
"Yeeee ... Siapa yang mau lama lama sama lo juga??"
Tito merasa terluka mendengar kata-kata tersebut dari Sila. Rasa kecewa tergambar jelas di wajahnya. Dia berusaha menenangkan dirinya sejenak sebelum memberikan tanggapan.
"Terserah lo kalau emang itu yang lo rasain," ucap Tito dengan suara terdengar pelan dan sedikit pahit. "Gue hormati keputusan lo dan apa pun yang lo rasain, tapi gue gak akan nyerah!" cicitnya lagi.
Tito berusaha menjaga emosinya tetap terkendali meskipun hatinya terasa terluka. Dia menyadari bahwa tidak semua orang bisa merasakan atau memahami perasaannya. Meskipun terasa pahit, dia tidak ingin membuat situasi semakin rumit atau memaksakan perasaannya kepada Sila.
"Ngomong apaan sih lo? Bisik bisik gak jelas kek suara ikan?"
Tito membola mendengarnya, namun dia bertahan sekuat tenaga untuk tidak tersenyum.
"Gak ... Gue emang lagi ngomong sama ikan!"
Bego banget sih lo Tito, jelas jelas lo ngaco kalau lo bilang suka sama dia secepat ini! Mungkin kita hanya gak sejalan dalam hal perasaan, tapi gue gak akan nyerah. Gue udah nyaman sama lo Sila. batin Tito dengan sedikit senyuman pahit. Menyadari sikap Sila terlalu biasa hari ini, berbeda sekali dengan sebelumnya.
__ADS_1
Dengan kata-kata tersebut, Tito berbalik dan pergi dengan langkah yang tegap. Hatinya masih terasa berat, tetapi dia berusaha untuk menerima kenyataan dan melanjutkan langkahnya tanpa mengharapkan lebih dari apa yang sudah ada saat ini.
Sila melihat Tito pergi dengan perasaan campur aduk di dalam hatinya. Dia merasa bersalah karena menyakiti perasaan Tito, tetapi pada saat yang sama dia juga merasa bahwa dia harus jujur dengan dirinya sendiri. Sorry Tito ... Gue emang pengen deket sama lo tapi gue gak bisa nyakitin perasaan lo. Mungkin semua orang berfikir lo itu kasar dan begajulan, tapi gue baru sadar kalau lo punya hati yang lembut dan hangat. Batin Sila.
Ketidaksepahaman dan perasaan yang tidak sejalan diantara mereka menjadi kenyataan yang sulit untuk diatasi. Sila berharap bahwa di waktu mendatang, mereka berdua bisa menemukan kedamaian dan kebahagiaan masing-masing, meskipun saat ini jalan mereka terpisah.
Meskipun Tito bersikap dingin dan tampak seolah-olah tidak terpengaruh, di balik kediaman dan keheningannya terdapat kegundahan yang dalam. Hatinya terluka dan ia merasakan kekecewaan yang mendalam. Namun, ia memilih untuk menyembunyikan perasaan itu di balik topeng dingin yang ia kenakan.
"Ayo ... Lelet amat sih lo. Lo mau balik sendiri?" sentak Tito yang kini sudah naik di atas motor miliknya. Menatap Sila yang tengah berjalan dengan ragu ragu.
"Iya sabar kenapa sih!"
Tito tidak menjawabnya, namun kedua tatapannya terpaku tajam pada Sila yang kini menyambar helm yang berada di atas motor.
Tito berusaha untuk menjaga jarak dan menyimpan perasaannya sendiri. Baginya, itu adalah cara yang paling mudah untuk melindungi dirinya dari kemungkinan sakit hati lebih lanjut. Dia telah terluka jauh sebelumnya, keluarga berantakan dan tidak ingin mengulangi pengalaman yang sama lagi.
__ADS_1
Di dalam hatinya, Tito berharap bahwa kesendirian dan sikap dinginnya akan mampu melindunginya dari perasaan yang tidak diinginkan. Dia berusaha mengendalikan emosinya dan tetap tegar di hadapan Sila.
"Bukan masalah sabar, gue takut lo kemaleman balik ke rumah! Dan gue yang nanti di salahin."
Sila naik ke atas motor dengan bibir yang mencebik, mendorong punggung Tito ke arah depan. Ia tidak bisa menahan diri dari menghadapi kenyataan sebenarnya. Merenungkan perasaannya yang terpendam dan mempertanyakan pilihan yang ia ambil. "Bego lo Tito!" rutuknya pada diri sendiri.
Baru sekarang Tito merasakan rasa nyaman pada seseorang, dan berharap semua seindah dengan apa yang dia inginkan setelah merasakan kesedihan yang mendalam.
Motor berwarna hitam itu melaju dengan kencang, mereka berdua saling terdiam dengan fikirannya masing masing. Tito yang merindukan kehangatan dan hubungan yang nyata dengan orang lain. Namun, ia takut akan sakit hati dan pengkhianatan, dan memilih untuk tetap menjaga jarak. Dan Sila yang awalnya hanya berniat memanfaatkan perasaan Tito kini justru merasa takut dan ragu.
Kegundahan hati Tito mungkin tidak terlihat oleh banyak orang, Baginya, menyimpan perasaan itu sendiri adalah bentuk perlindungan diri yang ia yakini. Namun, entah kenapa Sila dapat melihatnya dengan mudah. Dan dalam keheningan malam, ia masih berjuang dengan perasaan yang rumit dan kebingungan yang mendalam.
Perjalanan cukup jauh dan melelahkan karena mereka berdua pergi ke pantai yang berada di luar kota. Sesekali Tito melirik ke arah belakang melalui spion di atas stang tangannya.
"Pegangan ... Lo mau jatuh?"
__ADS_1