
"Buruan. Bukannya lo butuh solusi buat masalah yang lo fikir rumit ini?"
Sila melihat Tito dengan kebingungan, tidak yakin mengapa dia menggunakan kata-kata yang tajam. Tetapi dia menyadari bahwa Tito mungkin ingin mengatakan sesuatu yang penting. Sila pun bergegas menyusulnya dan masuk ke dalam warung makan yang terlihat cukup ramai.
Suasana di rumah makan sederhana itu begitu hangat dan ramah. Ketika langkah kaki memasuki pintu, tercium aroma masakan yang menggugah selera dan membuat perut bergelora. Suara gemericik percakapan dan tawa dari pengunjung membuat ruangan itu penuh kehidupan.
Meja-meja kayu yang sederhana terisi oleh pengunjung yang sedang menikmati hidangan lezat. Lampu gantung yang hangat menerangi setiap sudut ruangan, menciptakan atmosfer yang nyaman dan santai.
Di dapur terbuka, aroma rempah-rempah bercampur dengan wangi masakan yang sedang dimasak oleh juru masak yang bersemangat. Suara berdesir-desir panci dan suara senggau pisau memotong bahan-bahan segar mengisi keheningan dapur.
Pelayan dengan senyum ramah menghampiri setiap meja, melayani dengan keramahan dan keceriaan. Mereka siap memberikan rekomendasi tentang hidangan spesial yang bisa dinikmati para pengunjung.
Pelanggan dari berbagai kalangan tampak menikmati hidangan mereka. Ada pasangan yang sedang berkencan dengan senyum bahagia di wajah mereka, keluarga yang berbagi tawa dan cerita di sekitar meja, dan sekelompok teman yang berdiskusi sambil menikmati makanan lezat.
Suasana rumah makan sederhana ini memancarkan kehangatan dan keramahan. Tidak ada perasaan tergesa-gesa atau tekanan. Semua orang bisa menikmati hidangan mereka dengan santai dan menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat.
Dalam keriuhan itu, terdengar pula suara musik yang lembut memainkan melodi yang menenangkan. Melodi itu memberikan latar belakang yang sempurna untuk percakapan dan kenikmatan makanan yang disajikan.
Di sudut ruangan, terdapat rak buku dengan beragam judul yang menarik. Beberapa pengunjung memilih untuk membaca sambil menikmati hidangan mereka, menciptakan suasana yang tenang dan membawa mereka ke dunia yang lain.
Suasana di rumah makan sederhana ini menyatu dengan kebahagiaan, kehangatan, dan kebersamaan. Setiap pengunjung merasa dihargai dan diterima dengan baik. Itu adalah tempat di mana orang-orang bisa datang untuk menikmati makanan lezat, berbagi cerita, dan menciptakan kenangan indah.
Rumah makan sederhana ini menjadi tempat yang istimewa bagi mereka yang mencari kenikmatan sederhana dalam hidup. Di situlah persahabatan, canda tawa, dan kehangatan berpadu menjadi hidangan yang tak ternilai harganya.
Sila tampak tidak bisa bicara, kenapa Tito mengajaknya ke tempat seperti ini. Dia duduk di kursi yang berasa paling sudut. Tempat yang paling leluasa dan juga terhindar dari lalu lalang orang orang.
"Lo mau pesen apa? Biar gue yang traktir! Tenang aja ... Duit gue halal kok, gue gak nyuri!" ucap Tito yang memberikan buku menu padanya.
Sila tampak ragu ragu, melihat sosok berbeda dari diri Tito yang seolah mulai muncul.
"Lo gak cacingan kan?" tanyanya konyol.
__ADS_1
"Eh ... Mana ada gue cacingan!" timpal Sila.
"Kalau gak cacingan ya udah sana pesen, jangan kayak orang bego yang bengong dari tadi!" ungkap Tito berseringai. "Lo gak usah takut gue racun! Gue gak ada minat buat bu nuh orang kok! Apalagi tempat seramai ini. Gue cuma butuh makan dan kalau lo lama, lo malah bikin gue tambah laper!" ungkap Tito panjang lebar.
Sepertinya baru kali ini dia mengeluarkan kalimat panjang dari mulutnya.
