
Nico melangkah cepat menuruni jalan di kompleksnya. Tak seperti Nathan yang memiliki motor. Nico selalu naik bus saat pergi kuliah. Bukannya Nico tak pernah meminta, tapi dia 'tak mau' meminta apapun dari ayahnya, dan juga apapun yang di miliki Nathan. Ayah memberi motor itu pada Nathan karna di lulus UAN dengan nilai rata rata delapan, bukan karna Nathan yang memintanya. Dan Nico tak bisa berbuat apapun kecuali diam dan menelan bulat bulat nilai rata ratanya yang merah.
Tersadar, Nico melihat ke sebuah taman yang terletak tak jauh dari kompleks rumahnya. Nico berhenti sebentar, dan menatap taman yang tak pernah berubah dari sejak dia masih kecil. Taman yang begitu asri dengan lapangan basket di tengahnya dan beberapa kursi taman di pinggirannya. Taman yang menyimpan banyak kenangan. Terlalu banyak kenangan malah.
Nico pun memutuskan untuk memasukk taman itu. Entah kekuatan apa yang menariknya ke sana. Terakhir kali dia ke sana adalah ketika umurnya masih sembilan tahun. Sejak itu, dia tak pernah ke sana lagi, untuk menunggu janji sepuluh tahun yang pernah di buatnya dengan gadis kecil berkepang dua itu.
Nico memaksakan diri untuk berjalan ke sebuah pohon, tempat janji itu di pahat. Setelah bertahun tahun berlalu, tulisan itu masih di sana. Tulisan 'Nico-Frisca-Nathan'. Nico menatapnya tanpa ekspresi. Baginya, janji ini hanya kekonyolan. Hanya kerjaan iseng anak anak. Gadis itu tak akan pernah muncul lagi. Tak akan pernah lagi setelah dia mengingkari janjinya sendiri.
Frisca. Gadis kecil itu pergi ke London dua bulan tepat setelah mereka berjanji untuk selalu bersama. Dia pergi begitu saja setelah mereka membuat surat permohonan. Dan sekarang, sudah sepuluh tahun lebih semenjak perjanjian itu di buat. Tanggal 14 Februari 2018 bahkan masih terpahat di sana.
Tidak mungkin kalau tulisan ini itu tulisan Frisca yang dulu, pikir Nico. Nathan pasti sudah memahatnya selama sepuluh tahun ini. Nathan masih saja percaya bahwa gadis itu akan datang. Dulu, anak bodoh itu bahkan pernah menyebut nama Frisca muncul di sebuah forum di dunia maya. Benar benar penuh imajiansi. Benar benar sebuah lelucon. Gadis itu tak akan pernah datang lagi. Frisca tak mungkin datang lagi.
Nico yakin, Frisca bahkan tidak ingat lagi akan perjanjian ini. Nico menatap pohon itu benci, lalu memukulnya dengan keras sehingga buku buku jarinya terasa sakit. Nico tak peduli lagi pada masa lalunya. Tak ada lagi yang bisa di harapkan dari masa lalunya. Bahkan, kenyataannya tak ada lagi yang bisa di harapkan dari masa kini maupun masa depannya. Semua hanya omong kosong.
Nico meninggalkan taman segera setelah menendang pohon itu.
*****
"Nat, bantuin ibu dong."
Nathan langsung melompat dari sofa begitu melihat ibu muncul di ambang pintu, tampak kesusahaan membawa barang barang belanjaan.
"Ibu beli apaan aja sih? Heboh amat," komentar Nathan sambil membawa belanjaan itu masuk dan meletakkannya di meja makan.
__ADS_1
"Makanan," jawab ibu singkat sementara Nathan mengernyitkan dahinya.
"Persediaan buat setahun?" Nathan memandang bungkusan bungkusan besar di depan matanya. "Ini Apaan Bu?"
Ibu tak banyak berkomentar dan hanya mengedikkan bahu. "Ada dehh..!" jawab ibu misterius sambil menata sayuran di lemari es.
Nathan mencoba membuka sebuah bungkusan, tapi tangannya langsung di tepis oleh ibu.
Nathan meringis sambil mengelus punggung tangannya. "Ada apaan sih bu? Emangnya mau ada pesta ya?"
"Udah deh, kamu nonton aja sana. Nggak usah banyak tanya. Ntar juga bakalan tau kok." kata ibu, yang masih dengan nada misteriusnya.
Nathan pun menuruti kata kata ibu walaupun dengan menggerutu.
"Kuliah kali bu." jawab Nathan malas, tangannya masih sibuk mengganti channel TV.
"Loh, terus dia sarapan apa? kan nggak ada apa apa di kulkas " kata ibu lagi.
Nathan mengangkat bahu "Paling dia sarapan di kampus." gumamnya.
