
“Makasih pak.” Kata Frisca setelah memberi uang kepada sopir taksi.
Frisca menoleh ke belakang dan mendapati sebuah kelab malam yang ramai pengunjung degan papan nama besar “The Club”. Walaupun demikian, kelab ini tidak seperti kelab kelab mewah seperti yang sering Frisca lihat di TV di Amerika, tapu lebih seperti kelab untuk kalangan menengah ke bawah mencari mencari hiburan.
Frisca melangkahkan kaki ke pintu kelab yang di jaga seorang laki laki bertubuh besar. Sebuah tangan tahu tahu menjawil lengan Frisca.
“God!” seru Frisca kaget.
Frisca mendelik ke arah segerombolan preman yang kira kira seusiany. Anak anak itu menatap balik Frisca dengan tatapan bernafsu. Frisca bergidik sebentar, lalu berlari menuju penjaga pintu.
“ID” kata penjaga itu dengan suara berat.
Frisca menyerahkan pengenalnya yang berupa kartu pengenal penduduk London. Penjaga itu mengernyit sebentar, lalu memindai Frisca. Detik berikutnya, dia mengedikkan kepala yang artinya membolehkan Frisca Masuk.
Frisca memasuki tempat itu dengan riang, kepalanya di penuhi pikiran pikiran bahagia karena akhirnya akan bertemu dengan Nico. Dia kemudian mengambil tempat di depan meja bar. Kelab ini penuh sekali.
“Ya, berikutnya, kita akan ber-headbanging bersama The Forsaken!” seru sang MC, membuat Frisca menoleh ke arah panggung.
Nico tampak bergerak ke atas panggung tanpa ekspresi, sementara semua orang bersorak riuh. Frisca tiba tiba paham, Kelab ini ternyata tempat berkumpulnya orang orang yang mencintai rock. Hampir semua orang yang ada di sini berdandan ala punk dan rock star, sementara Frisca mengenakan blus berenda dan rok mimi yang juga berenda. Pantas dari tadi ada saja yang terus memperhatikannya.
Walaupun demikian, Frisca ikut bersorak saat Nico bergerak menuju mikrofon. Nico menarik napasnya sebentar, lalu menghembuskannya sambil menyapukan pandangan ke arah kerumunan di depan panggung.
Detik berikutnya, di tersentak.
Frisca. Ada di depan meja bar, tepat di depannya. Nico memejamkan matanya berharap ini sekadar ilusi, tapi gadis itu masih ada di sana saat ia kembali membuka matanya, sangat kentara dengan baju warna pink-nya. Frisca melambai ke arah Nico.
Selama beberapa detik, Nico serasa mati rasa, sampai Vino menyenggolnya.
“Co, ngapain lo?” bisiknya.
Nico tersadar, lalu sekali lagi menarik napas panjang. Nico akan bersikap seolah tidak ada siapa pun di depannya. Tidak ada Frisca. Sama seperti malam malam sebelumnya.
Tapi.. sedang apa dia di sini?
“Co!” bisik Vino lagi, dan Nico tahu dia harus memulai pertunjukkannya.
“Oke.” sahut Nico dengan suara berat khas perokoknya. “Selamat malam. Malam ini, The Forsaken bakal ngebawain lagu baru, dan lagu ini agak slow. Buat yang mau head banging, sorry udah mengecewakan." Perkataan Nico barusan di sambut keluhan bercanda dari berbagai pihak. “Judulnya, I Don’t Want Her.”
__ADS_1
Penonton bersorak riuh dan mulai menyalakan korek masing masing saat lampu di redupkan. Frisca sampai menganga. Dia tidak saja mengikuti musiknya. Ternyata The Forsaken sudah memiliki fans tetap. Frisca ingin ikut emberikan cahaya, tapi dia tidak mempunyai korek api.
