Jagoan Kampus

Jagoan Kampus
Bab.13(Kemenangan Tito)


__ADS_3

"Gue tahu gue bakal menang!"


Sorak sorai terus bergema, menciptakan atmosfer penuh kegembiraan dan kepuasan atas kemenangan yang diraih oleh Tito. Tidak hanya menjadi kemenangan pribadinya, tetapi juga menjadi kemenangan bagi semua yang telah mendukung dan mempercayainya, termasuk bendera besar yang akan berkibar atas namanya.


Tito merasakan kehangatan kemenangan dan kebanggaan dalam dirinya. Dia tahu bahwa balapan liar seperti ini memiliki konsekuensi dan risiko, namun pada saat ini, semua itu terasa sepadan. Kemenangan ini adalah bukti dari dedikasinya dan kerja kerasnya sebagai seorang pembalap dan memenangkan tantangan dari Andre.


Dalam momen kebahagiaan ini, Tito berterima kasih kepada semua orang yang telah mendukungnya, termasuk dua sahabatnya yang kini sibuk menarik pundi pundi uang dari penonton juga membantu panitia mengumpulkannya. Mereka juga telah memberikan dorongan dan semangat. Tito melirik ke arah mereka dan tahu bahwa tanpa mereka, pencapaian ini tidak akan mungkin terjadi.


Dengan kemenangan di tangannya dan senyuman yang tak terlupakan di wajahnya, Tito memanfaatkan momen ini untuk merayakan dan bersenang-senang bersama teman-temannya. Mereka merayakan keberhasilan ini sebagai satu langkah besar yang tidak terkalahkan, menyatukan semangat persahabatan dan semangat balapan yang tak tergoyahkan.


Sorak sorai penonton terus bergema, menciptakan suasana euforia dan kegembiraan yang akan terus dikenang oleh semua orang yang menyaksikannya. Kemenangan ini adalah bukti nyata dari kekuatan tekad, keterampilan mengemudi yang mengesankan, dan semangat tak kenal menyerah dari Tito.


Sebagai juara dalam balapan liar ini, Tito memberikan inspirasi kepada banyak orang untuk mengejar impian mereka dan menghadapi tantangan dengan keberanian dan tekad yang tinggi. Keberhasilannya akan terus dikenang dalam sejarah balapan jalanan dan menjadi bukti bahwa mimpi bisa menjadi kenyataan jika kita berani mengejar dengan sepenuh hati.


Setelah Tito memenangkan balapan liar yang mengesankan, Reksa dan Adit segera bergegas untuk mengumpulkan uang taruhan yang telah disepakati bersama. Mereka berdua memiliki keyakinan bahwa Tito akan menjadi juara, sehingga mereka juga berani mempertaruhkan sejumlah uang dalam balapan ini.


Dengan senyum kegembiraan di wajah mereka, Reksa dan Adit berinteraksi dengan penonton dan peserta balapan lainnya untuk mengumpulkan uang taruhan yang telah ditempatkan sebelum balapan dimulai. Mereka mengingat setiap taruhan yang mereka lakukan, berkomunikasi dengan para panitia serta cermat untuk memastikan semuanya terhitung dengan benar


Saat orang-orang memberikan uang taruhan kepada mereka, Reksa dan Adit dengan hati-hati menghitung setiap koin dan kertas uang. Kegembiraan terpancar dari ekspresi wajah mereka ketika jumlah uang yang mereka kumpulkan semakin bertambah. Mereka merasakan kepuasan yang luar biasa karena kepercayaan mereka terhadap Tito telah membawa hasil yang menguntungkan juga.

__ADS_1


"Gue salah karena sempet larang Tito ikut! Kalau itu terjadi mana bisa gue pegang duit sebanyak ini!" celetuk Reksa yang terus menghitung uang ditangannya.


"Itu sih lo bego namanya! Gak cuma dapat duit, kita juga dapat motor dan nama Tito akan makin terkenal! Itu artinya kita berdua ikut terkenal."


Reksa tertawa girang. "Lo bener Dit ... Walaupun lo tahu tadi ampir aja si Tito celaka saat mereka mepet mepet kayak gitu sengaja itu kan!"


"Huum ...!" Jawab Adit dengan terus menerima uang dan uang.


Uang-uang taruhan tersebut mereka masukkan ke dalam tas dengan hati-hati, memastikan semuanya aman dan teratur. Reksa dan Adit saling pandang dengan senyuman yang penuh kepuasan, merasa puas dengan keberhasilan mereka dalam memprediksi kemenangan Tito.


Setelah selesai mengumpulkan uang taruhan, mereka berdua berjalan kembali ke tempat yang aman, memastikan bahwa hasil kemenangan tersebut akan dikelola dengan bijaksana. Mereka menyadari bahwa uang tersebut adalah tanggung jawab mereka, dan mereka mengamankannya sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya berdua sambil menunggu Tito yang kini sibuk dengan para pendukung barunya.


