Izinkan Aku Bersama Mu

Izinkan Aku Bersama Mu
Bab 16


__ADS_3

Pipi kiri Nico di tampar lagi, kali ini cukup keras sampai membuat bibir Nico robek dan gusinya berdarah. Nico menatap ayah yang sudah terenga engah. Ayah punya penyakit jantung.


“Apa nggak capek kamu bikin ayah marah, Co?” tanya ayah setelah emosinya mereda. “Udah, sana keluar!” perintah ayah tanpa menunggu jawaban Nico. “Ayah nggak pengen denger kamu bikin masalah apapun lagi.”


Nico melangkah keluarh dari kamar dengan darah menggelegak di kepalanya. Frisca ada di ruang keluarga, begitu pula ibu dan Nathan. Frisca langsung menekap mulutnya sendiri saat melihat Nico. Ibu juga terlihat khawatir, tapi ibu tak pernah melakukan apapun dan Cuma meremas remas tangannya sendiri.


“Co, kamu baik baik aja?” Frisca menghampiri Nico. “Sini aku bersihin—“


Tangan Frisca sudah di pegang oleh Nathan sebelum sempat ke wajah Nico. Frisca menoleh kepalanya.


“Masuk kamar Fris. Udah malem, kamu harus tidur.” Frisca menggiringnya kekamar Nico. Frisca hanya bisa mengikutinya tanpa mengalihkan pandangannya dari Nico.


Nathan menatap Nico benci setelah Frisca masuk ke kamar, lalu masuk ke kamarnya sendiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Setelah Nathan menghilang ke dalam kamarnya, Nico bergerak menuju sofa yang sudah beberapa hari ini menjadi tempat tidurnya. Dia duduk di sebelah ibunya yang terlihat salah tingkah. Mendadak, Ibu nya bangkit.


“Tidur ya, Co” katanya, lalu masuk ke kamarnya tanpa melihat Nico.


Nico merebahkan dirinya ke sofa, lalu seketika semua lukanya terasa menyakitkan. Luka luka saat kecil, luka luka saat remaja, luka luka yang baru saja berbekas, semuanya mendadak terasa oleh Nico.


Pipinya yang berdenyut terasa hangat karena air matanya. Nico tak berusaha menghapusnya. Semaikn banyak air mata yang keluar. Yang bisa Nico lakukan hanyalah membiarkannya.


*****


Nico terbangun sangat siang keesokan harinya. Semua keluarganya sudah sibuk dengan aktivitasnya masing masing, begitu pula Frisca. Begitu Nico membuka mata dan melemparkan pandangan ke arah meja makan, Nico menangkap Frisca sedang memperhatikannya. Ternyata sudah waktunya makan siang


“Makan siang, Co!” kata ibu. “Tapi lukanya di bersihin dulu ya.”


Nico merasa tidak berselera untuk makan. Dia masih merasakan darah di mulutnya. Tapi Nico akhirnya bangkit untuk mencuci mukanya dan membersihkan lukanya. Setelah itu, Nico bergabung dengan semua orang di meja makan. Nico tidak berusaha melihat Frisca. Sebenarnya, Nico berusaha untuk tidak melihat siapa pun dan berkonsentrasi pada piringnya. Semus rang sepertinys bersikap seolah tak pernah terjadi apa pun.

__ADS_1


Makan siang berjalan begitu tenang. Tak seorang pun ingin membuka pembicaraan. Nico yang pertama kali menyufahi makannya, bergerak ke gazebo untuk menjauhkan diri dari semua anggota keluarganya.


Baru beberapa menit Nico menatap taman, Frisca muncul. Nico sedang sangat tak ingin bertemu dengannya, terutama setelah semalam Nico di habisi karena dirinya. Tampak tak menyadari itu, Frisca mengambil tempat duduk di depan Nico. Nico harus mengalihkan pandangannya ke arah kolam renang.


“Co, aku udah cerita yang sebenernya sama mereka.” Kata Frisca. “Dan mereka percaya sama aku.”


Nico mengangguk anggukkan kepala. “Mereka percaya lo tapi nggak kasih kesempatan buat gue untuk cerita.” Gumam Nico, tak tampak kecewa. “Dan siapa pun terlalu gengsi untuk meminta maaf.”


