Jagoan Kampus

Jagoan Kampus
Bab.15(Gumaman kesedihan)


__ADS_3

"Ibu!"


Di tengah keheningan malam yang sunyi, Tito terbaring sendirian di kamarnya, terhempas oleh gelombang kepedihan yang tak terelakkan. Hatinya dipenuhi dengan rindu yang mendalam akan sosok ibunya yang telah lama tiada. Dalam keheningan itu, gumaman-gumaman kesedihan terucap dari bibirnya tanpa sadar.


"Gadis mana yang mungkin mengerti tentang kesepianku?" gumam Tito dengan suara serak. "Tiap kali meraih kemenangan, tak ada seseorang yang aku ingin berbagi kebahagiaan itu. Ibu, bagaimana mungkin aku bisa merasa sendiri di tengah keramaian tapi merasa sepi?"


Gumaman-gumaman kesedihan Tito menggambarkan kekosongan dalam dirinya yang tidak terisi. Ia merindukan sentuhan hangat dan pelukan ibunya yang mampu melenyapkan semua kegelisahan dan kepedihan. Ibu adalah sosok yang selalu ada untuknya, memberikan dukungan dan cinta tak terbatas. Namun itu dulu, kini sosok itu tidak ada lagi untuknya.


"Rindu itu semakin membelenggu diriku," ucap Tito dengan sedih. "Aku butuh seseorang yang mengerti betapa beratnya menjadi aku. Seseorang yang bisa melihat melampaui sorotan publik dan melihat diriku yang sebenarnya. Ibu, kenapa aku merasa seperti tak bisa menemukan sosok seperti itu?"


Dalam gumaman-gumaman itu, Tito merenungkan betapa berartinya sosok ibu dalam kehidupannya. Ibu adalah orang yang selalu mendengarkan curhatan, memberikan nasihat bijaksana, dan memberikan dukungan tanpa syarat. Kepergiannya telah meninggalkan kekosongan yang tak tergantikan dalam hati Tito, dan memperburuk hubungannya dengan sang Ayah, terlebih ayahnya kini sudah menikah lagi.


"Saat aku berada dalam kesulitan, atau meraih kemenangan, aku sering berharap ibu ada di sini," gumam Tito dengan suara bergetar. "Aku ingin melihat senyum bangga di wajahnya dan mendengar kata-kata pujian darinya. Nasihat darinya dan kini aku tanpa kehadirannya terasa hampa, ibu."


Dalam gumaman-gumaman yang penuh rindu itu, Tito menggumamkan janji pada ibunya yang telah tiada. "Aku akan terus hidup seperti ini, ibu. Aku ingin menjalani hidupku sesuai yang aku mau dan aku akan mencapai kesuksesan sebesar-besarnya, tapi tidak akan pernah melupakan kehidupan yang lebih kejam tanpa mu ibu. Aku akan mencari seseorang yang bisa mengisi kekosongan dalam hatiku, seperti cintamu yang tak pernah pudar."


Dalam keheningan malam yang semakin larut, gumaman-gumaman kesedihan itu melambat secara perlahan. Tito mengambil napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan diri. Meskipun kesedihan masih ada, ia tahu bahwa ia harus melanjutkan perjalanan hidupnya dengan harapan dan tekad yang baru.


Tito memutuskan untuk menjadikan gumaman-gumaman kesedihan itu sebagai pemacu untuk terus berjuang mencapai tujuannya, tidak hanya dalam balapan liar yang tidak bermakna dan proses hidupnya yang berat, masalah masalah yang dia hadapi dan juga masalah lainnya. Tetapi juga dalam kerinduannya mencari kebahagiaan sejati dan kehadiran seseorang yang mampu membuatnya berubah.


***


Keesokan harinya, Adit, Reksa, dan Tito terbangun dengan perasaan yang tidak nyaman. Mereka merasakan efek dari malam yang penuh dengan minuman dan kegembiraan. Ketika mereka melihat jam di dinding, mereka menyadari bahwa mereka terlambat untuk masuk kampus.

__ADS_1


Dengan kepala yang masih pusing dan tubuh yang lemas, mereka berusaha untuk mengumpulkan semangat dan segera bersiap-siap. Sibuk mencuci muka, menggosok gigi, dan mengenakan pakaian dengan tergesa-gesa, mereka berusaha menutupi keterlambatan mereka.


Mereka keluar dari rumah dengan cepat, melompat ke dalam motor miliknya masing masing. Dan melaju dengan kecepatan yang tinggi menuju kampus. Jalanan yang biasanya lancar kini penuh dengan kendaraan yang bergerak lambat, menambah frustrasi mereka yang sudah terlambat.


