
"Merr ... Setelah ini gue harus apa?"
Merry terkekeh, "Lo lihat aja, kalau dia bereaksi, atau dia panggil lo, fix dia mulai penasaran. Lo udah bagus buat sekarang diem aja dulu. Kita lihat reaksinya gimana?"
Dengan tatapan terakhir yang penuh harapan, Tito dan Sila berpisah dalam kantin yang ramai. Namun, ada benih-benih kesempatan yang tertanam di antara mereka. Apakah mereka akan memanfaatkan kesempatan ini untuk memperbaiki hubungan mereka?
Pertemuan itu tampaknya tidak berkembang sesuai harapan, Tito tetap diam dan tidak berbicara. Begitu juga dengan Sila, mereka berdua terjebak dalam keheningan yang membingungkan. Tito tidak memberikan tanda-tanda apa pun tentang niatnya atau perasaannya. Sikapnya yang diam dan kemudian pergi begitu saja membuat Sila merasa bingung dan terombang-ambing.
"Merry lo lihat itu kan?"
Merry terperangah, belum pernah melihat pria seacuh seperti Tito. Sila yang duduk di depannya, memandang Tito yang pergi dengan kebingungan dan kekecewaan yang mendalam. Dia bertanya-tanya mengapa Tito tidak mengambil kesempatan untuk mengatasi kebisuan mereka atau bahkan berbicara dengannya. Rasa bingung dan kekosongan melingkupi hati Sila, membuatnya semakin terisolasi dalam konflik yang rumit ini.
"Padahal gue harap dia penasaran sama Lo Sil ... Tapi gue salah, dia mungkin emang gak ada niatan buat berurusan sama lo!" cicit Merry.
Sila mengangguk. "Gue juga bilang apa. Yang kayak gini tuh bikin posisi gue makin kejepit dan gak tahu diri gak sih!"
"Kagak ... Kita masih harus terus berusaha Sil! Jangan nyerah!"
Tito yang pergi dengan begitu saja meninggalkan banyak pertanyaan di pikiran Sila. Dia bertanya-tanya apakah Tito tidak peduli atau apakah dia masih ragu-ragu dan bingung tentang bagaimana menangani situasi ini. Apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran Tito? Mengapa dia memilih untuk pergi tanpa menjelaskan apa pun walaupun sejak tadi mereka saling menatap.
Sila merasa semakin terjebak dalam kebingungan dan keputusasaan. Dia berharap Tito akan memberikan kejelasan atau setidaknya berbicara dengannya untuk mencari pemahaman dan solusi. Namun, sikap Tito yang diam dan pergi meninggalkannya tanpa jawaban.
Dalam kekosongan itu, Sila merasa sendirian dan semakin terombang-ambing. Dia merasa bahwa masalah ini semakin rumit dan sulit untuk diselesaikan. Namun, dia juga menyadari bahwa dia perlu mencari jalan keluar sendiri, mencari pemahaman dan solusi yang mungkin tidak datang dari Tito.
"Kayaknya kita salah langkah deh Merr ... Dia gak mempan pake cara itu. Gimana menurut Lo? Kita ganti metode aja lah ya, kita cari apa gitu yaa ... Asal gue gak nyoba deketin personal dia!"
__ADS_1
Merry menghela nafas. "Ya jangan, kita tunggu sebentar lagi!"
Dengan hati yang berat dan pikiran yang penuh kebingungan, Sila memutuskan untuk melangkah maju dan mencari kejelasan yang ia butuhkan. Dia tahu bahwa dia harus menemukan kekuatan dan keberanian untuk mengatasi konflik ini, bahkan jika itu berarti melakukannya sendiri.
Dalam keadaan yang rumit ini, Sila menyadari bahwa dia perlu mencari dukungan dan bantuan dari orang-orang terdekatnya. Dia akan mencari saran dari teman-teman atau bahkan dari seorang penasihat yang dapat membantunya menghadapi situasi ini dengan bijak.
