico dan memeluknya erat. Sejenak, Nico terdiam karena terkejut. Tapi detik berikutnya, dia tersadar dan melepas pelukan Lisa. Lisa masih terisak.


"Co, apa bener nggak ada jalan buat kita balik kayak dulu?" tanya Lisa di sela sela tangisnya.


Nico menghela napas. "Bener" katanya mantap. "Jadi, jangan sangkut pautin gue ke dalam urusan lo sama Nathan lagi."

__ADS_1


Nico meninggalkan Lisa yang menatapnya sedih. Nico tak mau tahu lagi soal Lisa dan Nathan. Cukup sudah semua pengkhianatan yang di alaminya.


__ADS_2