
"Gue masih terlalu baik sama lo Arsila. Jadi manfaatkan hal itu sebelum terlambat. Dan lo tahu siapa gue sebenarnya!"
Sila terperangah mendengarnya, sejak awal pun Tito terlihat tidak peduli jika semua ucapannya berakibat pada orang lain.
"Tapi ... Bukan lo yang di hukum. Tapi gue!"
"Apa aku harus peduli?" Tito menatap manik manik bulat yang tajam itu. "Makanya jadi orang jangan so ikut campur masalah orang lain!"
Usai mengucapkan hal itu, Tito pun pergi begitu saja. Dia meninggalkan Sila dengan kata kata ancaman. Dan membuat Tito kembali marah hanya akan membawa dirinya kembali pada masalah.
Sila harus berfikir ulang, jangan sampai membuat Tito memberinya masalah yang lebih rumit lagi.
Dia pun segera menyusup langkah Tito dan berusaha menyamainya.
"Tito. Gue mau ngomong baik baik sama lo bisa kan?"
"Penting? Gue sibuk!"
"Bagi gue ini penting, masalah yang sedang terjadi antara kita. Gue ngerasa penting untuk menyelesaikan masalah ini agar kita bisa kuliah dan ngejaga lingkungan yang lebih baik di kampus ini."
Tito menghentikan langkahnya, dan meboleh padanya. "Pffttthh .... Apa? Lingkungan ... Lo seperhatian itu sama lingkungan kampus sialan ini?"
Sila menganggukkan kepalanya.
"Gue gak peduli dengan masalah ini! Minggir ...!" Ujar Tito yang mendorong bahu Sila yang menghalangi motornya. "Gue mau pergi! Mending lo diem ... jangan ngusik gue, dengan gitu. Lingkungan kampus bakal aman dan tentram!" Tambahnya lagi seraya naik ke atas kuda besi miliknya, masih menatap Sila yang lagi lagi mencelos dengan wajah kecewa.
Mesin kendaraan roda dua itu sudah menyala, dengan sengaja Tito mengencangkan gas ditangannya hingga bunyi knalpot yang terdengar bising.
"Gu ngerti kalau lo gak tertarik untuk ngomongin hal ini. Tapi, konflik ini mempengaruhi gue di kampus dan dapat berdampak negatif nantinya sama nilai nilai gue, belum lagi orang tua gue yang gak tahu apa apa. Gue cuma pengen jalan keluar yang damai. Gue gak akan ngusik lo lagi, tapi lo harus perbaiki nama baik gue!"
Selama Sila bicara Tito menatapnya terus menerus, gerak bibir dan tatapan kedua bola hitamnya membuatnya ingin tertawa.
"Apa yang lo harapkan dari gue?"
Merasa ada kesempatan, Sila tersenyum tipis, seiring mesin kendaraan yang juga tidak berhenti menderu bising. "Gue mau lo ngaku kalau lo yang salah dan gue gak salah sama sekali, surat peringat----"
__ADS_1
"Kalau gue gak mau?"
"Gue mohon sama lo. Gue yakin lo orang baik. Hanya saja hati lo terpengaruh hal hal kotor!"
Tito berdecih, "Lo gak tahu apa apa, gak usah so kenal hati gue deh! Gue gak tertarik sama masalah lo!"
Roda kendaraannya sudah bergerak mundur, Tito siap melesat pergi namun Sila masih berusaha bicara baik baik padanya dengan menahan stang yang di pegang Tito. Tangan keduanya bersentuhan, dan Tito tersentak kemudian langsung menggeser tangannya sendiri.
"Gue yakin fikiran lo terbuka To, jadi gue harap lo juga bantu gue! Kalau gak gue bakal minta penasihat kampus buat diskusi masalah ini!"
Tito kembali berdecih, dia memundurkan lagi roda kendaraannya dari deretan motor yang terparkir.
"Lakukan semau lo! Gue gak peduli!" jawabnya dengan dingin.
"Tapi To!"
"Buang buang waktu gue. Sorry gue gak tertarik ngomong sama lo!" Sela Tito dengan alis naik turun, tidak lama dia melesat begitu saja meninggalkan Sila.
