Izinkan Aku Bersama Mu

Izinkan Aku Bersama Mu
BAB 8


__ADS_3

Nico menatap Frisca yang berjalan riang menuju dirinya. Hatinya terasa geram, karna Frisca masih bisa seceria ini setelah apa yang di lakukannya dulu.


"Halo, Co!" seru Frisca, berharap Nico bangkit dari duduknya sehingga dia dapat memeluk sosok tegap itu. Tapi, Nico hanya menatapnya tanpa ekspresi. Jadi, Frisca berhenti dan menyodorkan tangan nya dahulu.


"Hai," Nico membalasnya sedingin es, tak menyambut tangan Frisca dan malah mengalihkan pandangannya. Dia benar benar tak bisa berlama lama untuk menatap mata itu. Nico takut dia dapat dengan mudah memaafkan Frisca jika terlalu lama melakukannya.


Frisca menatap Nico bingung sebentar, lalu menurunkan tangan nya yang tak bersambut.


"Ah, aduh! Fris, maafin Nico ya, dia emang suka begitu." kata ibu sambil merangkul Frisca dan membawanya duduk di depan Nico. Frisca menurutinya, tapi matanya masih terpancang ke arah Nico. Sementara itu, Nathan mengambil tempat duduk di samping Nico.


"Iya, dia emang suka kurang aja." ayah menimpali. "Jadi gimana Fris perjalanannya. lancar?"


"Eh? Oh, lancar kok Om. Tadi malem sempat nginap di hotel." jawab Frisca, tak bisa berkonsentrasi. Matanya masih terpaku pada Nico yang malah memandang ke luar jendela.


"Ayah, aku benar benar kaget!" seru Nathan terlihat begitu senang. "Kok bisa bisanya ayah ngedatengin Frisca ke sini?"


"Bukan gitu. Sebulan yang lalu Frisca telepon ke sini, katanya dapat nomor telepon rumah kita dari kamu. Frisca ngomong ke ayah kalo mau ke sini pas ulang tahun kalian, ya sekalian dia lagi habis lulus SMA juga kan." jelas ayah kepada Nathan, lalu meminum kopinya.


"Wah! Udah lulus SMA aja nih Fris? Udah gede dong." goda Nathan, yang membuat pipi Frisca bersemu.


"Ya iyalah, masa SMA melulu sih." kata Frisca sambil mengawasi Nico dari sudut matanya. Nico masih tak bereaksi.


"Terus, terus, gimana kamu selama di sana?" tanya Nathan lagi dengan tak sabar. Nathan benar benar ingin mendengar apa saja yang Frisca lakukan selama ini.


Ayah mengernyit pada Nathan. "Sabar dong, Nat. Masih banyak waktu kok. Sekarang, kita tentuin aja Frisca nya bisa istirahat di mana."


Mata Nathan membelalak, sementara Nico bergerak sedikit begitu mendengar perkataan ayah.


"Frisca bakalan nginep di sini, yah?" tanya Nathan, yang mewakili ke ingintahuan Nico.

__ADS_1


"Nggak, di kantor ayah. Ya, di sini dong Nat. Dia kan tamu kita." kata ayah melempar senyum kepada Frisca. "Dia nanti bakal di kamar kamu aja. Kamu ntar sama Nico tidurnya."


Nathan bengong sesaat, tapi segera tersenyum ke arah Frisca yang tampak menatap Nico dengan pandangan khawatir.


"Ya udah deh, demi Frisca, aku mau tinggal di kandang sapi." kata Nathan, lalu tertawa kecil.


"Kalo lo keberatan, lo bisa tidur di sofa depan TV." tandas Nico, dan bangkit dari duduknya.


"Mau ke mana kamu?" tanya ayah, tak bisa menyembunyikan nada geramnya.


"Ke WC!" jawab Nico singkat, lalu berjalan menuju kamar mandi. Frisca memandanginya sampai dia menghilang ke kamar mandi.


Ayah menggeleng gelengkan kepalanya. "Maaf ya Fris, emang tabiatnya udah begitu."


"Hah? Oh, nggak apa apa kok Om." kata Frisca cepat.


"Ayo." Ibu mengajak Frisca ke kamar Nathan begitu ayah menghilang di balik pintu depan.


