
"Co! Bisa nggak lo berhenti nyetel musik yang nggak karuan kayak gitu? Lo mengganggu bnaget tau nggak?" sahut Nathan dari luar kamar Nico.
Nico tidak menggerakkan satu pun anggota tubuhnya untuk menuruti permintaan Nathan. 'Saint Anger' masih saja berkumandang di dalam kamar Nico dengan volume yang maksimal.
Nathan pun menggedor gedor pintu kamar Nico dengan sekuat kuatnya. "Co! Gue lagi belajar nih! Lo dengarin gue nggak sih??" seru Nathan lagi.
Nico memutar bola matanya dengan malas, tetapi tetap tidak melakukan apapun. Nico memejamkan matanya lagi sambil menggerak gerakkan tangan nya mengikuti irama drum.
"Woi Nico!!" teriak Nathan bersamaan dengan terbukanya pintu yang secara paksa.
Nico pun melirik kesal ke arah Nathan. Nathan menghela napas sebentar, kemudian berjalan kaku kaku ke dalam kamar Nico dan menuju arah tape lalu menekan tombol stop. Seketika ruangan pun menjadi hening.
Nico berjalan dan duduk di tempat tidurnya. "Lo tau, yang kata lo musik nggak karuan itu di sebut ****Metallica****. Dan gue masih nggak ngerti, kalo ada cowok yang nggak bisa ngerti musiknya Metallica" kata Nico dengan sinisnya.
"Oh, gua jelas jelas bisa ngerti musiknya ****Korn**** kalo di pasangnya sesuai ambang batas pendengar manusia, bukan kayak yang lo seperti orang budek" balas Nathan dengan melipat tangan di dadanya.
"Alahh.. nggak usah sok bokis deh lo. Kayak lo bisa aja ngebedain musik Korn sama P.O.D aja" Balas Nico kemudian bangkit dari tempat tidur nya dan mulai mencari handuk.
Nathan memperhatikan saudara kembarnya sesaat. "Gue bisa liat dengan jelas gimana masa depan lo" katanya setelah melihat Nico yang tak kunjung menemukan handuknya.
"Maksud gue, liat aja tempat ini. Ck.. tempat ini bahkan nggak pantes di bilang kamar. Kandang sapi mah masih lebih pantas dapet penghargaan dekorasi" kata Nathan lagi.
__ADS_1
Nathan menendang handuk yang sedari tadi berada tepat di depan kakinya. Handuk itu mendarat mulus di kepala Nico.
"Gua juga bisa liat masa depan lo" kata Nico dingin sambil beranjak keluar kamarnya. "Ya atlet hebat, penerima beasiswa, trus cowok populer di kampus... Ups, itu bukan masa depan ya? Cuma sayangnya , lo pernah salah ngebedain Marilyn Manson sama Marilyn Monroe"
Nathan menatap masam kakak kembarnya yang keluar tanpa memandang dirinya, lalu menatap kamar yang di penuhi segala macam barang milik Nico. Dindingnya sudah tak terlihat lagi warna aslinya, karena sudah penuh di tempeli poster poster bintang bintang rock dan alternative mulai dari Kurt Cobain, Queen, sampai Metallica. Lantainya pun bernasip serupa. Baju baju kotor atau bersih, Nathan tak bisa membedakannya lagi karna sudah bercampur baur di sana sini dengan CD yang bertebaran di atas nya.
Nathan menghelas napas sebentar, lalu memutuskan untuk segera pergi dari kamar itu, karena aura aura yang di keluarkan poster poster itu membuat Nathan tidak nyaman. Tapi beberapa langkah sebelum mencapai pintu kakinya menyandung sebuah travo.
"Sialan!" umpat Nathan sambil memegangi jempol kakinya yang nyut nyutan, lalu menatap ingin tahu ke arah bend yang tadi menghalangi langkahnya. "What, Travo!" keluhnya dengan kesal. "Travo di buat di tengah jalan!" sahutnya lagi sambil menendangnya dengan sekuat tenaga. Tentu saja, travo itu tak bergerak dari tempatnya semula dan sekarang jempolnya terasa luar biasa sakitnya.
"Awas kalian semua!" kutuk Nathan kepada kama Nico dan semua barang yang ada di dalamnya, lalu dengan langkah berjingkat di keluar dari sana.
*****
"Nggak" jawab Nico singkat, lalu duduk di sofa. Tangannya sibuk memindah mindahkan channel tv dengan remote.
"Oh.. tapi kok barusan Nathan berangkat kuliah ya?" tanya ibu heran.
"Bu!" tukas Nico kesal. "Aku sama Nathan kan beda jurusan sih. Nggak mungkin lah jadwal kuliahnya bareng".
"Oh iya ya. Ibu pikir kamu sama Nathan sejurusan" kata ibu lagi sambil mengaduk adonan.
__ADS_1
"Makanya di kasih perhatian dikit" gumam Nico. "Padahal udah mau dua tahun kuliah pun"
"Apa, Co?" ibu tak mendengar perkataan Nico karena suara putaran mixer.
"Bukan apa apa. Nggak penting". Nico mematikan TV, lalu bergerak ke arah kamarnya.
"Nico! itu kamarnya di beresin dong nak!" kata ibu sebelum Nico sempat menutup lintu kamarnya. "Kamu ini males banget sih. Liat tuh kamarnya Nathan kan rapi, bersih.." sambung ibu.
"Kayak kamar perempuan!" jawab Nico.
Ibu berhenti mengaduk adonan, lalu mengernyit kepada Nico. "Kejantanan cowok itu bukan di ukur dari keadaan kamarnya loh" kata ibu serius.
"Ha..ha..ha" Nico menaggapi dingin komentar ibunya, lalu masuk ke kamar. Dia melangkahi travo-nya yang melintang, kemudian menggapai gitarnya lalu duduk di pinggir jendela.
Kejantanan seorang cowok tidak di lihat dari keadaan kamarnya. "Yang benar saja" pikir Nico sambil mendengus. Kalau kamar cowok itu bersih, tidak ada satu pun poster, yang ada hanya foto fotonya bersama piala piala dan medali medalinya, dengan banyak CD Glenn Fredly atau Josh Groban di atas meja, jelas jelas kejantanan nya patut di pertanyakan. Juga bisa di pastikan kalau pemilik kamar tersebut memiliki kadar kenarsisan yang sangat tinggi.
Nico mulai memainkan lagu kebangsaannya. "Creep" milik Radiohead
" But i'm a creep, I'm a weirdo.
What the hell am i doing here?
__ADS_1
I don't belong there. "