Jagoan Kampus

Jagoan Kampus
Bab.19(Berteman)


__ADS_3

Sila lagi lagi terperangah mendengar Tito yang terlalu bersikap santai pada masalah apapun yang dia hadapi.


"Lo gila ya?"


Tito hanya mengerdikkan kedua bahunya.


"Mungkin lo benar, Sila. Gue emang udah gila. Tapi kalau lo ingin solusi dari gue. Itulah solusinya!"


"Jadi menurut lo. Gue gak perlu ngurusin masalah surat itu. Gue nyoba ngalihkan fokus gue ke hal-hal yang positif dan mencari kegembiraan dalam hidup. Itu bisa bantu gue nelihat masalah kita dengan sudut pandang yang berbeda?" kata Sila dengan penuh heran.


Tanpa di sangka, Tito menjentikkan jemarinya. "Seratus buat lo! Kali kali lo boleh nakal ... Biar hidup lo dikit seru!" ucapnya lagi dengan terkekeh.


Sila melemparkan gulungan tisu ke arah Tito dengan kesal. "Sialan lo!"


"So ... Lo mau terus ngurus masalah itu sampe tiap hari datang ke ruangan rektor padahal lo udah tahu akan gimana respon mereka kan?"


Sila berdesis. "Ish ... Lo tahu hal itu? Padahal masalah ini awalnya dari lo!"


"Jadi gimana solusi dari gue?"


Entah kenapa Sila mengangguk dengan mudah, dia bisa tahu satu hal jika Tito adalah orang yang tidak mudah di tebak. Ada sesuatu dalam dirinya yang menarik. Tapi sesuatu yang menarik itu tertutup oleh kelakuan buruk yang dia lakukan dan sikap sketip yang kerap dia lakukan.


Tito tersenyum lega mendengar respon Sila. "Baguslah kalau lo setuju, Sila. Mulai sekarang lo gak usah mikirin lagi masalah itu atau berusaha mati matian. Toh pihak kampus gak akan berani ngusik gue! Jadi lo bakal rugi sendiri! Ya waktu ya fikiran lo sendiri!"


"Kenapa pihak kampus gak berani ngusik lo. Apa karena bokap lo? Apa itu sebabnya lo twrus bikin ulah?" tanya Sila yang bisa mengambil dugaan dan kesimpulan dengan cepat.


Tito mengangguk kecil, kedua sudut bibirnya melengkung denga getir. Dan membuat sedikitnya Sila faham akan hal itu.


"Gue jadi ngerti sekarang kenapa lo banyak ulah. Apa lo sedang mancing mancing bokap lo?"

__ADS_1


Raut wajah Tito berubah, kini tatapannya semakin tajam dengan rahang tegas miliknya. "Itu bukan urusan lo!"


"Sorry ... Gue gak ada maksud mencampuri urusan lo!Tapi gue ngerasa kita bisa saling dukung dan menciptakan suasana yang lebih baik bagi hubungan kita berdua." Sila kini tersenyum.


"Hubungan kita berdua? Maksud lo?"


Sila mengerjap ngerjapkan kedua matanya, "Maksud gue. Hubungan pertemanan kita!"


"Oh ...!" Tito mengangguk ngangukkan kepalanya mengerti.


Sila dan Tito merasa sedikit lega setelah percakapan tersebut. Mereka menyadari bahwa tidak semua masalah harus dihadapi dengan serius dan tegang. Terkadang, mencari kegembiraan dan keberanian untuk melihat hal-hal yang lebih positif bisa membantu mereka menemukan solusi yang lebih baik.


Dengan tekad baru dan semangat yang baru, Sila dan Tito berkomitmen untuk mencoba pendekatan baru dalam mengatasi masalah dan konflik mereka. Mereka berjalan bersama, berbagi tawa dan cerita, merasa lebih dekat satu sama lain.


"Gue gak nyangka lo lucu juga!" ucap Sila mendengar celotehan Tito yang konyol dan tidak masuk akal.


"Mana ada ...Kalau gue lucu, gue udah jadi pelawak di tv!"


Tito tersenyum, "Apa gue semenakutkan itu?"


