Izinkan Aku Bersama Mu

Izinkan Aku Bersama Mu
BAB 11


__ADS_3

"Fris."


Nathan menepuk bahu Frisca, lalud duduk di sebelahnya. Tadi sepulang kuliah, Nathan melihat gadis itu sedang duduk sendirian di gazebo.


"Hei." balas Frisca tersenyum. "Aku kirain kamu Nico."


Senyuman segera menghilang dari wajah Nathan, tapi detik berikutnya muncul lagi. "Emang, segitu miripnya ya?"


Frisca hanya menghela napas. Betapa dia sangat mengharapkan yang tadi datang dan menyapanya adalah Nico.


"Nico belum pulang kuliah ya?" tanya Frisca lagi.


Nathan menatap Frisca lekat lekat, bertanya tanya apa yang sudah di lakukan Nico sehingga membuat Frisca sedih seperti itu.


"Udah biasa hari gini dia belum pulang. Ntar paling pulang pulang kalo nggak mabok, pasti bonyok." kata Nathan, membuat raut wajah Frisca seketika menjadi khawatir. "Eh, becanda kok." ralat Nathan. "Paling lagi latihan nge-band."


Mata Frisca membulat. "Nge-band?"


"Iya, dia punya band. Lumayan ancur sih, cuman dia nggak mau ngakuin. Udah ah, dari tadi nanyain Nico mulu. Yang laen!" kata Nathan menyenggol bahu Frisca dengan bahunya.


Frisca tersenyum lemah. "Abis, dia kayak yang udah ngelupain aku, Nat. Aku kan jadi sedih."


Nathan menatap Frisca lagi. Gadis ini dari dulu memang lebih memperhatikan Nico daripada Nathan, dan Nathan tak pernah mau hal itu terjadi lagi. Nico tak layak untuk mendapatkan perhatian Frisca. Nico sudah memutuskan untuk melupakan Frisca, sedangkan Nathan tak pernah berhenti memikirkannya.


"Dulu pas kita ketemu di internet, aku udab bilang sama Nico, tapi dia cuek aja tuh." kata Nathan. "Dan dia juga nggak pernah nyebut nyebut nama kamu lagi selama sepuluh tahun ini."


Nathan sebenarnya tak bermaksud untuk menjelek jelekan Nico, tapi Nico memang melakukan itu semua. Nathan juga tidak mengerti, kenapa Nico melakukannya. Bagi Nathan, Frisca adalah seseorang yang sangat penting, tapi ternyata tidak begitu menurut Nico.


Frisca menggigit bibirnya, menahan nangis. "Oh, gitu." katanya pelan.


"Sorry." Nathan merengkuh tubuh Frisca yang mungil. "Aku nggak bermaksud ngomong kayak gitu. Tapi nggak ada yang bisa ngerti Nico. Nggak ada seorang pun yang tau apa alasannya ngelupain lo."


Setelah mendengar kata kata Nathan, Feisca merasakan air mata jatuh di pipinya.

__ADS_1


Nico ternyata telah benar benar melupakannya. Frisca mendengarnya miris. Kenapa juga Nico harus mengingatnya. Frisca waktu itu hanyalah gadis jelek berkepang dua.


Dia dan Nathan tidak tabu bahwa sudah beberapas saat, Nico mengawasi mereka berdua dari dalam rumah. Kaleng pepsi remuk di tangannya, menumpahkan isinya ke segala arah.


*****


Nico menghisap rokoknya dalam dalam sampai dadanya terasa sesak, lalu menghembuskannya keras keras. Di benturkannya bagian belakang kepalanya ke pohon sehingga terasa sakit, lalu dia menengadah ke langit.


Tadi, setelah melihat Frisca dan Nathan bersama di gazebo, Nico segera berjalan kalap keluar rumah tanpa memedulikan teriakan ayah, lalu akhirnya dia sampai di tempat ini, taman tempat Nico, Frisca dan Nathan berhanji sepuluh tahun yang lalu. Nico juga tak tahu mengapa kaki nya membawanya ke tempat ini.


Nico berjongkok, bersandar pada pohon yang bertuliskan 'Nico-Frisca-Nathan', lalu menghisap rokoknya kembali.


Nathan, dia selalu saja mengambil apapun milik Nico. Ayah dan ibu. Semua pemberian Ayah dan ibu. Lisa. Juga Frisca.


Nico mendengus keras. Frisca. Gadis itu bukan milik Nico. Gadis itu mungkin saja sudah menjadi milik Nathan. Seperti semuanya Nathan tidak akan melepaskan begitu saja Frisca yang pernah menjadi bagian dari hidup Nico.


