Izinkan Aku Bersama Mu

Izinkan Aku Bersama Mu
Bab 15


__ADS_3

Nico melongo melihat Frisca yang tiba tiba memesan bir. Sebelum bir itu sampai ke tangan Frisca, Nico sudah meraih tangannya dan menariknya ke luar kelab. Frisca mengikuti Nico dengan segumpal harapan bahwa Nico akan pulang.


Nico membawa Frisca ke pelataran parkir, lalu melepaskannya. Nico segera merogoh kantong nya dan mengambil handphone nya, lalu membuka aplikasi untuk memesan transportasi online. Frisca secepat mungkin meraih handphone Nico dan membatalkan pemesanan transportasi tersebut.


“Ngapain sih lo?” tanya Nico kesal.


“Kamu yang ngapain? Siapa yang bilang aku mau pulang?” tanya Frisca.


“Lo harus pulang.” Nico kembali meraih handphone nya yang berada di genggaman Frisca, dan lagi lagi Frisca menggagalkan usahanya.


Nico menarik napas panjang, menghembuskannya, lalu melangkah menjauh dari Frisca. Dia mengeluarkan rokok, menyalakannya lalu menghisapnya dalam dalam supaya tidak terbawa emosi. Frisca memperhatikannya lekat lekat.


“Rokok nggak baik buat kesehatan, Co.” Frisca mengulang apa yang pernah di katakannya saat di taman.


Nico meliriknya sebal. “Nggak usah sok nentuin apa yang terbaik buat gue. Lo bukan siapa siapa gue.”


Frisca menatap Nico yang asyik menghisap rokoknya sambil bersandar ke kap sebuah mobil. Nico terlihat seperti seorang anak yang sangat kesepian dan butuh perhatian. Frisca ingin sekali memeluknya. Frisca berjalan mantap mendekati Nico.


“Kamu kesepian.” Kata Frisca.


Nico menatap Frisca tajam. “Bener, Lo bener. Seumur hidup gue kesepian. Jadi sekarang lo nggak usah berusaha keras mengubah sejarah itu.”


Frisca terdiam tapi tetap membalas tatapan Nico yang hanya berjarak setengah meter darinya. Nico kembali menghembuskan asap rokoknya, sengaja mengarahkannya ke wajah Frisca. Frisca segera saja terbatuk, tapi Frisca berusaha menyembunyikannya.


Kesal, Frisca mencabut rokok yang sedang di pegang Nico, lalu membuangnya ke aspal. Nico bengong sesaat, lalu memutuskan untuk tidak peduli dan menyalakan sebatang lagi. Frisca dengan sigap membuangnya lagi. Begitu terus sebanyak empat kali. Saat Frisca membuang rokok ke empatnya, Nico tak mengeluarkan rokok lagi.


“Lo apaan sih? Semua gue beli pake duit, tau!” sahut Nico kesal.


“Ya, terus kamu bakarin semua.” Tukas Frisca

__ADS_1


Nico tak berkomentar. Dia hanya memandang Frisca sebal sebentar, lalu kembali menyalakan rokok, tak mengacuhkan tatapan Frisca yang tajam.


“Co, jangan merokok lagi.” Kata Frisca setengah memohon.


“Kalo nggak?” tantang Nico sambil bermaksud mengisap rokoknya yang sudah nylala.


Frisca menatap Nico dengan mata berkilat kilat, lalu dengan nekat menyambar rokok Nico. Tapi, dia tidak membuangnya. Frisca mematikan rokok itu dengan menggenggam nya. Nico terbelalak melihat tindakan Frisca. Frisca meringis ssaat rokok itu membakar telapak tangannya.


“Lo ngapain sih?” Nico segera melompat ke arah Frisca dan membuka telapak tangannya.


Telapak itu terbakar kehitaman. Nico segera membuang puntung rokok yang tadi di genggam gadis itu, lalu meniup tangan Frisca yang telah melepuh. Frisca malah tersenyum melihat sikap Nico. Menyadari akan ekspresi Frisca,Nico menatapnya sebentar, lalu berhenti meniup.


“Lo udah gila ya?” keluh Nico, lalu menggandeng Frisca masuk kembali ke dalam kelab untuk mencari obat obatan.


FFrica berjalan di belakang anaico tanpa berhenti tersenyum. “Ternyata susah juga ya ngedapetin perhatian kamu.” Katanya jenaka. “Aku harus menderita dulu.”