"Hm ... Kayaknya sih gitu! Atau mungkin karena mereka gak tahu lo dan lo juga gak ada niatan buat terbuka sama mereka!"


"Lo udah kayak peramal aja!"


Keduanyamerasa lega bisa saling bicara satu sama lain. Setidaknya Tito membuat Sila yakin jika dia tidak akan mendapat masalah apapun dari kampus karena surat itu. Mencoba mengabaikan masalah kecil itu dan melupakannya.


Sila beruntung bisa bicara dengan Tito sesantai saat ini. Menyadari jika Tito tidak seburuk yang dia kira. Dia merasa memiliki teman baru yang bersiap untuk menghadapi tantangan yang ada di depan, dengan harapan dan keyakinan bahwa mereka akan menemukan solusi yang tepat dan memperbaiki hubungan mereka.


Keduanya tampak terbuka untuk mendengar apa yang ingin disampaikan dan apa yang diterima dengan baik.

__ADS_1


"Gue baru tahu kita memiliki perbedaan dan kesalah pahaman di sini, tapi gue percaya kita masih bisa menemukan titik temu. Gue ingin kita bisa berbicara dengan jujur, mengungkapkan perasaan dan pemikiran kita, dan mencari solusi yang baik bagi kita berdua," ujar Sila dengan tulus.


Tito menghela nafas dalam-dalam. Dia menatap Sila dengan penuh penyesalan. "Sila, gue minta maaf kalau sikap gue sebelumnya. Gue gak ngomong dan gue gak respon lo sebelumnya. Tapi gue gak ngira kalau masalah ini berat buat lo dan gue gak mau mengabaikan atau bikin lo jadi beban karena masalah gue. Aku hanya merasa sulit buat semua orang ngerti apa yang gue ungkapin. Dan gue gak nyangka lo bisa gue ajak ngomong!"


Sila merasa lega mendengar permintaan maaf dari Tito. "Makasih kalau lo percaya sama gue dan makasih atas permintaan maaf lo Tito. Gue ngerti sekarang kalau lo kadang-kadang sulit untuk berbicara tentang perasaan. Tapi aku percaya bahwa kita bisa mencari solusi bersama-sama."


Tito tersenyum kecil, dan itu memberikan harapan kepada Sila. "Gue setuju, Sila. Itu pun kalau lo punya harapan gede kalau kita bisa temenan dengan baik."


Sila dan Tito akhirnya keluar dari rumah makan sederhana itu. Mereka keluar dengan wajah yang berseri dan berjalan dan duduk di sebelah motor Tito, dengan terus memulai pembicaraan yang jujur dan tulus. Mereka saling mendengarkan, saling berbagi perasaan, dan berusaha mencari solusi yang dapat mengakhiri konflik mereka.


Tito dan Sila merasa sebuah kedamaian yang lama dinantikan mulai mengisi hati mereka. Percakapan mereka telah membantu mereka memahami satu sama lain dengan lebih baik dan menyelesaikan masalah yang telah membelenggu hubungan mereka.


"Lo mau ikut gue ke satu tempat?" tanya Tito.


"Kemana? Gue takut lo culik!"


Tito tertawa. "Udah Ikut aja, yang pasti yang nyuliknya juga ganteng. Lo gak akan rugi kalau gue culik!"


Sila tertawa, lantas dia naik keatas motor dan memasangkan helm diatas kepalanya. Tito tertawa saat melajukan kendaraan roda dua miliknya saat Sila belum siap dan berpegangan hingga dia menjerit kaget.


"Tito ... Lo mau gue jatoh?"


"Sorry ... Gue fikir lo udah siap!"


Mereka menyusuri jalanan sore yang tampak sedikit macet. Mereka berdua tertawa bersama saat dan melesat dengan cepat. Perasaan lega menaungi keduanya dan Tito merasa sesuatu yang berbeda kali ini. Dia bisa tertawa dengan tulus, bicara dengan tulus dan tidak ada beban sedikitpun. Namun sepertinya mereka menuju tempat yang cukup jauh dan Tito membawa Sila keluar dari kota.


"Lo mau ajak gue kemana sih sebenernya. Kok gak nyampe nyampe!"


Tito tertawa, dia semakin menancap gas dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


"Nanti lo tahu sendiri."


__ADS_2