
"Sial ... Gue udah mati matian bujuk dia!"
Tito dan kedua sahabatnya pun menaiki motor mereka dan langsung menancap gas. Meninggalkan Sila yang berdiri dengan menahan kekesalannya.
Tito berhenti disebuah warung kopi, di ikuti oleh Reksa dan juga Adit yang selalu ikut kemana pun Tito pergi.
"To ... Kayaknya tuh orang naksir sama lo To!" tukas Reksa.
Tito hanya mengerdik, dia bahkan tidak peduli perkataan Reksa.
"Kalau iya naksir juga lo mau apa?" Adit menyela buru buru. Dia langsung menenggak minuman beralkohol yang di jual di warung kopi itu secara sembunyi sembunyi. Dan menjadi langganannya secara diam diam, "Lo tahu kan seganteng apa sahabat kita ini? Gak cuma cewek itu yang suka sama dia ... Banyak Dit, kayak yang gak tahu aja!"
"Gue juga dengar ada beberapa dugaan tentang Cewe itu dan gadis-gadis lain yang tertarik sama Tito. Kira kira lo tahu juga gak?" liriknya pada Tito yang sedang menikmati kepulan asap putih dari sebatang rokok yang di isapnya.
"Ya, gue juga dengar itu. Beberapa orang bilang kalau Sila memiliki ketertarikan pada Tito semenjak kasus itu, dan ada juga beberapa gadis lain yang suka Tito kayaknya benci hal itu." Reksa menjawab, sementara Tito sepertinya tidak bereaksi atau menunjukkan minat pada pembicaraan kedua sahabatnya itu.
Adit mengangguk anggukkan kepalanya. "Ya, bener juga. Semua orang mikir kayak gitu. Tapi menurut lo gimana?" katanya pada Tito yang masih terlihat cuek.
Tito hanya berseringai, dia tidak mengeluarkan sepatah katapun dan tidak memperhatikan perasaan atau tanda-tanda yang diberikan oleh gadis-gadis itu. "Dit ...!" lirik Reksa pada Adit dengan kedua mata dan menunjuk Tito dengan gerakan dagunya.
Adit mencondongkan tubuh mendekati Tito. "Mungkin dia lagi fokus pada urusan lainnya atau mungkin dia gak suka Cewek!" bisiknya. "Dia gak punya perasaan begituan, yang ada di otakknya hanya balapan liar dan usaha membuat si Andre kalah."
Reksa mengangguk kecil. Bicara dengan suara pelan pelan. "Tapi bagaimana dengan Sila? Apakah dia benar-benar suka pada Tito? Gue sering lihat dia sering ngikutin Tito dan nyari perhatian dengan ngajak Tito ngobrol. Masa iya Tito gak suka. Secara dia cantik dan sexy. Kalau dia gak suka ... Gue aja deh yang maju. Gue kasian dan gakningin dia terluka kalau Tito gak punya perasaan yang sama."
Adit melirik kearah Tito yang masih diam. "Itu pertanyaan yang sulit. Mungkin Sila punya perasaan tertentu sama Tito, tapi kita gak bisa mastiin sampai dia ungkapin dengan jelas."
__ADS_1
Dua orang sahabat itu terus bicara berdua saja dengan berbisik bisik. Tanpa menghiraukan Dan dalam situasi ini, tampaknya Tito tidak memberikan respons atau sinyal yang jelas.
Brak!
Tito menggebrak meja dengan keras, "Heh ... Lo berdua mau jadi tukang nyinyir, ngomongin gue bisik bisik, kalian mau gue hajar juga?"
Reksa dan Adit terperangah melihatnya, mereka sama sama saling pandang satu sama lain. Lalu tertawa bersama sama.
"Sorry Jul ... gue dan Adit ngomongin ini karena kasian aja sama tuh Cewe, kayaknya dia takut banget niainya buruk karena surat peringatan yang di kasih karena memcoba ikut campur masalah lo, satu lagi ... Dia mati matian nyoba deketin lo ... Nekat banget kan, fix itu dia jdi suka sama lo."
