Izinkan Aku Bersama Mu

Izinkan Aku Bersama Mu
BAB 2


__ADS_3

"Hai Nat!"


Nathan mencari sumber suara itu. Dia berbalik, dan mendapati Lisa sedang berlari lari kecil ke arahnya dengan riang. Nathan tersenyum kepadanya. Lisa masih belum berubah semenjak Nathan memutuskan hubungan dengannya.


"Hei" sapa Nathan


Lisa menatap Nathan dengan kedua mata bulatnya. Nathan lantas mengalihkan pandangannya, karena kenyataannya dia masih tidak bisa menahan keinginannya untuk memeluk Lisa setiap kali melihat sepasang mata yang bersinar itu.


"Kenapa lo?" tanya Lisa. "Kok lesu amat sih"


"Oh ya?" ucap Nathan sambil tertawa kecil.


Lisa mengangguk, lalu mulai berjalan. Nathan mengikutinya. Mereka mengambil jurusan yang sama, dan juga kelas yang sama.


"Kenapa? Marahan lagi sama Nico?" tanya Lisa lagi.


Mendengar pertanyaan Lisa, Nathan mendengus kesal. "Kapan sih gue pernah nggak marahan sama dia?"


Lisa pun menatapnya dengan pandangan serius.


"Sa, gue kan pernah bilang ke lo, kalo gue sama Nico itu udah di takdirkan nggak bisa baikan. Kita malah udah berantem sejak masih di perut ibu gue. Tendang tendangan terus tonjok tonjokkan malah Sa" Kata Nathan lagi.


Lisa terbahak saat mendengarnya. "Hiperbola banget sih lo!" sahut Lisa sambil mendorong Nathan.


"Seriusan Sa" Nathan balas mendorong Lisa.


"Udah deh" kata Lisa setelah sadar dari kegeliannya. "Bilang aja sebenarnya lo sayang sama Nico kan. Kata orang ya, benci itu artinya peduli. Peduli itu artinya kan sayang"


"Idihh.. kata siapa tuh Sa?" tanya Nathan sambil menyentil kepala Lisa pelan. Lisa hanya mengedikkan bahu sambil melirik penuh arti ke Nathan.


Nathan pun menghelas napas, lalu berhenti berjalan. Dia memegang kedua pundak Lisa dan menatapnya lekat lekat. "Sa, kalo ada orang yang paling gue benci di dunia ini, itu udah pasti Nico".

__ADS_1


****


"Nico!!"


Nico membuka matanya dengan malas. Suara ayah membuatnya terasa mual seketika.


"NICO!!" teriak ayah lagi sambil menggedor gedor pintu kamar Nico.


"Apaan?" sahut Nico malas tanpa beranjak dari tempat tidurnya.


"Apaan,, Apaan?? Waktunya makan malam bersama! Cepat keluar Nico!" sahut ayah lagi.


Nicl pun bangun dengan sangat terpaksa, lalu membuka pintu kamarnya. Seluruh keluarganya tampak sudah berkumpul di meja makan. Walaupun demikian, Nico lebih merasakan suasana yang begitu suram di bandingkan suasana yang hangat. Tanpa mencuci muka, Nico langsung mengambil tempat duduknya.


"Apa ayah harus selalu teriak teriak manggil kamu setiap kita mau makan Nico??" tanya ayah ketus sesaat Nico menampakkan dirinya.


"Kalian kan bisa mulai makan tanpa aku" jawab Nico sambil memandang ayahnya dingin.


"Kayak yang ada pembicaraan keluarga aja" gumam Nico sengit.


Ayah tampak tak memedulikan kata kata Nico. Dia mengalihkan pandangannya kepada Nathan yang sedang asik melahap ayam gorengnya.


"Gimana kuliah mu, nak?" tanya ayah kepada Nathan. Nico tersenyum sinis mendengarnya.


"Oh sejauh ini baik kok yah. Dan bentar lagi mau ujian." jawab Nathan tenang.


"Oh, gitu.. Belajar yang rajin ya. Biar IP-mu nggak merosot kayak kakak mu itu" sindir ayah membuat Nico melotot.


"IP-ku nggak ada merosot" sambar Nico.


"Oh ya.. sama kayak semester sebelumnya, tapi ya begitu sama jeleknya" kata ayah sambil melemparkan pandangan masam. "Kamu tau Co, kalo kamu begitu terus, kamu bisa bisa di DO tau"

__ADS_1


"Cepat atau lambat aku juga bakal di DO kan?? Aku cuma mempermudah prosesnya aja kok" tanda Nico dengan dingin.


"IP mu yang cuma dua koma satu itu nggak bisa membanggakan siapa pun Nico. Apa kamu nggak malu, hah??" intonasi ayah sekarang mulai naik.


"Malu? untuk apa malu? itu udah hasil terbaik yang aku bisa" jawab Nico tak peduli.


Ayah mendengus, "Bohong. Kamu bisa kok lebih baik dari itu. Dasar kamu aja yang nggak mau berusaha. Kamu cuma mau cari sensasi aja terus supaya kamu lebih di perhatikan."


Nico memandang ayahnya tak percaya. "Aku ragu sensasi apa yang bisa aku lakuin supaya lebih di perhatiin. Mungkin aku harus ngebakar rumah ini kali ya, baru bisa di perhatiin." jawab Nico ketus, lalu meninggalkan meja makan, tak berminat untuk makan malam dengan situasi seperti ini.


"Nico!! Kembali ke sini sekarang juga!" sahut ayah garang.


Nico tak memedulikan teriakan ayahnya. Dengan langkah besar dia masuk ke kamarnya, lalu membanting pintu dengan keras. Dia melangkah menuju tape dan menyetel CD Disturbed dengan volume maksimum, lalu dengan kalap membanting benda benda yang di lihatnya.


"Brengsek!!" serunya setelah dia kehabisan tenaga.


Nico terduduk di samping tempat tidur, lalu menjambak jambak rambutnya. Dunia begitu tak adil padanya.


Ayah memang menyebalkan. Ibu juga menyebalkan. Nathan lebih menyebalkan. Seisi rumah ini menyebalkan. Semuanya selalu bersikap seperti keluarga kecil yang bahagia. Nico merasa dia tidak di terima di keluarga ini. Nico selalu saja tampak berbeda.


Nico membantingkan tubuhnya ke tempat tidur, lalu mulai menyesali keberadaannya di dunia ini, sama seperti malam malam sebelumnya.


*****


Nico perlahan membuka pintu kamarnya dan mendapati ruang keluarga pagi ini sudah kosong. Nico mensyukuri keadaan tersebut.l, karna tak mau harinya di awali oleh suara salah satu anggota keluarganya.


Setelah menghembuskan napas lega, Nico berjalan menuju lemari es. Di bukanya lemari es itu, tapi ternyat lemari es itu kosong. Tidak ada susu, tidak ada sereal, tidak ada juga roti. Nico membanting pintu lemari es dengans sekuat tenaga.


"Wah.. wah.. Bisa rusak semua barang barang elektronik di rumah ini kalo lo nyentuhnya pake tenaga dalam terus." komentar Nathan yang tiba tiba muncul dari balik lemari es.


Nico menatapnya sebal. "Lo bisa beliin lagi. Kan lo udah pasti sukses." kata Nico ketus. "Selalu ada hukum alam. Ada yang ngerusak, ada juga yang ciptain." sambung nya sambil melangkah keluar dengan juga membanting pintu.

__ADS_1


Nathan menatapnya dengan geleng geleng kepala.


__ADS_2