Jangan harap situasi ini Tito peduli, sekalipun seluruh kampus menekannya dan Sila tidak ingin berkonflik dengannya. Sila sudah berusaha bicara baik baik dab tetap menjaga sikap tenang dan mengambil langkah-langkah yang konstruktif pada Tito. Namun itu juga tidak mempan bagi seorang berandalan seperti Tito.
"Sial ... Padahal udah gue bujuk bujuk. Maunya apa sih, udah mah otaknya gak dipake, hatinya juga gak dipake. Dasar berandalan!" gerutu Sila saking kesalnya.
***
Sila tidak kehilangan akal, dia memilih mencari seseorang. Gadis itu masuk kembali ke gedung rektor namun dia tidak mungkin menemui rektor ataupun wakilnya yang jelas jelas tidak memberinya kesempatan untuk membela diri melainkan memberikannya surat peringatan.
Gadis berani itu menemui dosen dan juga penasihat akademik untuk mencari solusi yang terbaik bagi masalahnya. Terutama solusi untuk memberikan efek jera bagi Tito.
Dia mencari orang itu, dosen juga penasihat pembimbing yang diharapkan bisa membantunya. Namun dia tidak menemukannya dimanapun.
Sampai akhirnya dia hanya menghela nafas di depan sebuah pintu bertuliskan RUANGAN REKTOR.
Ceklek!
Pintu tiba tiba terbuka, seorang pria yang disinyalir Rektor kampus itupun terlihat berjalan keluar. Sila hanya mengenalnya samar samar. Dia mengenal namanya tapi tidak dengan wajahnya.
__ADS_1
"Pak Rektor?" tebaknya.
Pria itu mengernyitkan dahi. "Ya?"
"Pak ... Boleh aku konseling sama Bapak. Namaku Sila Pak... Arsila ... Nomor mahasiswaku 00---"
"Ada apa ini? Apakah urgent. Kalau urgent kau bisa mencari bagian konseling. Kalau mereka tidak bisa membantu baru kau mencari Rektor. Begitu...!"
"Nah itu Pak ... Kayaknya cuma bapak yang bisa bantu aku."
"Duduklah!"
Sila tersenyum lega, akhirnya kesempatan baik datang lagi, dia yakin jika rektor bisa membantu permasalahan yang sedang dia alami saat ini.
"Jadi begini Pak!"
Sila pun menceritakan kejadian yang di alaminya dari awal sampai akhir bahkan beberapa menit yang lalu dimana Tito menghapus semua rekaman serta informasi yang dia dapatkan dengan susah payah.
Rektor itu terlihat mengangguk anggukan kepalanya lalu dengan cepat menyuruh Sila untuk masuk.
"Kita masuk ke dalam, agar leluasa dan tidak membuat masalah lebih melebar dan mengganggu kenyamanan di kampus ini!"
Sila mengikutinya dengan begitu polos, mereka sama sama duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu.
"Jadi apa Bapak bisa bantu aku menyelesaikan masalah ini? Aku gak bisa ngelibatin orang tua. Mereka pasti kecewa kalau aku dapat surat peringatan dari kampus hanya karena berusaha membela diri?"
"Aku akan bicara pada wakil rektor dan mencabut surat itu darimu. Tapi sebagai gantinya kau jauhi dirimu sendiri dari masalah yang lebih buruk kedepannya. Jauhi Tito agar kau tidak terlibat."
"Jadi pihak kampus akan cabut surat peringatan buat aku tapi gak bisa ngasih efek jera sama Tito? Kok gitu sih Pak?" jelas Sila kecewa, kenapa semua petinggi petinggi kampus sangat meng anak emaskan mahasiswa yang berprilaku buruk dan tidak jarang merugikan orang lain.
Rektor itu mengangguk, "Itu yang bisa dilakukan saat ini, dan itu juga tergantung padamu. Siapa namamu tadi?"
"Sila Pak!" jawabnya dengan lemas. "Kalau gitu aku permisi!" tukasnya lagi dengan bangkit dan langsung keluar.
"Sialan emang si Tito ... Sebenarnya siapa yang jadi bekingnya!"
__ADS_1