Langkah Frisca tiba tiba terhenti di depan kamar Nico saat ibu dan Nathan menarih barang barangnya di kamar Nathan. Di pintu kamar itu tertempel gambar tengkorak dengan tulisan '*Biohazard Dangerous', sementara pita kuning panjang bertuliskan 'Police line. Do Not Cross*' di tempel melintang. Frisca tersenyum geli, bertanya tanya dari TKP mana Nico berhasil mencurinya. Dia pun membuka pintu kamar itu dengan hati hati.


Saat Frisca menginjakkan kaki di kamar itu, dia merasa seperti sedang masuk ke dunia lain. Seperti sedang menonton konser berpuluh puluh bintang rock sekaligus. Frisca berdecak kagum melihat kamar itu. Hanya langit langitnya yang tampak bersih dari proster.


Sambil menghindari berbagai benda di lantai yang berserakan, Frisca berjalan hati hati ke arah meja belajar Nico yang sepertinya sudah beralih fungsi. Alih alih buku teks, di meja itu berserak berbagai macam CD. Frisca mengambil satu secara acak. Ternyata Sex Pistols 'Anarchy In The UK'.


"Seleranya boleh juga." gumam Frisca sambil tersenyum. Saat dia hendak berbalik untuk mengagumi hal lain, Nico sudah berdiri di ambang pintu. Frisca terlonjak kaget.


"Lagi ngapain lo?" tanya Nico curiga.


"Ng ... lagi liat liat aja kok." jawab Frisca dengan salah tingkah. Dia bersandar pada meja, menggapai barang apa saja di atasnya untuk di jadikan alasan, tapi yang terambil ternyata celana dalam Nico, Frisca bengong sesaat, lalu melemparnya. Wajahnya langsung merah padam.

__ADS_1


"Oh, sorry, aku nggak..."


Nico meraih celana dalam yang di lempar Frisca, lalu memasukkan ke keranjang pakaian kotor tanpa bicara. Frisca mengamatinya. Nico merasakan tatapan Frisca, tapi dia mencoba untuk tidak peduli. Nico malah memunguti pakaian kotor yang berserakan di kamarnya.


Ketika Frisca baru akan membuka mulut, ibu dan Nathan muncul di pintu.


"Lho, Fris? ngapain di sini nak? semua barang mu udah di kamar Nathan lho!" kata ibu.


"Ng ... tante? Boleh nggak kalo aku tidur di sini aja?" pinta Frisca membuat semua orang yang mendengarnya melongo tak percaya. Tumpukan baju kotor yang tadinya di gendong Nathan melorot dan berjatuhan.


"Hah? Di kamar Nico? Berantakan dan nyeremin gini?" tanya Nathan tak percaya.


"Please.. boleh ya?" balas Frisca mengeluarkan tatapan memohon. Ibu melempar pandang ke arah Nathan yang hanya mengangkat bahu.


"Yah.. boleh sih, tapi--"


"Kata siapa boleh?" potong Nico cepat. "Kenapa nggak di kamar Nathan aja sih? Nyusahin orang aja!" sambungnya sambil kembali memungut baju bajunya yang terjatuh.


Frisca menatap Nico sedih. Ibu langsung menghela napas, tidak habis pikir dengan sikap sinis anak nya.


"Apa sih kamu ini, Co? Ya udah Nat, ambilin barang barang nya Frisca lagi, taro di sini. Nico, kamu beresin kamar kamu sampe bersih." kata ibu lalu melangkah keluar kamar


Frisca tersenyum penuh kemenangan ke arah Nico yang langsung membuang muka. Nathan mendesah pendek, lalu menghilang.


"Nggak apa apa kan, Co?" tanya Frisca mendekati Nico yang bergerak ke arah meja untuk membereskan CD-CD.


Nico tak menjawab. Harum tubuh Frisca membuatnya tak bisa berpikir. Saat ini, jaraknya dan Frisca hanya satu meter saja, dan terus berkurang. Nico berbalik cepat dan beralih membereskan gitarnya yang tergeletak di samping jendela.


Melihat tingkah Nico, Frisca menghela napas. Tak lama kemudian, Nathan datang mengantarkan barang barang Frisca, lalu pergi setelah mengatakan dengan sangat sangat menyesal kalau dia harus pergi berlatih basket karena ada pertandingan yang sudah dekat. Nathan berjanji kepada Frisca untuk pulang cepat karena ingin mendengar cerita darinya.

__ADS_1


__ADS_2