Sila langsung mendengus, dengan cepat memilih menu yang pqling gampang dan juga mudah dimakan. Sementara seorang pelayan sudah berdiri menunggunya.
"Tito ...!" ucap Sila, setelah memesan seporsi soto ayam tanpa nasi.
"Bicara setelah makan aja. Gue butuh konsentrasi penuh!" jawab Tito tanpa acuh.
Sila menghela nafas. Tidak punya pilihan lain selain mengikuti perkataannya. Dan hampir setengah jam mereka hanya fokus pada makanannya saja.
"Gue udah kenyang ... Lo mau ngomong apa?" Tito membuang tissu makan diatas meja sementara Sila belum selesai.
Sila mendongkak ke arahnya dengan tatapan tajam.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya mereka berdua telah siap bicara.
"Lo ngira masalah ini mudah buat lo Tito?"
"Iya!" jawab Tito dengan kedua tangan mendekap di atas meja.
"Buat gue ini berat, gue kesulitan karena semua orang nyalahin gue!"
"Terus?"
"Ya ... Gue pengen semuanya balik kayak awal, surat itu jadi masalah bagi keluarga gue dan nyuruh gue ngataain sendirian. Mereka gak mau tahu!"
Tito menghela nafas. "Masih masalah surat peringatan itu?"
__ADS_1
Sila mengangguk, "Gue ngerasa gue gak salah di sini. Gue awalnya ngebela dan gue gak nyangka akhirnya jadi gini!"
Tito menghela nafas, fikiran rumit seorang wanita yang tidak pernah bisa dia fahami dan tidak akan mau dia fahami. Namun entah kenapa saat melihat Sila sikapnya berubah.
"Apa yang lo butuhin?"
"Hah?"
Tito mengetuk ngetuk meja dengan ujung jarinya. "Maksud gue, apa yang lo mau dari gue?"
"Tito. Gue butuh solusi buat masalah ini," jawab Sila dengan penuh keingin tahuan.
Tito menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab, "Sila ... Bener nama lo Sila kan?" katanya untuk memastikan saja, sebab dia tidak terlalu peduli sejak awal. Sila mengangguk, memastikan bahwa itu adalah namanya.
"Ok ... Jadi gini, mungkin lo terlalu fokus pada masalah dan konflik ini. Mungkin lo perlu ngambil langkah mundur sejenak, melepaskan tekanan, dan nyoba melihat dari perspektif yang berbeda." ucap Tito.
"Maksudnya?"
"Ya ... Secara kasarnya lo gak usah peduliin masalah itu lagi, toh surat itu gak bikin lo jadi dosa. Atau lo jadi mati muda!" Tito terkekeh saat mengucapkannya dengan sangat enteng.
Sila mengernyit, mencerna kata-kata Tito dengan penuh tanda tanya. "Apa yang lo maksud, Tito?"
Tito menjelaskan dengan terkekeh. "Dari pada lo mikirin masalah itu terus. Lo bisa ngalihin fokus lo ke hal-hal lain dan mengisi hidup lo dengan kegiatan yang bikin lo bahagia. Misalnya, lo bisa ikut kelas lukis, kelas tari atau lo belanja belanja kayak yang lain. Atau lo ngelakuin hobi yang lo sukai, habisin waktu senang senang sama teman-teman, atau nyoba hal-hal baru yang lo belum pernah nyoba!"
Sila termenung, mencoba merenungkan saran Tito tersebut. Mungkin Tito benar, bahwa terkadang kita terjebak dalam masalah dan kekhawatiran yang membuat segalanya terasa rumit. Mengalihkan perhatian ke hal-hal positif dan mencari kegembiraan bisa menjadi jalan untuk mendapatkan sudut pandang yang lebih luas. Dan Sila terlalu berfikiran berlebihan pada masalah yang dia hadapi dari masalah yang di buat Tito.
"Masuk akal kan? Gue rasa lo terlalu khawatir aja Sila. Abaikan surat peringatan itu. Itu hanya kertas yang ditanda tangani saja!"
Sila lagi lagi terperangah mendengar Tito yang terlalu bersikap santai pada masalah apapun yang dia hadapi.
"Lo gila ya?"
__ADS_1