Jagoan Kampus

Jagoan Kampus
Bab.06(Mencari bukti)


__ADS_3

Sila masih belum menyerah, dia ikut bangkit dan menyusul untuk terus membujuk pria berkaca mata itu kerena dia membutuhkan orang orang untuk membantunya menjadi saksi walaupun pada kenyataannya itu adalah hal yang amat sulit.


Melihat Sila terus mengikutinya, pria berkaca mata itu berhenti melangkah. "Lo tahu. Tito bisa saja tahu kalau lo saat ini sedang mencoba melawannya dengan mencari korban korban korban nya. Gue yakin Itu tidak akan mudah. Lo harus mundur dari pada terlibat semakin jauh dan mendapat masalah besar lagi dari pada yang lo hadapi saat ini." tukasnya. "Semua orang pasti gak akan mau terlibat dengan Tito. Lo faham maksud gue?" ujarnya lalu kembali melangkahkan kedua kakinya.


Sila masih berdiri ditempatnya, situasi sulit karena tidak ada yang bisa membantunya. Pihak kampus yang tidak adil menurutnya membuatnya harus mencari cara yang baik untuk memprotes mereka. Mencari saksi saksi dan mengumpulkan bukti bukti kalau Tito lah si biang kerok.


Drett


Drett


Ponsel Sila berdering, dia langsung merogoh ponsel miliknya di dalam tas dan melihat nomor yang tidak dia kenal terpangpang dilayar ponsel itu.


'Halo ....!'


'Halo Sila ya. Sorry gue ganggu lo! Gue dengar lo lagi ada masalah sama Tito kan?'


Sila mengernyit, gosip di kampus benar benar dasyat, menyebar luas dengan cepat hanya dengan hitungan menit saja.


Sila masih mendengarkan, dia belum mengiyakan atau pun membantah, lebih tepatnya Sila ingin tahu apa yang akan di lakuian di penelepon itu padanya. Suara wanita yang tampak lemah lembut dan juga sopan.


'Gue tahu lo lagi ada masalah sama Tito. Dan gue nelepon lo karena ingin bicara tentang Tito juga. Gue juga sempet bermasalah sama tuh orang!'


Merasa ada kesempatan baru, akhirnya Sila bisa bernafas lega, dia pun menengok ke kiri dan kanan. Mencari tempat yang lebih baik untuk bicara. Akhirnya dia berjalan ke arah taman dan mencari kursi kosong.

__ADS_1


'Gue baru saja mengalami konflik sama dia, dan gue emang lagi cari cara buat bikin masalah ini kelar.' lanjutnya lagi bicara pada seseorang yang berada di ujung telepon.


'Ya gue tahu. Gue juga berpikir bahwa mungkin lo lagi bingung karena gue juga pernah mengalami hal serupa. Gue faham situasi lo lagi gak bagus dan lo mencari keadilan. Gue sebenarnya gak nyaman ngobrol di telepon kayak gini.'


'Lo mau kita ketemu? Bilang aja kapan dan dimana?'


Sila tampak antusias sekali, dia bahkan menjadi lebih bersemangat saat tahu ada salah satu orang yang bisa dia andalkan. 'Makasih lo udah mau hubungi gue.'


'Sorry Sila. Gue gak mau kita sampe ketemu karena gue takut. Gue harap Tito gak tahu info ini dari gue, cuma saat gue dengar tentang konflik antara lo dan Tito dan kampus malah bikin lo yang salah. Jujur aja, gue juga merasa gak nyaman kalau gue up, dan gue juga ragu untuk menjadi saksi secara terbuka!'


'Gue ngerti kalau lo ngerasa ragu. Konflik ini memang rumit, dan gue lagi nyoba untuk ngumpulin informasi dan bukti yang relevan. Tapi tanpa ada saksi dari orang-orang yang terlibat, sulit untuk gue bisa buktiin ketidak adilan yang terjadi oleh pihak kampus!'


'Maafin gue Sila ...!'


