
Meskipun masih merasakan efek dari malam sebelumnya, mereka memilih untuk tidak membiarkan keterlambatan dan rasa pusing merusak semangat dan keceriaan mereka. Mereka menyadari bahwa hidup tidak selalu serius dan terkadang, ada baiknya kita bisa tertawa pada diri sendiri.
Sikap konyol mereka menjadi pengingat bahwa bahkan dalam situasi sulit atau keterlambatan, kita masih bisa mencari keceriaan dan melihat sisi positif dari segala hal. Mereka tidak membiarkan kegagalan tersebut merusak semangat mereka, melainkan justru memanfaatkannya untuk menciptakan momen yang menggembirakan.
Dalam suasana riang dan penuh tawa, Adit dan Reksa Tberhasil mengubah suasana kelas menjadi lebih cerah dan menyenangkan. Mereka belajar bahwa terkadang, melawan tekanan dan kesulitan dengan sikap yang konyol dan positif dapat membuat hidup lebih ringan dan menyenangkan.
Sampai dosen kedua masuk dan memberikan sesi pelajaran. Mereka menyadari bahwa meskipun mereka terlambat, yang terpenting adalah cara mereka menghadapi situasi tersebut dan bagaimana mereka dapat membuat orang di sekitar mereka bahagia. Dalam kekonyolan mereka, mereka menemukan cara untuk mengatasi rasa malu dan menikmati momen yang ada.
"Apa kalian tidak pernah serius?" kata Dosen yang baru saja bicara namun riuh tawa seisi kelas membuyarkan fikiran.
Tito tetap tertidur, dia tidak bereaksi pada apapun yang terjadi di dalam kelas. Terlebih pada kekonyolan kedua sahabatnya itu.
"Rek, lo pernah melihat kelas seperti ini sebelumnya?" seru Adit yang merasa kelas terlalu serius dengan dosen yang tampak bersikap datar.
Reksa menggelengkan kepalanya. "Adit! Lo tahu Ini adalah kelas paling "eksis" yang pernah gue lihat! Lo lihat aja wajah wajah mereka?"
Adit menggangguk dan juga terkekeh. "Benar-benar! Bahkan papan tulis itu terlihat bosan dan kalau dia bisa ngomong mungkin dia ingin pergi liburan!"
Reksa tertawa. "Bener. Gue rasa kursi-kursi ini bisa ngomong juga,"
Keduanya tergelak, membayangkan pembicaraan papan tulis dan kursi yang merasakan kebosanan. "Hentikan! Kami tidak mau menahan lagi!" Adit menirukan suara memperagakan kursi kursi yang bisa bicara.
Keduanya terus tertawa, mengundang teman temannya untuk menoleh ke arah mereka dan penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
"Lo lihat, lampu-lampu di langit-langit! Mereka seperti penari diskotek yang ingin bergoyang semalem gak?"
__ADS_1
Reksa meniru gerakan lampu dengan tangan, "Disco time, baby! Mari kita berdansa di dalam kelas ini!
Adit kini tertawa dengan menggelegar. "Tapi tunggu dulu, Reksa! Lo bisa dengar gak?"
"Apa tuh Dit?
Adit mengedipkan mata. "Kelas ini punya rahasia! Gue yakin kita bisa mendengar suara pulpen yang berbisik!"
"Wow..." Reksa berpura pura terperangah lalu tertawa. "Kita udah gila!"
"Jangan salah. kita bisa menjadi detektif kelas! Coba lo denger apa yang mereka bilang!"
Reksa menurut saja dengan ucapan Adit. Dia mendekatkan telinga ke meja. " Hmm, sepertinya mereka ngomongin tentang Dosen yang gak jelas!"
"Wah!" Adit kini yang berpura pura terperangah. "Apa kabar Dosen Bahasa yang selalu bercanda? Apa kabar Dosen filsafat yang selalu tersesat dalam angka?" lanjutnya.
"Benar, komik "Kelas Kocak"! Gue bisa bayangin jadi mereka ... Seru dan lucunya itu!"
Dalam suasana kelas yang biasanya serius, Adit dan Reksa mengubahnya menjadi penuh dengan kekonyolan. Mereka memperhatikan setiap detail di dalam kelas dan menggali kekonyolan yang ada di sekeliling mereka. Melalui imajinasi mereka, kelas itu berubah menjadi panggung untuk aksi lucu dan cerita-cerita yang mengundang tawa.
