
Dalam perjalanan pulang, Reksa dan Adit terus bercerita tentang momen-momen menegangkan dalam balapan, serta betapa beruntungnya mereka bisa mendukung Tito dan merasakan kebahagiaan atas kemenangannya. Mereka merasa senang dan bersemangat untuk memberikan berita gembira kepada teman temannya yang lain tentang hasil taruhan yang berhasil mereka kumpulkan sementara Tito tetap dingin dan tidak banyak bicara.
Keberhasilan dalam mengumpulkan uang taruhan ini tidak hanya memberikan keuntungan finansial bagi Reksa dan Adit, mereka membagi rata hasil kemenangan dan memberikan bagian terbesar untuk Tito.
"Nih bagian lo ... Ini bagian gue sebagai manager lo dan ini lo Dit, sebagai asisten gue!" Reksa tertawa.
"Sialan lo ... bagian gue dikit amat!"
Tito kini bisa tertawa karena tingkah kedua temannya. Bukannya teman biasa yang hanya ada saat dia membutuhkannya tetapi juga menguatkan persahabatan mereka. Mereka merasa terhubung dan saling mendukung dalam keputusan mereka untuk mempertaruhkan uang dalam balapan ini.
"Mulai sekarang gue akan mengurus lo dengan baik Jul ... Gue bakal terima tantangan siapapun yang ingin kalah!" Reksa kembali tertawa. "Malam ini kita pesta mi ras!!" serunya dengan suara keras
Setelah mengumpulkan semua uang taruhan dari kemenangan Tito, Adit, Reksa, dan Tito memutuskan untuk merayakan dengan bersenang-senang. Mereka merasa bahwa momen ini pantas untuk merayakan keberhasilan mereka dan melepaskan diri dari tekanan balapan yang sengit.
Mereka pergi ke sebuah tempat hiburan yang ramai dan penuh semangat. Atmosfer yang riuh dan musik yang menghentak menciptakan suasana yang seru dan penuh kegembiraan. Adit dan Reksa dengan riang bergandengan tangan, sementara Tito menyusul di belakang dengan senyuman lebar di wajahnya.
Mereka menghabiskan uang hasil taruhan untuk membeli minuman dan makanan, menciptakan suasana yang semakin meriah. Gelas-gelas minuman berwarna-warni dipenuhi dengan cairan beralkohol yang menggoyang semangat mereka. Mereka bersorak dan tertawa, mengangkat gelas untuk merayakan kemenangan mereka.
__ADS_1
Saat musik semakin bergema, Adit, Reksa, dan Tito bergabung dengan penari-penari lain yang ada di tempat tersebut. Mereka menari dengan penuh semangat, melupakan segala kelelahan dan kekhawatiran yang mereka rasakan. Gerakan-gerakan mereka yang enerjik menghipnotis penonton di sekitar mereka.
Malam berlanjut dengan tawa, obrolan, dan keceriaan. Adit, Reksa, dan Tito saling bercanda dan berbagi cerita, menambah kenangan yang tak terlupakan dalam perjalanan persahabatan mereka. Mereka menikmati kebebasan dan kegembiraan yang ditawarkan oleh malam itu, mencairkan segala tegangan dan kecemasan yang sebelumnya mereka alami.
Namun, di tengah euforia dan kesenangan, mereka tidak melupakan tanggung jawab dan batasan. Mereka tetap bertanggung jawab dalam mengendara dan mengonsumsi minuman dengan bijaksana. Keamanan dan kesejahteraan mereka tetap menjadi prioritas utama, sehingga mereka dapat menikmati malam dengan santai dan tanpa kekhawatiran.
Saat malam semakin larut, Adit, Reksa, dan Tito melangkah keluar dari tempat hiburan dengan senyuman yang terpancar di wajah mereka. Mereka merasa bahagia, puas, dan terhubung satu sama lain melalui momen yang telah mereka lewati bersama. Kemenangan dalam balapan telah memberikan mereka alasan untuk merayakan dan memperkuat ikatan persahabatan mereka.
Dengan langkah yang mantap, mereka berjalan pulang sambil mengenang momen-momen menyenangkan yang mereka alami. Kebersamaan, kegembiraan, dan semangat yang mereka rasakan pada malam itu akan selalu menghangatkan hati mereka dan menjadi kenangan indah yang tidak terlupakan.
Sementara Reksa tertawa terbahak bahak melihatnya, "Gue juga!" ujarnya dengan suara keras.