Ibu mengangguk anggukan kepala, lalu mengamati Nathan yang bergerak mendekat mengambil sebuah apel dari salah satu bungkusan belanjaan yang sudah terbuka.
"Nat, ibu sebenarnya khawatir sama Nico.. Beberapa hari ini dia semakin sering berantem sama ayah." kata ibu pelan.
__ADS_1
Nathan menatap ibunya yang sekilas tampak lebih tua dari biasanya, lalu mendesah pelan. "Ibu tenang aja. Nico udah gede. Dia bisa nyelesaiin masalahnya sendiri kok." kata Nathan, lalu bergerak mengambil bola basketnya yang tergeletak di samping sofa. "Aku main basket dulu ya, bu!"
Setelah berpamitan pada ibunya Nathan berjalan keluar rumah dan menghirup udara pagi yang segar. Hari ini cuaca agak mendung. Nathan mendesah pelan.
Nico itu.. pikir Nathan, Selalu saja membuat ayah dan ibu kesal. Selalu saja membuat keonaran supaya bisa di perhatiin. Padahal perbuatannya justru tidak akan mendatangkan simpati dari siapa pun.
Nathan kemudian men- drible bolanya sampai ke taman. Nathan berhenti sebentar, menatap taman yang penuh akan kenangan masa kecilnya. Setelah menghela napas, dengan mantap dia mulai berlari ke lapangan basket dan memasukkan bolanya ke ring.
Lima belas menit kemudian, dia terduduk di bawah pohon akasia besar yang terletak persis di samping lapangan. Dia mendongakkan kepala, lalu melihat tulisan 'Nico-Frisca-Nathan' yang terpahat di pohon itu. Pikirannya lantas melayang ke masa kecilnya.
Frisca. Gadis cilik berkepang dua yangs selalu hadir dalam mimpi mimpinya. Seharusnya Nathan melupakannya, tapi setiap kali berpikiran seperti itu, dia semakin tidak bisa melakukannya. Seorang Frisca malah tumbuh semakin besar dalam fantasi terliarnya dan menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Ingin rasanya Nathan menganggap bahwa semua ini konyol dan tidak masuk akal, tapi ia tak mampu. Tidak pernah mampu.
Dia memiliki keyakinan itu. Keyakinan bahwa Frisca, gadis kecilnya yang cantik akan kembali suatu saat nanti.
Nathan bangkit, mengambil sebuah batu yang berujung tajam, lalu menggoreskannya ke tempat yang sama di mana tulisan 'Nico-Frisca-Nathan' terpahat. Dia memahatnya kembali agar tidak hilang. Nathan sudah melakukan hal itu selama sepuluh tahun lebih ini. Dia masih berharap bahwa janji sepuluh tahun yang lalu itu masih berlaku, walaupun sudah melewati batas waktu yang di tentukan.
Sejak beberapa bulan yang lalu, Nathan sempat berpikir untuk membongkar botol yang di kubur di dalam tanah, dengan persetujuan Nico. Tapi Nathan tak pernah melakukannya. Nico juga. Sepertinya orang itu bahkan sudah lupa akan perjanjian itu. Hal itu membuat Nathan sedikit enggan untuk ikut menebalkan tulisan 'Nico'-nya. Tapi entah mengapa, tangannya bergerak di luar keinginannya.
Nathan merebahkan tubuhnya dirumput yang hijau. Selama sepuluh tahun ini, Nico tak pernah berbicara tentang Frsica ataupun pohon, ataupun perjanjian itu. Bahkan, Nico tak banyak bicara tentang apapun kepada Nathan. Rasanya Nico sudah melupakan semua memori masa kecilnya begitu saja. Tidak ada keingintahuan. Bahkan, tidak ada respon saat Nathan menyebut nama Frisca di depannyas sekitar dua bulan yang lalu, saats sebuah e-mail masuk ke kotak surat Nathan.
E-mail itu mengejutkan Nathan dan membangkitkan semua kenangan yang selama ini terkubur dalam dalam di otaknya. E-mail itu dari Frisca, Frisca nya. E-mail itu mengatakan semua yang ingin di dengar Nathan. Bahwa Frisca baik baik saja, bahwa Frisca tidak lupa dengan perjanjiannya, bahwa Frisca akan kembali, walaupun tidak tepat pada tanggal 14 Februari karna dia belum mendapat libur sekolah.
Senyum lebar menghias wajah Nathan. Gadis itu masih SMA. Nathan sering kali melupakannya, menganggap Frisca seumuran dengannya. Tapi semua itu tidak penting. Yang penting adalah Frisca akan kembali, walau entah kapan. Dan nanti malam Frisca akan masuk ke chat room untuk mengobrol dengannya. Lagi. Rutin selama dua bulan terakhir ini. Kegiatan yang membuatnya telah melupakan Lisa.
__ADS_1