
"Nico! Bangun! Udah jam berapa ini?" seru ibu sambil mengetuk pintu kamar Nico dengan keras.
Nico tersentak, lalu terbangun. Dengan segera, dia meraih jam wekernya. Jam itu ternyata sudah mati di angka tujuh. Sialan. Rencana pelariannya yang sudah di pikirkannya secara matang lenyap sudah. Mau tidak mau Nico harus menghadiri upacara pembantaian hari ini.
Nico bangun dengan seribu satu kutukan, sebelum membuka pintu untuk ibu. Ibu gang terlihat sudah sangat rapi terheran menatap Nico.
"Kenapa kamu baru bangun jam segini? Ayo sana cepetan mandi!" ucap ibu histeris lalu mendorong tubuh Nico untuk masuk ke dalam kamar mandi. Tapi, sebelum sempat masuk ke kamar mandi, bel berbunyi.
"Biar aku--"
"Ahh!!" seru ibu yang membuat Nico terkaget, sekaligus memutuskan kalimat yang akan di ucapkannya. Nico menatap ibu yang seperti kebakaran jenggot.
"Udah Co, nggak usah mandi! Kelamaan! Kamu duduk aja di sana cepet!" serunya panik, lalu dengan bergegas menarik Nico ke ruang tamu yang terlihat luar biasa ganjil.
Tak seperti biasanya, ruang tamu itu penuh dengan pita, balon, dan juga makanan. Yang terlihat paling aneh adalah kue besar yang dengan angka dua puluh di atasnya. Cukup lama waktu yang di butuhkan Nico untuk menyimpulkan bahwa ada seseorang yang sedang berulang tahun. Saat melihat Nathan yang tampak berbunga bunga, barulah dia menyadari bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Nathan. Dan oh, benar saja, itu juga berarti dirinya.
"Selamat Ulang Tahun!" seru ibu sambil mencium kedua pipi Nico. Nico sendiri belum bergerak, masih shock dengan keadaan yang kacau ini.
Tak lama kemudian, ayah muncul dari pintu depan, lalu menyalami Nico dengan canggung, seolah Nico baru saja berhasil membaca sebuah buku sampai selesai. Lantas Nico duduk di sebelah Nathan yang tak tampak ingin menyalaminya.
"Co! Kok bengong? Bukannya seneng." kata ibu.
"Seneng kok bu." kata Nico berbohong. Sebenarnya dia masih sangat terkejut. Seluruh paket ini: hari Senin, ayah belum berangkat ke kantor, Nathan yang bolos kuliah, kue besar berangka dua puluh, hari ulang tahunnya, semuanya itu membuat ia luar biasa bingung.
"Oya, tadi siapa yah yang ngebel?" tanya Nathan.
"Hah? Oh, bukan siapa siapa kok. Tukang koran." kata ayah cepat cepat. Nico memandangnya tajam. Jelas saja bukan tukang koran. Nico malah baru melihat kalau sudah ada koran pagi ini di meja makan.
__ADS_1
"Eh, ngomong ngomong kalian kok nggak saling kasih selamat sih?" tanya ibu lagi, yang berusaha untuk mengalihkan arah pembicaraan.
Nico dan Nathan saling pandang bersamaan, laku secara bersamaan lagi membuang muka.
"Selamat deh!" gumam Nathan tak jelas.
"Lo juga selamat!" balas Nico.
Ayah dan ibu memandang mereka bergantian, tapi langsung maklum. Nico sendiri menyadari bahwa ada yang aneh dari ayah pagi ini. Tampaknya dia sedang senang atau apa, karena tumben tak ada sindiran sindiran yang biasa di lancarkannya setiap pagi.
"Yah, sekarang aja nih?" tanya ibu sambil menatap ayah dengan senyum penuh arti. Nico dan Nathan sudah menyangka bahwa ada yang tidak beres.
Ayah pun mengangguk, lalu bangkit. "Ya sudah, berhubung tidak ada acara yang lain lagi, ayah mau kasih hadiah buat kalian."
Nico mendengus. Sejak kapan ayah membeli hadiah saat ulang tahun? Untuk Nathan itu masih mungkin, tapi ayah seringkali berpura pura melupakan hari ulang tahun Nico yang-memang sangat kebetulan sekali-sama dengan hari ulang tahun Nathan.
