Jagoan Kampus

Jagoan Kampus
Bab.10(Bujukan Sila)


__ADS_3

"Gue gak punya pilihan selain mengikuti saran dari si Merry!"


Sila tidak memiliki cara lain, tapi dia juga ingin memberikan pelajaran yang membuat Tito menyesali perbuatannya, dia mempertimbangkan saran Merry dan menghadapi kenyataan bahwa tidak ada pilihan lain lagi. Sila mengambil ponsel miliknya lalu menghubungi sahabatnya itu.


'Halo Sila?'


'Merry, lo bener. Gue gak punya cara ngadepin orang tua gue. Dan gue akan mencoba ngikuti saran dari lo Merry!'


'Hah?'


Jelas Merry kaget, terdengar dengusan nafasnya dari ujung telepon.


"Gue akan mendekati Tito dengan cara yang halus dan mencoba untuk memperbaiki sekaligus menyelesaikan masalah ini. Gue pengen dia ngerasain terintimidasi!'


'Lo yakin Sil?'


'Ya ... Gue yakin, lo masih mau kan bantuin gue?"


'Oke ... Sampai jumpa besok!' tukas Merry pada saat menutup sambungan telefon.


Sila mempersiapkan dirinya untuk menghadapi Tito dengan pendekatan yang lebih lembut dan empati. Dia ingin mencoba mengambil hatinya agar Tito mau mendengarkan dan berbicara dengan baik.


Namun hari demi demi hari terlewati begitu saja, Sila tidak juga melihat Tito di kampus. Padahal hampir setiap hari dia ke ruangan wakil rektor agar mencabut peringatan untuknya. Jujur saja karena Sila tidak bisa berkonsentrasi dengan baik selama beberapa hari ini.


Sampai 1 hari kemudian, Sila yang baru saja turun dari Bus melihat Tito yang sedang berdiam diri dengan beberapa orang temannya. Sila lantas menghampirinya. Namun sebelum sampai kesana, beberapa orang pria terlihat mendatanginya. Mereka bicara satu sama lain. Dan Sila yang menghentikan langkahnya tentu saja tidak mendengarnya.


Pria pria yang terlihat urakan itu memiliki tatapan yang seolah marah pada Tito, terlihat raut wajah Tito yang tampak tidak senang.


"Gue tahu apa yang bakal kalian lakuin!"

__ADS_1


"Terserah ... Yang pasti ini urusan lo sama gue. Jadi gue gak akan bawa bawa temen temen gue gitu juga lo!"


Samar samar Sila mendengar percakapan itu. Namun dia tidak mengerti sedikitpun.


Tak berselang lama, komplotan pria itu meninggalkan tempat Tito. Mereka menaiki motor dengan suara knalpot yang bising.


Sila akhirnya keluar dari persembunyiannya. Dia langsung kembali berjalan ke arahnya dengan senyum ramah, namun berpura pura tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya.


"Hai, Tito. Bisakah kita ngomong sebentar?"


Tito mengernyitkan keningnya saat melihat gadis yang suka sekali ikut campur itu, bahkan persoalan pribadi dan keluarga.


"Apa yang mau lo omongin?"


Sila melirik dua pria disamping Tito, dia tidak merasa nyaman karena ada mereka. Dan Tito maupun dua pria itu tidak peduli padanya.


"Gue pengin ngomong tentang masalah yang terjadi antara kita. Gue ngerasa kalau situasinya semakin runyam. Gue gak bisa konsentrasi kalau terus gini caranya. Dan gue ingin nyoba nyelesaikannya dengan cara yang lebih baik lagi.


Raut wajah Tito terus terlihat dingin. "Terus apa yang bikin lo berpikir lo bisa mengubah apa pun? Gue gak yakin. Gue gak mau dengar apa yang nimpa lo dan apa yang katakan."


"Gue ngerti kalau perasaanmu terhadapku mungkin negatif saat ini, tapi gue ingin minta maaf jika ada yang telah gue salahi. Gue gak mau terus berkonflik dan mengganggu nilai nilai gue di kampus. Apa kita bisa mencoba untuk saling mendengarkan dan mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara yang baik?"


"Bisa ... Salah satunya jangan lakukan apapun. Jangan muncul didepan gue atau bahkan nyari gue!" ucap Tito kasar. "Masalah ini hadir karena lo jadi orang yang sok!"


Tito memang merasa sedikit terkejut dengan pendekatan Sila padanya, terlebih saat ini.


"Gue juga sangsi kalau sikap lo sekarang ini berubah drastis kayak gini. Jadi sebelum sikap gue makin kasar sama lo. Mending lo pergi! Gue gak yakin. Masalah gue itu gak cuma ini aja. Dah sana pergi?"


"Gue fikir ini telah berlangsung cukup lama dan gue kesulitan dengan harian gue di kampus, mereka semua bikin gue gak tenang!"

__ADS_1


"Mereka?


Sila mengangguk, "Bahkan teman teman gue gak ada yang belain gue, mereka semua takut sama lo! Ditambah mereka bicara yang bukan bukan tentang lo sama gue!" ujarnya lagi, dia merasa sulit untuk melupakan apa yang telah terjadi.


Namun sikap Tito tidak berubah sedikitpun, dia justru mengdengus seraya berseringai.


"Itu bukan urusan gue!"


Sila berjalan maju 2 langkah, hingga dia berada tepat di depan Tito. "Tolonglah Tito! Gue rasa kita bisa mulai dengan berteman?"


Sila mencoba meyakinkannya, dan mengerti bahwa mereka membutuhkan waktu untuk memaafkan dan melupakan. Tetapi setidaknya mereka bisa mencoba memulai dengan saling mendengarkan dan mencoba memahami perspektif satu sama lain.


Tito berpikir sejenak, menatap ke arah Sila dengan tatapan datar miliknya. Tak lama dia bangkit dari duduknya lalu menghampiri Sila hingga jarak keduanya sangatlah dekat.


"Kau fikir semudah itu? Hey ... Siapapun masalah lo gue gak peduli! Lo mohon mohon sampe lo sujud pun gue gak akan mau berteman sama lo. Jangan berharap bahwa ini akan langsung mengubah segalanya. Lo fikir lo siapa. Hah?"


Sila hanya bisa menahan dirinya agar tidak kembali menangis, dia juga bertahan agar emosinya tidak terpancing olehnya yang akan membuat masalah baru.


"Cabut!" tukas Tito pada dua temannya.


Namun Sila dengan cepat mencekal lengannya dan menghentikan langkah Tito.


"Tunggu ... Gue belum selesai bicara!"


"Apalagi? Lo mau ikut gue?" tanya Tito terkekeh, sikapnya benar benar menyebalkan. "Gue banyak urusan!"


Dan Tito langsung menyentakkan tangan Sila dari lengannya. Kemudian melangkahkan kedua kakinya dari sana.


"Sial ... Gue udah mati matian bujuk dia!"

__ADS_1


__ADS_2