Setelah pertandingan yang sengit, Andre harus menerima kekalahan dengan hati yang berat. Wajahnya yang semula penuh percaya diri kini dipenuhi dengan ekspresi kecewa dan kekecewaan yang mendalam. Dia melihat dengan pahit saat Tito merayakan kemenangannya dan dikelilingi oleh para penggemar baru yang sejak awal mendukungnya, yang bersorak untuknya kini melakukan hal itu pada pemenang baru mereka yaitu Tito.


Andre merenung dalam hati, merasa frustrasi karena tidak berhasil mengalahkan Tito dalam pertandingan tersebut. Dia merasa telah memberikan yang terbaik, namun masih kalah di tangan pembalap lain, bukan hanya itu dia juga mengatur siasat licik untuk menumbangkan Tito tadi. Rasanya seperti semua usaha dan persiapan yang telah dilakukannya tidak cukup untuk meraih kemenangan.


Saat dia menatap Tito yang sedang merayakan kemenangannya, rasa iri dan kekecewaan semakin menguat. Dia berharap bisa merasakan momen kebahagiaan dan pengakuan yang sama seperti biasanya. Namun, kenyataannya, dia harus menerima kekalahan dengan rasa frustrasi dan rasa ingin membuktikan diri di pertandingan berikutnya.


"Sial ... Lo gak becus, masa bikin dia jatuh aja lo gak sanggup?" rutuknya pada seseorang yang tertunduk takut.

__ADS_1


Andre merenung tentang kekuatan dan kelemahannya dalam balapan tersebut. Dia mendlik tajam pada Tito yang tertawa penuh kemenangan dan berjanji pada dirinya sendiri untuk kembali merebut posisinya, meningkatkan kemampuan mengemudi, dan tidak menyerah. Kekecewaannya tidak menjadi motivasi bagi dirinya untuk menjadi lebih baik, untuk mengatasi kegagalan dan meraih kemenangan di masa depan. Namun justru semakin berfikir buruk untuk mengalahkan Tito.


Dengan langkah yang berat dan rasa kecewa yang masih membayangi, Andre meninggalkan tempat balapan. Dia tahu bahwa kekalahan adalah bagian dari perjalanan sebagai seorang pembalap, tetapi itu tidak membuatnya merasa lebih baik dalam momen ini. Dia harus memperbaiki diri, memperkuat mentalnya, dan terus berjuang untuk menghadapi tantangan balapan jalanan yang akan datang. Meninggalkan motor kesayangannya yang telah menjadi milik Tito saat ini.


"Lo urus itu!" tunjuknya lantas langsung pergi.


Dalam kekecewaannya, Andre menyadari bahwa persaingan dengan Tito tidak hanya tentang balapan, tetapi juga tentang kegigihan dan semangat tidak menyerah. Dia berjanji untuk terus mengejar Tito dalam hal apapun dan tidak membiarkan kekalahan ini meruntuhkan semangatnya


Dengan kekecewaan yang masih membekas di hatinya, Andre perlahan-lahan melangkah ke depan, mengejar langkah bayangan dirinya sendiri yang menuju kekalahan yang tidak dia inginkan. Meskipun dia tahu bahwa dalam dunia balapan jalanan, kekalahan adalah ujian yang akan membentuk karakter dan menentukan apakah seseorang akan bangkit atau tenggelam. Bahkan nama besarnya akan tiba tiba redup seperti saat ini. Semua pendukungnya kini beralih pada Tito.


Andre tidak mungkin memilih untuk mengambil inspirasi dari kekalahan ini, menggunakannya sebagai cambuk untuk memacu dirinya menjadi lebih baik. Dia juga percaya bahwa suatu hari nanti, dia akan kembali berdiri di podium kemenangan, melihat sorak sorai penonton dan merasakan kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya sendiri dan yang pasti mengalahkan Tito sekali lagi bagaimanapun caranya.


Motor sudah berada ditangan Reksa, begitu juga dengan pundi pundi uang yang kini aman di dalam tas milik Adit. Mereka berdua memilih duduk menunggu Tito.


Mereka tertawa saat Tito berjalan ke arahnya dengan melemparkan kunci motor pada Reksa.


"Dia langsung pergi Jul ... Si Andre kayaknya kecewa berat karena kalah adu mekanik sama lo!" ucap Reksa dengan tertawa.


Kedua manik tajam Ijul alias Tito berkeliaran mencari sosok Andre namun dia tidak menemukannya dimana pun. Padahal dia ingin sekali bicara padanya tentang tantangan yang membuatnya kalah dan memberinya rasa malu yang amat besar.

__ADS_1


"Pengecut! Nyalinya seujung jari!".


__ADS_2