
“Mau ke mana kamu?” jerit ayah begitu Nico memasuki rumah. Jarum jam baru saja bergerak ke pukul sembilan malam.
“Mau ke kamar!” jawab Nico ketus sambil bergerak cepat menuju kamarnya.
“Seharusnya kamu nggak usah pulang sekalian!” sahut ayahnya lagi. “Sana tidur di luar kamu!”
“OKE!” Nico balas menyahut dengan emosinya dari dalam kamar. Dia memasukkan beberapa pakaian dan buku ke ranselnya, lalu keluar kamar dan berderap menuju pintu.
“HEH! Anak nakal! Mau ke mana lagi kamu?” kata ayah terdengar semakin berang karena Nico malah menurutinya.
“Katanya tidur di luar! Ya udah aku jabanin!” kata Nico lalu membanting pintu, lalu meghilang di kegelapan malam.
“Dasar anak kurang ajar!” sahut ayah yang langsung di tenangkan oleh ibu.
Ibu melirik cemas ke arah Nathan. “Nat, Frisca mana?”
“Tadi sih katanya mau ke kamar.” Kata Nathan lalu memeriksa kamar Nico. Tak ada siapa pun. Nathan bergerak ke arah kamar mandi, tetapi juga kosong.
Menyadari ada hal yang tidak beres, Nathan segera menyambar jaketnya dan berlalri ke luar rumah, menyusuri jalan kompleksnya. Langkah Nathan terhenti di depan taman. Frisca tampak sedang terduduk di lapangan basket sambil terisak.
Dada Nathan terasa sesak. Dengan langkah cepat Nathan mendekati Frisca, melepas jaketnya lalu meletakkannya di atas bahu Frisca yang kelihatan berguncang.
Mendadak, Frisca bergeming. Dia tahu itu Nathan, walaupun dia belum melihatnya. Nico tidak akan melakukan hal seperti ini.
Nathan sendiri duduk di depan Frisca, lalu mengusap usap pelan kepalanya. Nathan tahu itu pasti karna perbuatan Nico. Pasti Nico telah megatakan sesuatu yang menyakiti hati Frisca.
Sesuatu tentang melupakannya.
*****
Nico belum pulang semenjak kejadian semalam. Frisca menatap keluar jendela depan, berharap sosok Nico akan muncul dari balik pagar. Tapi Nico tak kunjung datang.
“Udah, nggak usah khawatir, Fris.” Hibur tante Monika. “Nico pasti pulang. Dia sering kabur kalo lagi banyak masalah.”
Frisca hanya mengangguk sambil tersenyum miris, tapi tidak beranjak dari tempatnya semula. Matanya masih menatap keluar jendela.
Sementara itu, Nathan mengawasinya dari meja makan, tidak habis pikir dengan jalan pikiran Nico. Nico bahkan kabur dari rumah saat Frisca sudah susah susah datang dari London. Nathan mendesah lalu melangkah menuju Frisca.
__ADS_1
Nathan menepuk pundak Frisca pelan. “Fris, kamu kok melamun terus sih?” tanya Nathan.
Frisca memaksakan senyum, dan itu tentu saja membuat Nathan sedikit sakit hati.
“Kita jalan yuk? Biar kamu nggak bosan. Masak dari London ke sini kerjannay Cuma di rumah mulu sih.” Kata Nathan.
Frisca tampak menimbang nimbang sebentar, lalu sedikit menoleh ke arah Nathan. “Boleh!”
“Ini tempat nongkrong anak anak gaul jakarta.” Kata Nathan begitu mereka masuk ke salah satu mall terkenal di jakarta.
Frisca memandang mall itu tanpa berminat. Sebenarnya, Frisca lebih mengharapkan tempat tempat yang lebih nyaman seperti café.
“Nat.” Frisca mencegah Nathan memasuki mall itu. “Kita ke kampus kamu aja, yuk!”
“Kampusku? Ngapain?” tanya Nathan bingung.
“Ya, aku pengen liat aja kayak apa tempat kamu sama Nico kuliah.” Kata Frisca dengan wajah memohonnya. “Ya?”
“Iya deh.” Nathan akhirnya mengalah. “Apa sih yang nggak buat sang ratu?” godanya sambil mengetok kepala Frisca.
“Asyikk.!!” seru Frisca senang. Dengan demikian dia bisa mengetahui tempat Nico kuliah, dan dia berharap Nico ada di sana.