Di dalam mobil, mereka saling bertatapan dengan ekspresi pusing dan letih. Kelelahan dan efek dari malam yang berlebihan semakin terasa. Mereka berharap bisa tiba di kampus dengan cepat dan menghindari masalah lebih lanjut.


Namun, semakin mereka mendekati kampus, semakin terasa bahwa waktu semakin berlari dengan cepat. Mereka merasa seperti berada dalam perlombaan melawan waktu yang tak terbendung. Setiap detik terasa berharga, dan mereka berusaha semaksimal mungkin untuk tidak terlambat.


"Sial ... Kita bener bener telat!" teriak Adit.


"Ya ... Ini semua gara gara Lo!"


Hanya Tito yang terlihat biasa biasa saja, dia terlihat mengendarai motor miliknya dengan santai.


Dengan nafas terengah-engah dan keringat mengucur di dahi, Reksa dan Adit melangkah ke dalam ruangan kelas dengan perasaan campur aduk antara lega dan penyesalan.


Mereka menemui dosen yang sudah memulai pelajaran dan berusaha menjelaskan alasan keterlambatan mereka dengan wajah yang masih pucat dan lesu. Meskipun dosen memberikan teguran dan pandangan tajam, mereka bersyukur masih diperbolehkan masuk ke dalam kelas. Sementara Tito melenggang duduk tanpa bicara apapun saat kedua temannya bicara pada dosen mereka.


Dosen pun hanya menghela nafas melihat Tito yang sudah lebih dulu duduk tanpa meminta izin seperti dua sahabatnya itu.


"Duduklah! Dan benahi pakaian kalian." serunya pada kedua mahasiswa yang terlihat berpakaian berantakan.


Saat duduk di bangku, kepala mereka masih pusing dan pandangan mereka berkunang-kunang. Mereka menyadari bahwa perbuatan mereka semalam memiliki konsekuensi yang nyata. Tapi mereka tidak memperdulikan hal tersebut apalagi berusaha untuk lebih bertanggung jawab dan menghindari kegiatan yang dapat mengganggu keseimbangan hidup dan akademik mereka.

__ADS_1


Kesalahan mereka tidak menjadi pengingat yang pahit tentang pentingnya menjaga kesehatan dan kedisiplinan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam keheningan kelas, terlebih Tito, dia hanya menelengkupkan kepala diatas meja dan kembali tertidur pulas.


Meskipun kepala mereka masih pusing dan tubuh mereka lelah, Reksa dan Adit mencoba untuk tetap fokus pada pelajaran dan mengikuti perkuliahan dengan baik. Mereka tidak berharap dapat mengatasi efek samping yang mereka rasakan dan belajar dari kesalahan mereka.


Mereka tidak menyesal karena terlambat justru malah bersikap konyol. Mereka memilih untuk melihat sisi lucu dari keterlambatan mereka dan mencoba membuat suasana menjadi lebih ringan.


"Kepala gue masih berat! Gue pengen tidur seharian atau mabook sekali lagi?"


"Sial ... Lo lihat tuh si Ijul. Dia doang yang gak peduli apa apa di kelas tapi gak akan dapet masalah. Beda sama kita, tuh buruan catet!" ungkap Adit yang terus berusaha menulis walaupun merasakan hal yang sama dengan Reksa.


Sampai sesi berakhir dan dosen pergi keluar dengan sekali melirik ke arah Tito yang tidak peduli padanya. Suara riuh kembali terdengar seperninggal dosen. Reksa dan Adit benar benar menghela nafas lega dan terus bersikap konyol. Mereka berdua tidak dapat menyembunyikan keadaan mereka yang terlihat kocak. Adit mengibaskan tangannya di udara dengan gaya yang dramatis, seolah-olah sedang beraksi dalam film aksi. Reksa dengan santai melemparkan lelucon spontan, mencoba membuat teman-temannya tersenyum.


"Hilang permataku ... Hilang harapanku!" teriak Adit bernyanyi musik era 80 an.


"Lo gila ... Nyanyi apaan itu!?"


Adit, meskipun masih merasa pusing, melambaikan tangan dengan penuh semangat dan menyanyikan sebuah lagu dengan suara yang aneh. Mereka berusaha mencairkan ketegangan dan membuat suasana di kelas menjadi lebih ceria.


Teman teman mereka dikelas yang awalnya kesal dengan keterlambatan mereka, tidak bisa menahan senyum saat melihat sikap konyol mereka.


"Emang gila mereka berdua itu!"


"Ya ... Benar benar gila!"

__ADS_1


__ADS_2