Meskipun masih ada banyak pertanyaan dan kebingungan yang melingkupi Sila, dia tidak ingin membiarkan dirinya terjebak dalam sikap diam dan keputus asaan. Dia akan mencari kejelasan, mengambil kendali atas hidupnya sendiri, dan menemukan jalan keluar dari masalah yang menurutnya rumit ini.
"Gue harus gimana dong Merr?" ucap Sila saat mereka berdua keluar dari kantin dengan es jeruk ditangan mereka.
Saat Sila dan Merry keluar dari kantin, mereka terkejut melihat Tito berdiri di luar dengan motor miliknya. Tito terlihat sedikit canggung, namun ada keberanian yang terpancar dari wajahnya.
Sila merasa campuran antara kegembiraan dan kekhawatiran. Dia tidak yakin apa yang sebenarnya ada di pikiran Tito, tetapi ada sedikit harapan bahwa pertemuan ini bisa menjadi kesempatan untuk mengatasi masalah mereka.
Merry memberikan dukungan kepada Sila dengan senyum menggembirakan. "Tuh apa gue bilang, ini adalah kesempatan lo, Sila. Sana ngomong lagi sama Tito dan cari kejelasan yang lo mau!"
"Tito, ada sesuatu yang perlu gue bicarakan sama lo," ucap Sila dengan suara yang sedikit gemetar.
Tito mengangguk singkat, "Sama!" ucapnya dengan memberikan helm pada Sila. Tanda bahwa dia mau mendengarkan apa yang Sila ingin sampaikan dan apa yang ingin dia sampaikan juga.
Sila terperangah menatap helm yang disodorkan Tito, dengan ragu ragu kedua tangannya mulai bergerak. Namun gerakannya terlampau lambat hingga Tito memasangkannya dengan cepat di kepala Sila.
"Banyak bengong lo!" ujar Tito dengan langsung menaiki motor miliknya. "Buruan naik!" katanya lagi dengan menoleh pada Sila yang masih terperangah tak percaya.
Merry tersenyum saat Sila menolah ke arahnya sesaat sebelum dia naik ke atas motor. Lalu mengangguk anggukan kepalanya. Sampai motor melesat dengan kencang keluar dari kawasan kampus.
__ADS_1
"Dalam beberapa waktu terakhir, kita mengalami masalah yang bagi gue ini rumit. Dan gue ngerasa terjebak dalam kebingungan dan putus asaan. Tapi gue ingin nyari jalan keluar dan nyelesaikan masalah ini," ucap Sila dengan penuh ketegasan dibelakang Tito.
Tito jelas tidak mendengarkan dengan baik, suara bising dari knalpot dan juga suara suara lainnya di jalan memecah pembicaraan Sila.
"Hah ... Lo ngomong apa tadi?"
Sila berdecak, dengan suara keras dia mengulangi ucapannya lagi. "Gue ngerasa terjebak dalam kebingungan dan putus asaan. Tapi gue ingin nyari jalan keluar dan nyelesaikan masalah ini!"
"Hah?"
"Tito ... Gue serius. Lo gak usah pura pura budeg! Ini soal masalah kita!"
"Masalah? Masalah apa lagi?"
"Jalan keluar apa?" ujar Tito. "Masih masalah kecil yang gue buat?"
Sila mengangguk. "Ya ... Tapi buat gue itu masalah gede!"
Motor berhenti di sebuah warung makan yang tampak sederhana. Sila lagi lagi terperangah karenanya. Alih alih bicara langsung, Tito malah mengajaknya ke warung makan.
"Sorry gue laper!" Sila mengantisipasi dan berjaga jaga agar tidak masuk dalam jebakan yang bisa membuatnya kembali dalam masalah. Dia membuka helm yang dikenakannya dengan cepat dan langsung menyimpannya di atas jok motor. "Kenapa kita gak langsung ngomong aja!"
Tito menyimpan helm miliknya di atas body motor lalu mendengus pelan. "Gue masih laper, nasi gorang di kantin tadi gak enak!"
Setelah mengatakannya, Tito melenggang masuk, meninggalkan Sila begitu saja. Dan setelah beberapa langkah dia baru menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Buruan. Bukannya lo butuh solusi buat masalah yang lo fikir rumit ini?"