"So pahlawan!" gumam Tito dengan langsung menenggak minuman miliknya sekali tandas.
Reksa kembali melirik Adit yang berada di depannya, lalu dia berbisik padanya. "Mungkin kita baiknya biarin hal ini berkembang dengan sendirinya. Kalau ada sesuatu antara Sila dan Tito, mereka akan selesaikan dengan cara mereka sendiri. Kita hanya bisa menjadi pendukung dan teman bagi mereka kalau mereka butuhkan saja, ingat ini masalah hati Man."
Adit mengangguk, "Setuju. Kita harus kasih ruang dan menghormati privasi mereka. Selama mereka dapat mengelola hubungan mereka dengan baik dan saling berkomunikasi sama kita, lo lihat sendiri reaksi Tito soal ini, gak biasanya dia kayak gitu, ya kan?"
"Cabut!" ucap Tito lalu beranjak berdiri dan langsung pergi.
Kedua sahabat yang terus bicara itu terperangah dan dugaann mereka semakin kuta saja jika Tito sebenarnya dia diam beraksi pada gadis bernama Sila,
Keduanya langsung bergegas menyusulnya yang sudah berada di atas motor dan langsung melesat pergi dengan kecepatan tinggi.
"Gue bilang juga apa! Mereka ada sesuatu. Iya gak?"
"Mungkin Tito sebenarnya udah suka tapi dia gak mau ngaku aja Rek!" timpal Adit,
__ADS_1
"Yu dah cabut aja!"
***
Seperti biasa, mereka bertiga tiba di tempat balapan liar, dan semua orang sudah tampak berkumpul untuk menyaksikan balapan liar antara Tito dan Andre, ketua genk devil yang terkenal jago balap.
Tito sendiri menerima tantangan ini dengan taruhan yang sangat besar, namanya akan semakin besar daan juga terkenal jika memenangkan balapan ini.
Beberapa orang terlihat berkerumun, salah satunya adalah mereka yang tadi datang menemu TIto dan bicara soal tantangan genk devil padanya, anak buah Andre. Terlihat jugga Andre yang berada di sana dan sedang memeriksa kondisi kendaraan miliknya. Tak berselang lama Andre menoleh padanya setelah seseorang menyentuh pundaknya dan memberi tahu tentang kedatangan TIto.
Pria itu menatap Tito dan langsung bangkit untuk menghampirinya, dia berjalan mendekat kearahnya,
"Gue seneng lo berani ngambil tantangan dari gue ini. Gue kira o gaka kan berani ngambil resiko dengan taruhaan motor kita." Andre mengulurkan tangan pada Tito, dia juga berseringai padanya.
"Gue gak takut dan gue gak akan kehilangan motor gue ini karena gue bakal kalahin lo di tempat lo ini." jawab Tito dengan menjabaat tangan Andre dengan kuat.
Andre terbahak, jelas dia senang dengan keberanian Tito dan juga ke nekatannya menerima tantangan dengan taruhan motor mereka dan sejumlah uang yang besar dari penonton balapan, tidak hanya itu tapi bendera Tito akan semakin berkibar tinggi di tempat itu jika berhasil mengalahkan Andre dan genk devilnya.
"15 menit lagi di mulai, bersiap siaplah!" seru panitia yang mengurusi pertandingan balap liar ini dari ujung mikrofon.
Andre menaik turunkan kedua alisnya, dia tampak senang namun juga merasa Tito lebih dari dugaannya selama ini. "Gue siap siap dulu."
Tito tampak dingin dengan tatapan tajamnya menatap Andre, dan melengos pegi saat Andre membalikkan tubuhnya untuk kembali ke tempatnya sendiri.
Reksa yang sejak tadi berada di belakang Tito dan jelaas mendengar percakapan mereka ikut melengos pergi.
__ADS_1
"Jul ... Lo yakin? Kita masih punya wakt untuk batalin balapan ini. Ini akan berbahaya buat lo ... Mereka di kenal culas Jul ... Gue takut lo kenapa kenapa."