Setelah sampai di kelab dan mendapat obat serta kain perban, Nico lekas mengobati tangan Frisca yang melepuh.


“Aw.. perih, Co!” kata Frisca meringis menahan perih ketika Nico mengoleskan salep untuk luka kulit.


“Nggak usah ngeluh, itu juga salah lo. Ck.. Sok mau jadi pahlawan.” kata Nico geram.


Setelah selesai mengobati tangan Frisca, Nico membawa pulang Frisca ke rumah menggunakan transportasi online. Selama di perjalanan Frisca tak hentinya menikmati pemandangan yang ada di sampingnya. Nico duduk dekat di samping Frisca.


Merasa di perhatikan terus oleh Frisca, Nico balik menatap Frisca, dan tentu saja Frisca langsung mengalihkan pandangannya ke depan. Wajah nya merah semu di pandang balik oleh Nico.


“Co, makasih ya. Kamu udah mau pulang sama aku.” kata Frisca memecahkan keheningan yang terjadi.


“Gue bawa lo pulang cuma buat ngindarin masalah di rumah. Lo nggak usah sok perhatian dan peduli sama gue lagi.” Kata Nico dengan ekspresi dinginnya.

__ADS_1


Mendengar perkataan Nico, Frisca terdiam dan merasa sedih. Nico yang selalu di pikirkannya, yang selalu ingin di perhatikannya malah berusaha menjauh dan tidak peduli dengan dirinya.


*****


“Welcome home.” Kata Frisca setelah mereka sampai di depan rumah.


Tadi Frisca telah meyakinkan Nico untuk kembali ke rumah setelah mengancam untuk naik ke atas meja bar dan menari kalau Nico tak mau pulang. Nico tidak punya pilihan lain selain menurutinya.


Nico meloncati pagar rumahnya, tapi tidak berusaha membantu Frisca. Frisca cemberut sesaat, lalu ikut memanjat pagar. Nico membuka jendela kamarnya yang gelap dan memanjatnya. Mendadak, lampu kamar dinyalakan saat Nico baru masuk. Ayah, ibu, dan Nathan ternyata sudah menunggu di sana dengan ekspresi yang tak dapat di tebak.


Nico membantu saat melihat mereka. Detik berikutnya, Frisca melemparkan tasnya ke dalam kamar lalu ikut memanjat jendela. Nico merasa sebentar lagi hidupnya pasti berakhir. Frisca berhasil memanjat jendela, tapi langsung tersentak saat melihat kedua orang tua Nico dan Nathan. Frisca buru buru melirik Nico yang sedang menatap nanar keluarganya.


“Nico, ke kamar ayah sekarang. Ayah mau bicara.” Kata ayah dingin.


Nico langsung tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dulu, Nico pernah di hajar habis habisan saat Nathan tidak sengaja tercebur ke selokan dan kepalanya terbentur. Itu hanya hukuman karna Nico di anggap telah lalai menjaga adiknya. Sekarang, Nico pasrah jika di anggap membawa kabur seorang gadis di tengah malam.


Jadi, Nico bergerak mengikuti ayah. Frisca berusaha menahan Nico dengan meraih tangannya yang langsug di tepis oleh Nico.


“Om, Nico nggak salah!” seru Frisca, hampir menangis.


“Frisca, kamu tidur saja.” Kata ayah yang terdengar lelah.


Nico mendahului ayah memasuki kamarnya. Nico segera menelan salivanya, ingat kalau dia memiliki banyak kenangan pahit di kamar ini. Nico pernah di pukul dengan sapu lidi. Dia juga pernah di lecut dengan tali pinggang.


Belum selesai Nico mengingat semua kenangannya, Nico mendapat tamparan keras pada pipi kirinya. Di susul dengan pipi kanannya. Nico tak berusaha untuk melawan walaupun hatinya teramat ingin. Nico sudah terlalu terbiasa di salahkan atas semua yang di perbuatnya.


“DASAR KAMU MEMANG ANAK KURANG AJAR!” sahut ayah dengan volume yang mebuat telinga Nico berdenging. “BERANI BERANI NYA KAMU NGAJAK FRISCA KABUR!!”


Nico menatap ayah berani. Wajah ayah sudah memerah karena marah. Entah mengapa Nico tidak bisa membalas jika sudah melihatnya. Ayah sudah tua. Ayah yang di sayanginya. Dulu, di sayanginya. Sebelum dia mulai menarik diri.

__ADS_1


__ADS_2