Tito hanya mengelengkan kepalanya saja melihat kekonyolan kedua sahabatnya itu sampai akhirnya mereka sama sama kembali ke tempat yang selama ini ditinggali oleh Tito. Rumah Bang Boni.
Setelah meraih kemenangan yang spektakuler, Tito seharusnya merasa senang dan puas dengan pencapaian tersebut. Namun, di balik senyumnya yang terpancar, ada perasaan kesepian yang tersembunyi di dalam hatinya. Bagi Tito, kemenangan ini tidak mampu mengisi kekosongan yang ada dalam hidupnya.
Meskipun dikelilingi oleh sorakan dan pujian dari penggemar dan teman-temannya, Tito merasa sendiri dalam kerumunan tadi, entah berapa botol minuman yang dia habiskan tadi dan betapa senangnya dia di dalam tempat hiburan itu namun semuanya tidak berarti lagi saat dua temannya tidak lagi berceloteh. Mereka terbaring tak sadarkan diri dilantai begitu tiba di rumah Bang Boni.
__ADS_1
Dia menyadari bahwa kemenangan semata tidak cukup untuk menghilangkan rasa sepi yang terus menghantuinya. Meskipun banyak yang mengidolakannya sebagai pembalap hebat, dia merasa terisolasi dan tidak bisa benar-benar terhubung dengan orang-orang di sekitarnya.
Di antara sorakan dan tepuk tangan untuknya tadi. Kini Tito merenung tentang arti sebenarnya dari kesuksesan dan kebahagiaan. Dia menyadari bahwa prestasi semata tidak mampu mengisi kekosongan dalam hati dan jiwa. Kemenangan balapan hanya memberikan kepuasan sesaat, tapi tidak memberikan kebahagiaan yang sejati dan makna yang mendalam.
Saat semua orang mengagumi dan memuji keberhasilannya, Tito merasa terasing dan terasingkan. Dia merindukan kedekatan yang lebih dalam dengan orang-orang di sekitarnya, rasa saling pengertian dan kebersamaan yang jauh dari jangkauannya. Meskipun menjadi pusat perhatian, Tito merasa terasing dari dunia sekitarnya, jauh dari keluarga dan memiliki hubungan keluarga yang rumit. Alih alih menyelesaikan masalah yang membuatnya lari, dia justru mencari kesenangan dan kebahagian semu di luar.
Perasaan kesepian itu semakin menguat saat Tito menyadari bahwa kemenangan tidak membawa kebahagiaan bila tidak ada seseorang untuk berbagi momen itu. Dia merindukan orang yang dapat diajak berbicara dan mendengarkan, seseorang yang benar-benar mengerti dan menghargai dirinya di balik keberhasilannya, bukan hanya itu saja, namun tempatnya berbagi luka dan mampu menjadikannya obat dan membuatnya sembuh.
Tito menyadari bahwa hidupnya tidak hanya tentang balapan dan kemenangan. Ada aspek lain dalam kehidupan yang tak bisa diisi dengan prestasi buruk semata. Dia merindukan kedekatan emosional, hubungan yang mendalam, dan arti yang lebih dalam dalam hidupnya.
Dalam keheningan dan kesendirian malam itu, Tito menatap langit langit ruangan membiarkan perasaan kesepian meresap ke dalam dirinya. Dia merasa perlu mencari jalan untuk menemukan keseimbangan antara kesuksesan profesional dan kebahagiaan pribadi. Ada sedikit ruang dihatinya yang terluka dan tidak bisa dia temukan obatnya. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk mencari makna yang lebih dalam dalam hidupnya dan mencari keberadaan seseorang yang dapat melengkapi kekosongan di hatinya.
Dengan tekad yang kuat, Tito bergerak ke atas dimana kamarnya berada, dia meninggalkan kedua temannya dan langsung mengunci diri, menyadari bahwa kemenangan di lintasan hanya sebagian kecil dari gambaran hidup yang lebih besar. Dia memulai perjalanan untuk menemukan arti yang sejati dalam kehidupannya, mengisi ruang kosong yang ada dengan hubungan keluarga yang berantakan dengan sesuatu yang tidak bermakna yang sedang dia jalani saat ini.
Tito mengeluarkan dompet miliknya dan mengambil selembar foto yang selalu dia bawa dan dia rindukan selama ini.
"Ibu ...!"
__ADS_1