Masih menjadi bagian dari hidup Nico.


Nico membenturkan kepalanya lagi dengan lebih keras ke pohon untuk menyingkirkan pikirannya barusan. Frisca sudah keluar dari hidupnya sejak sepuluh tahun yang lalu, sejak Frisca memutuskan untuk pergi ke luar negeri. Frisca sudah tak ada baginya. Saat ini, yang ada di rumahnya hanyalah gadis biasa yang akan menjadi kekasih Nathan.


Nico menengadahkan kepala, melihat siapa yang memanggilnya. Sebenarnya, Nico tak perlu melakukannya, karena dia sudah tahu.


Frisca. Berdiri tepat di depan Nico dengan kedua tangan di depan dada. Nico mendengus melihat gadis itu, yang lebih terlihat defensif daripada kedingingan.


"Ngapain kamu di sini? Kenapa nggak pulang?" tanya Frisca cemas.


"Ck.. lo bukan istri gue ," jawab Nico spontan, lalu detik berikutnya menyesal telah berkata sesuatu yang akan menjadi fantasinya seumur hidup.


Frisca menatap Nico sedih. Nico yang sekarang sudah tak bisa di kenalinya lagi. Frisca mengawasi Nico yang kembali mengisap rokoknya.


"Rokok nggak bagus buat kesehatan lho, Co!" seru Frisca.


"Hm.. nggak ada yang peduli sama kesehatan gue." tukas Nico. Bahkan Nico sendiri pun tak peduli pada kesehatannya.

__ADS_1


"Tapi aku peduli." kata Frisca tiba tiba, membuat Nico selama beberapa saat merasakan perhatian yang tak pernah di dapatkannya. Namun detik berikutnya, Nico mendengus.


"Huff.. kayak gue percaya aja." kata Nico datar.


"Kenapa kamu nggak percaya?" tanya Frisca.


Nico memandang Frisca tak percaya. "Kenapa gue nggak percaya? Pertanyaan bagus. Akting yang bagus." Nico bangkit dan menghampiri Frisca. Lalu melewatinya.


"Co," Frisca memegang tangan Nico. Darah Nico berdesir, dan detak jantungnya mengalami percepatan yang gila gilaan. "Kamu harus tau, aku peduli sama kamu."


"Simpen perhatian lo buat Nathan." sergah Nico. "Gue udah terbiasa nggak di kasih perhatian."


Saat Nico melangkah menjauh, Frisca merasa sesak napas. Frisca tidak mau Nico pergi. Frisca sudah menunggu saat yang tepat untuk berdua saja dengan Nico.


"Apa kamu udah ngelupain aku?" sahut Frisca membuat langkah Nico terhenti. "Aku harus denger dari mulut kamu sendiri. Aku nggak percaya sama orang lain! Aku percaya sama kamu!"


Pasti Nathan yang sudah memberitahu Frisca bahwa Nico sudah melupakan Frisca.


"Apa yang di bilang Nathan bener. Gue udah ngelupain lo. Ck.. Lo pikir, gue bakal inget lo terus selama sepuluh tahun? Kayak lo pantes di inget aja." kata Nico lalu menghirup rokoknya dengan emosi.


Frisca hampir menangis. "Kenapa, Co? Kenapa kamu berhenti inget aku? Kenapa? Padahal aku selalu inget sama kamu! Aku nggak pernah berhenti mengharapkan hari itu tiba." sahutnya parau.


"Hari itu tiba? Hari itu udah lewat Fris, Hampir setengah tahun! Lo pikir, gue mau nungguin lo sampe tua gitu? Lo pikir gue ****, nggak ada kerjaan?" sahut Nico dengan tak sabarnya. Kepalanya jadi terasa sangat sakit.


"Co, aku nggak bohong!" sahut Frisca, sekarang air matanya sudah mengalir.


Nico membuang rokoknya. "Oh,, jadi gue yang bohong? Jadi selama sepuluh tahun ini ngirim surat? Nelepon? Ngasih alamat lo di sana? Ngasih kabar kalo lo masih hidup, hah, iya?" kata Nico emosi.


Frisca menangis tersedu sedu. Nico menatapnya sebal, lalu menginjak puntung rokok yang di bilangnya hingga apinya padam.


"Lo tau? Los seharusnya nggak usah dateng lagi ke sini." kata Nico sebelum berbalik dan meninggalkan Frisca yang masih terisak.


Frisca merasa lututnya bergetar dan tak kuat lagi menyangganya. Dia terduduk di lapangan basket yang dingin sambil terus terisak.

__ADS_1


Mungkin memang sebaiknya dia tak datang lagi ke sini.


__ADS_2