Frisca tampak serba salah setelah Nico mengatakannya. Nico melirik Frisca sebentar. “Lo nggak perlu ngerasa bersalah. Gue udah terlalu terbiasa sama itu semua.”


“Co, aku minta maaf,” sesal Frisca. “Gara gara aku--“


“Bukan gara gara lo.” Sambar Nico cepat. “Nggak ada lo juga, ini selalu terjadi kok. Lo Cuma ada di tempat dan waktu yang salah.”


Frisca mengamati sosok yang terlihat tegar itu. Nico sebenarnya menderita. Frisca bisa merasakan itu.


“Gue baik baik aja.” Sergah Nico sambil mengernyitkan dahinya.


“Bohong.” Kata Frisca tegas. “Kamu sebenernya sangat butuh bantuan. Aku mau bantu kamu.”


“Lo ngomong apa sih, Fris? Gue nggak butuh bantuan apa pun apalagi dari seorang yang nggak berarti buat gue.” Sahut Nico ketus lalu meninggalkan Frisca.


*****


“Co, gue mau ngomong.”


Nico menoleh ke arah Nathan yang lagi menyambutnya di pintu, lalu bersikap seolah menunggu Nathan berbicara.


“Nggak di sini.” Kata Nathan lagi, lalu berjalaan ke pintu depan menuju teras. Nico mengikutinya.

__ADS_1


“Apaan?” tanya Nico yang berjalan di belakang Nathan.


Mendadak, Nathan berbalik dan dengan secepat kilat meninju wahag Nico. Nico yang tak sempat mengelak terhuyung ke belakang lalu bergerak dengan buas ke arah Nathan. Nico sudah menunggu begitu lama untuk melakukannya, sekarang kesempatan itu datang. Kesempatan untuk menghajar Nathan.


Nico menarik kaus Nathan, lalu meninju perutnya. Nathan tak pernah bisa berkelahi dengan Nico. Nathan tidak sekuat Nico. Setelah meninju perut Nathan, Nico meninju wajah nya.


Nico terengah engah menyaksikan Nathan terjatuh. Nathan menatap Nico sengit.


“Kenapa lo, banci?” sahut Nico sambil menyeka darahnya dengan punggung tangan nya, karena luka semalam terbuka lagi daripada kerasnya tinjuan Nathan.


“Kalo lo mau ngerebut Frisca, jangan pake cara licik!” sahut Nathan tanpa bisa bangkit karena perutnya terasa kram. “Sok sok pake masalah lo biar dia kasian!”


Nico terdiam sesaat saat menyadari kebenaran dari perkataan Nathan. Frisca kasihan terhadapnya karena dia adalah si anak yang terbuang, anak yang bermasalah, anak yang butuh pertolongan, bukan anak yang keren, berbakat, dan mempunyai dunia di tangannya seperti Nathan.


“Bangun Lo,” Nico menarik kaus Nathan dan mengangkatnya dengan sekali hentakan. “Kalo lo mau Frisca, ambil aja. Gue nggak tertarik.” Kata Nico lagi sambil menghempaskan Nathan sehingga dia kembali terduduk di lantai teras.


Nico menatap Nathan benci, lalu berbalik, bermaksud kembali masuk ke rumah. Tapi, dia malah mendapati Frisca di ambang pintu, sedang menatapnya dengan perasaan kecewa. Nico membalas tatapan itu sebentar, lalu memutar haluan, melewati Nathan, kemudian menghilang di balik pagar.


Frisca menatap punggung Nico sampai menghilang, lalu menghampiri Nathan yang tampak kepayahan.


“Kamu nggak apa apa, Nat?” tanya Frisca sambil membantu Nathan berdiri.


“Nggak apa apa,” kata Nathan sambil meringis. “Aku juga salah, pake acara mukul dia. Jelas aja dia bisa bunuh aku.”


“Kenapa kamu mukul dia?” tanya Frisca heran.


“Karena dia adalah dia.” Jawab Nathan. “Apa kamu nggak pengen mukul dia sekali aja?”


Sebenarnya, Frisca ingin sekali memukul Nico karena perkataannya tadi. Nico mengatakan bahwa dia tidak tertarik kepada Frisca dan menyerahkannya begitu saja kepada Nathan. Padahal, semalam Frisca yakin Nico sudah kembali menjadi Nico sepuluh tahun yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2