“Ten years ago, there was a girl
She was light a star in the sky
She gave me strength, gave me hopes
We had a promise to be
Always together
But then she went away
Far, far away, without a trace
I’ve been waiting for her everyday
Dreaming of her every night
Picturing her face”
Nico menaap Frisca lurus lurus selama menyanyikan lagu itu. Dia tak punya pilihan lain. Nico tidak menyangka Frisca akan datang. Nico juga tidak menyiapkan lagu lain.
“Now she comrd and idon’t want her
She’s so fine and all that, but that don’t impress me
She said she’d come back but she never come
Now she returns, but I don’t want her”
Frisca menangis lebih keras. Lagu ini di ciptakan Nico. Pasti lagu ini di ciptakan berdasarkan perasaannya.
“Hes’s staring at me and sayin’
I care about yout, I really do
__ADS_1
But that doesn’t work to my frozen heart
She made it that way, she broke it once
And now, I don’t want her anymore”
Nico menyudahi lagunya, dengan permainan gitarnya yang mengagumkan. Nico berusaha keras untuk bermain gitar dan chord.
Semua orang bertepuk tangan riuh begitu Nico selesai membawakan lagu. Nico menunduk untuk memberi penghormatan atas apresiasi para penontonnya, lalu turun dari panggung dan berderap menuju Frisca.
Frisca sendiri sudah berhenti menangis, tapi masih menggigit bibirnya. Dia menatap Nico yang sekarang sudah berdiri tepat di depannya dengan ekspresi marah.
“Ngapain lo? Sama siapa lo ke sini? Dari mana lo bisa tau gue ada di sini?” cecar Nico penuh emosi.
Frisca tidak langsung menjawab. Dia menatap Nico lama. “Co.” katanya lirih. “Apa bener? Apa bener kamu udah nggak menginginkan aku lagi?”
Nico menatap Frisca sejenak, lalu membuang pandangannya. “Lo denger sendiri kan gimana lagunya.” Kata Nico dingin. “Sekarang, jawab pertanyaan gue. Gimana lo bisa sampe di sini?”
“Co, aku nggak ada maksud nggak ngasih kamu kabar!” sahut Frisca. Tangisnya kembali pecah, membuat beberapa pengunjung menoleh.
“Jadi?” tanya Nico. Dalam hatinya, dia sangat ingin mendengarkan penjelasan Frisca. Secuil sinar harapan tiba tiba muncul di dalam hatinya yang gelap.
Frisca tidak menjawab walaupun ingin. Air matanya terus mengalir tanpa bisa di kendalikannya. Nico segera tahu Frisca sebenarnya tak ingin memberikan penjelasan apa pun.
“Lo tau?” kata nico sambil memandang tajam Frisca yang masih terisak. “Persetan dengan ini semua. Lo nggak harus kasih penjelasan apa pun ke gue.”
Nico beranjak pergi, tapi Frisca menahannya. Darah Nico kembali berdesir saat tangan Frisca menyentuh tangannya.
“Co, ayok pulang.” Kata Frisca di tengah isakannya.
Nico memicing Frisca. Gadis ini jelas tak paham dengan kata kata Nico barusan.
“Gue ada kerjaan. Gue balik kalo gue udah mau balik.” Nico menepis tangan Frisca. “Lo pulang aja sendiri.”
“Co, ini bukan tempat yang cocok buat kamu.” Frisca memperhatikan beberapa laki laki yang sedang merepet karena mabuk.
“Oh ya?” sergah Nico. “Terus di mana tempat yang cocok buat gue, hah? Di rumah gitu?” tawa Nico membahana, membuat Frisca bingung. Nico mendekati Frisca dan memandangnya tepat di matanya. “Lo denger ya. Ini tuh satu satunya tempat yang cocok buat orang brengsek kayak gue. Lo yang nggak cocok di sini.”
__ADS_1
Frisca membalas tatapan Nico dengan berani. “Kamu pikir aku nggak bisa kayak mereka?” tanya Frisca dengan emosi. “Mas, bir nya segelas.”