Teman-teman sekelas mereka pun ikut terlibat dalam kekonyolan tersebut, berbagi cerita dan tertawa bersama. Suasana yang semula tegang dan serius berubah menjadi riang dan penuh dengan tawa.
Adit dan Reksa menunjukkan bahwa meskipun kita berada di dalam kelas yang serius, mereka masih bisa menciptakan momen kekonyolan dan keceriaan. Terkecuali Tito.
"Kayaknya kaliam berdua mabook kecu bung tuh pak!" seru seseorang dengan tertawa.
__ADS_1
"Ya ... lo berdia mabook yaa?"
Tuduh yang lain yang di akhiri kelas yang penuh tawa.
Mereka mengajak semua orang untuk melihat sisi lucu dalam belajar dan menjadikan suasana kelas lebih hidup dan menyenangkan. Membuat Dosen kewalahan hingga akhirnya berhenti mengajar dan mendengar kekonyolan mereka saja dengan ikut tertawa.
Berbeda dengan Tito yang tetap tidak terpancing sedikitpun. Dia tetap pulas dengan mimpi mimpi semu miliknya.
Sampai akhirnya sesi kedua pun berakhir begitu aja. Dan Dosen pun meninggalkan kelas dengan wajah yang masih menahan gelak tawa.
Tito terbangun saat semua sesi berakhir, tanpa kata dan tanpa bicara dia melenggang pergi dan menuju kantin. Perutnya yang terasa keroncongan membuatnya cukup menderita. Karena kedua temannya yang buru buru pergi, dia tidak sempat sarapan.
Tito duduk di sebuah kursi, memesan satu piring nasi goreng tanpa ingin terpengaruh tatapan tatapan takut dari beberapa mahasiswa yang sedang berada di sana. Mereka mencuri curi pandang dan takut jika Tito berulah.
Tanpa Tito tahu, Sila berjalan masuk ke aesh kantin. Dan tanpa sengaja bertemu pandang, suasana terasa canggung di antara mereka. Meskipun mereka tidak saling bicara, ada kepenasaran yang terpancar dari ekspresi Tito saat ia melirik ke arah Sila. Matanya penuh dengan tanda tanya, mencoba mencari tahu apa yang ada di pikiran Sila yang memalingkan wajahnya seketika.
"Tuh orang stress ... Kemaren aja mohon mohon sama gue buat hubungan baik dan nyoba berteman! Tapi sekarang dia kayak gitu!" gumam Tito yang langsung melahap makanan miliknya.
Di sisi lain, Sila merasakan tatapan Tito yang mengarah padanya. Hatinya berdegup kencang, tidak yakin apa yang harus dia lakukan atau katakan dalam situasi ini. Namun, dia merasa ada keingintahuan di balik tatapan Tito, mungkin ada tanda-tanda bahwa Tito juga memiliki perasaan yang sama dengannya atau bahkan mulai penasaran dengan perubahan sikapnya.
"Kerja bagus, biarin tuh laki penasaran sama lo!" bisik Merry.
Sila mengangguk kecil, namun diam diam dia juga melirik ke arah Tito. Dalam keheningan yang tidak nyaman, Tito dan Sila saling memperhatikan. Mereka berdua terjebak dalam kebisuan yang berat, namun di antara mereka ada percikan harapan. Apakah ini saat yang tepat untuk membuka pembicaraan dan mengatasi masalah yang terjadi sebelumnya?
Penasaran dan ketertarikan saling berkejaran di antara mereka. Tatapan mereka bertemu, menciptakan momen singkat namun penuh makna. Tito terlihat ragu, mungkin ingin mengucapkan sesuatu tapi juga takut melangkah terlalu jauh. Sedangkan Sila berusaha menunjukkan keberanian yang terpancar dari matanya. Usahanya berhasil membuat Tito penasaran.
__ADS_1
Namun, mereka sama sama tidak siap untuk melangkah lebih jauh pada saat itu. Keduanya masih tetap diam di tempat duduknya masing masing. Seolah mereka sendiri perlu waktu untuk saling memahami. Tapi tatapan singkat itu menjadi tanda bahwa ada potensi untuk perubahan, untuk menyelesaikan masalah yang rumit dan memulai kembali hubungan mereka dengan baik.
"Merr ... Habis ini gue harus apa?"