*****
“Wah, gede juga kampus nya ya!” komentar Frisca, sambil mengagumi beberapa bangunan yang tampak menjulang ke langit dan taman besar dengan lapangan basket luas di tengahnya.
“Ayo, kita jalan jalan,” ajak Nathan sambil menggandeng Frisca.
Sesekali Nathan melirik Frisca ketika semua orang menatap mereka. Frisca sangat cantik di bandingkandengan semua gadis di kampus ini, dan Nathan bangga karenanya.
“Nathan!” sahut seseoranag, membuat Nathan dan Frisca menoleh.
Lisa berlari lari kecil ke arah mereka, raut wajahnya yang tadi tampak ceria berubah menjadi bingung saat melihat Frisca. Nathan yang belum melepaskan tangannya dari Frisca membuat dahi Lisa berkerut.
“Hai, Sa!” sapa Nathan santai.
“Hai.” Balas Lisa dingin, lalu melirik Frisca yang tersenyum kepadanya. “Hai,” sapa Lisa kepada Frisca.
__ADS_1
“Halo.” Frisca mengulurkan tangannya yang segera di sambut Lisa. “Frisca, temen Nathan dan Nico.”
“Lisa.” Lisa mengerling Nathan. “Temen Nathan dan Nico? Kok gue nggak pernah liat?”
“Oh, temen waktu kecil maksudnya.” Kata Frisca lagi.
“Oh.” Lisa sekarang melirik ke tangan kiri Frisca yang masih di genggam Nathan.
“Ng.. Lisa liat Nico, nggak?” tanya Frisca, membat ekspresi Lisa menjadi curiga.
“Liat sih tadi. Emangnya kenapa?” tanya Lisa.
“Dia kuliah?” sahut Frisca, hampir berteriak karena terlalu senang. “Terus dia kemana?”
“Mana gue tau?” kata Lisa dengan suara yang terdengar ketus. “Hm.. gue duluan ya, ada kelas soalnya. Dah!” katanya sambil bergegas pergi.
Masih bahagia karena kabar dari Lisa, Frisca tersenyum lebar. Nathan melepaskan genggaman nya dengan sedikit menghentak. Frisca menoleh ke arah Nathan.
“Sekarang, aku tau kenapa kamu ngajak aku ke kampus,” Nathan berkata dingin.
Frisca menatap Nathan dengan perasaan berasalah. “Nat, Nico udang nggak pulang dari tadi malem, lho. Apa kamu nggak khawatir?”
“Kamu nggak perlu khawatir, dia tuh udah gede! Bisa jaga diri. Lagian kenapa siapa sih yang mau cari gara gara sama dia? Dia tuh preman di kampus ini.” sahut Nathan mulai emosi.
Frisca terdiam beberapa saat. Sadar kalau dia barusan lepas kendali, Nathan menarik napas panjang dan menghelanya.
“Sorry, tadi aku kelepasan,” sesal Nathan. “Fris, kamu nggak usah ceman soal dia, oke? Dia pernah kok nggak pulang sampai tiga hari, dan pulang nya juga dia baik baik aja kok. Jadi kamu tenang aja, oke?”
Frisca menatap Nathan tidak yakin, tapi akhirnya mengangguk. Nico memang jagi berkelahi. Pasti tidak akan terjadi apa apa padanya. Tapi bagaimana kalau dia mencelakakan dirinya sendiri? Semalam Nico pergi dalam keadaan marah, bukan tidak mungkin dia akan melakukan hal yang bodoh.
“Nathan!” seru Odi dari kejauhan. Dia berlari menuju Nathan dan Frisca.
“Kenapa, Di?” tanya Nathan.
“Kenapa? Lo tanya kenapa? Ingat latihan, Nat!” sahut Odi memutar bola matanya. “Tadi si Tian udah kegirangan pas tau lo mau di ganti! Lo harus ngelakuin sesuatu Nat!”
“Di, santai aja lah. Kemaren kan gue udah bilang, kalau gue nggak keberatan.” Kata Nathan sambil memberi isyarat tentang kehadiran gadis di sebelah matanya.
__ADS_1
Odi melirik Frisca yang tampak sedikit bingung.
“Tapi Nat, Lo bisa kehilangan posisi itu selamanya! Reno kecewa berat karen lo tiba tiba ngundurin diri.” Desak Odi membuat Nathan terdiam selama beberapa detik, memikirkan wajah pelatihnya yang galak itu.