"Iya bener. Tapi kali ini hadiahnya itu sangat spesial. Kalian pasti nggak akan menyangka. Dan kalian harus berterima kasih kepada ayah atas hadiah ini." kata ayah sambil tersenyum misterius, lalu bergerak menuju pintu depan. "Kalian tau, ayah sampe harus ngedatengi dari London sana, lho!"
Mendengar itu, Nico jadi sangat yakin bahwa hadiah itu akan berupa motor Ducati atau apalah yang di inginkan Nathan. Dan seperti biasa, pastinya Nico tidak mendapatkan apapun lagi.
Selama beberapa menit, ayah menghilang dan kembali dengan wajah yang semringah. Bukannya membawa kunci motor, dia malah membawa koper.
"Kalian siap siap ya. Ini dia hadiahnya!" seru ayah, lalu menyingkir sekitar dua langkah ke kiri.
Seorang gadis cantik dengan rambut yangs sangat panjang dan bergelombang muncul dari balik ayah, tersenyum bagai bidadari. Seorang gadis yang sepertinya sangat familier bagi Nico dan Nathan.
Selama beberapa detik, ruangan itu senyap. Baik Nico dan Nathan tidak ada yang bergerak. Keduanya terdiam menatap sosok gadis itu, berusaha mengingat ingat, menggali memori yang sudah sekian lama terkubur.
__ADS_1
"Halo!" sapa Frisca ramah sambil tersenyum.
Yang pertama tersadar adalah Nathan. Dia bangkit dan berjalan ke arah Frisca, menyangka dirinya sedang berada di dalam mimpi.
"Fris ... ca??" gumam Nathan tak percaya.
Frisca mengangguk kecil. "Nathan!" serunya, lalu melompat ke arah Nathan yang masih berdiri kaku.
Frisca memeluk Nathan dengan erat. Sudah lama dia tidak bertemu dengan laki laki ini. Laki laki yang pernah menjadi bagian dari memori masa kecilnya yang indah.
Nathan balas memeluk Frisca setelah tersadar dengan apa yang terjadi, lalu mengayunnya sambil berputar putar. Sia begitu merindukan sosok gadis kecil ini, yang ternyata telah tumbuh dewasa sesuai dengan fantasinya. Tapi ini bukan lagi di alam khayalnya. Ini nyata. Ini Frisca yang nyata, yang ada di depannya. Oh tidak, bahkan sekarang ada dalam pelukannya.
Frisca melepas pelukan Nathan dan menatap kedua matanya. Anak laki laki itu telah banyak berubah, walaupun Frisca masih bisa mengenalinya dengan mudah dari pancaran mata itu. Nathan tumbuh menjadi laki laki yang tampan dan tegap, sudah bukan lagi anak cengeng yang selalu minta perlindungan.
"Apa kabar?" tanya Frisca dengan wajah berseri seri.
"Baik banget, malah nggak pernah sebaik ini!" seru Nathan, sedikit lepas kendali. "Kamu sendiri gimana?"
"Seperti yang kamu lihat. Aku juga baik kok!" sahut Frisca. "Kamu pasti kaget ya?"
"You have no idea." jawab Nathan, sambil berusaha menahan diri untuk tidak memeluk gadis itu sekali lagi.
Frisca tersenyum, lalu menoleh ke arah Nico yang masih terduduk di sofa enggan untuk menghampiri.
Nico sendiri hanya bisa menatap Frisca nanar. Sosok gadis itu yang nyata, yang berdiri di depannya ini telah membuat segala kenangan masa lalu nya bekelebat cepat di otaknya tanpa terkendali. Semuanya benar benar memusingkan kepalanya sehingga Nico tidak dapat bergerak.
Semuanya terputar di benak Nico seperti sebuah video. Tanggal 14 Februari yang seharusnya menjadi tanggal pertemuan mereka, kepergian Frisca yang tiba tiba, keabsenan Frisca memberi kabar, semua bergejolak cepat dan menusuk segala pertahanan yang selama ini di bangun olej Nico. Sosok yang pernah mengkhianatinya tiba tiba muncul dan terlihat sangat berkilauan di mata Nico, sampai sampau Nico tidak berani menatapnya lama lama.
__ADS_1