Sila diam sejenak dengan otak yang terus berfikir bagaimana caranya.


'Gue merasa terintimidasi dan khawatir tentang kemungkinan konsekuensinya. Bagaimana jika Tito tahu kalau gue bisa menjadi saksi?'


'Gue paham kekhawatiran lo. Lo harus percaya kalau gue akan pastiin rahasia lo. Hal ini adalah hal yang sangat penting buat gue. Jadi kalau lo merasa nyaman, kita bisa mencari cara untuk ngelindungi identitas lo dan mastiin kalau informasi ini gak akan nyampe ke Tito. Saya juga dapat mencari bantuan dari pihak ketiga yang netral, seperti mediator atau penasihat akademik, untuk menjamin keadilan dan keselamatan kita bersama.


'Hmm, itu terdengar lebih aman. Gue masih belum yakin, tapi gue akan mempertimbangkannya. Apa lo punya bukti atau informasi lain yang bisa bantu juga? Gue rasa kesaksian gue gak akan cukup apalagi cuma cara intimidasi Tito sama gue. Lo butuh bukti yang kuat!'


'Ya, gue harus ngumpulkan banyak bukti dan dokumentasi yang bisa dukung klaim gue. Gue percaya dengan adanya kesaksian dari lo dan mungkin saksi lainnya, itu dapat memperkuat kasus ini. Jadi kalau lo punya info bukti-bukti tersebut, gue siap untuk itu, kita harus bersatu.'

__ADS_1


'Ok baiklah, Gue akan mempertimbangkan semuanya dulu. Ini emang gak mudah buat gue termasuk lo Sila!'


'Makasih udah hubungi gue dan ngajak gue bicara! Gue yakin kalau kita semua bisa membuktikan kalau Tito memang harus mendapat sangsi berat. Gue akan berpikir lebih dan ngomong sama lo kalau gue merasa info gue kurang akurat!"


'Tentu Sila, Gue gak ada masalah kalau lo hubungi gue. gue sangat hargai keberanian lo untuk membuka kasus ini. Kalau ada hal lain yang ingin lo bagi. Lo bagi sama gue ok. Tapi gue gak mau lo tahu siapa gue biar gue juga nyaman!'


Sila mengangguk, seolah gadis yang bicara denganya itu berada di hadapannya. 'Oke ... Kita dapat mencari solusi bersama!'


Tut!


Sambungan telepon sudah berakhir, Sila bisa sedikit tersenyum sebab ada seseorang yang mendukungnya dari belakang. Hal yang dia tunggu tunggu dan dia harapkan sejak awal.


Sementara itu Tito yang berjalan dengan angkuhnya menuju tempat Sila duduk tiba tiba merebut ponsel miliknya.


"Hey lo gila?" teriak Sila yang langsung terperanjat kaget saat melihat Tito.


"Kenapa. Lo kaget? Lo seneng banget cari masalah sama gue. Lo gak takut sama gue?"


Sila berdiri di depannya dengan berkacak pinggang. "Gue emang gak takut sama lo. Sama sekali gak takut. Kenapa gue harus takut kalau gue gak salah. Lo mikir ... otak lo di pake!"


Tito menghapus semua foto yang dia temukan di dalam ponselnya. Nomor seseorang yang baru saja meneleponnya juga dia hapus. Dan mengembalikan ponsel Sila dalam keadaan kosong dan semua bukti yang dia kumpulkan kini lenyap.


"Titoooo! Lo brengsekk banget sih!" teriaknya kesal seraya mengotak ngatik ponsel dan mencari bukti yang kini sudah tidak ada.

__ADS_1


Tito berseringai licik dan mengerdikkan kedua bahunya, dia melangkah maju dan mendekati Sila dengan jarak yang sangat dekat.


"Gue masih terlalu baik sama lo Arsila. Jadi manfaatkan hal itu sebelum terlambat. Dan lo tahu siapa gue sebenarnya!"


__ADS_2