Jagoan Kampus

Jagoan Kampus
Bab.24(Kepribadian Ganda)


__ADS_3

Sila menunjuk sebuah papan nama yang terbuat dari kayu bertuliskan bengkel motor sambil tersenyum, "Tuh lihat. Bengkel kan. Wah, untung saja kita menemukan bengkel ini. Kita hampir kehabisan bensin di tengah jalan!"


Tito mengulas senyuman. Ia belum tahu apakah motornya hanya kehabisan bensin ataukah ada penyebab yang laun. Namun melihat Sila yang antusias hanya karena melihat bengkel, entah kenapa hal itu membuatnya ikut senang. "Iya, benar-benar beruntung. Kalau tidak, kita mungkin harus jalan kaki sampai ke tujuan kita."


Sila mengangguk setuju. Tak lama kemudian dia menatap Tito dengan canggung. "Tapi jujur, gue ngerasa aneh juga saat motor lo mati di tengah jalan. Lo gak pernah rawat motor lo ini ya?"


Tito mendengus, "Enak saja lo ngomong! Gue selalu rawat motor gue dengan baik! Cuma kayaknya lo banyak dosa, jadi motor gue sampe ikut ngadat gara gara lo!"


Tapi sejujurnya, gue ngerasa senang bisa kayak gini sama lo. lanjut Tito dalam hati.


Sila merengut. Karena tuduhan Tito. "Benarkah? Apa lo gak sadar kalau gue kayak gini karena lo yang mulai? Tadi lo kelihatan dingin sama gue tapi sekarang lo cengengesan gak jelas! Lo sengaja ya mogokin motor lo biar lo bisa cari perhatian gue?"


"Sorry ya ... Dalam kamus hidup gue gak ada tuh istilah cari cari perhatian apalagi hanya dari seorang lo yang gak jelas!" jawab Tito kembali terlihat dingin. Sebenarnya, gue hanya khawatir gimana gue bisa nyelesaikan masalah ini. Gue kelihatan bego didepan lo dan dengan begonya gue bilang suka lagi! Tito kembali membatin. Ia merasa cemas sendiri.


Sila melemparkan senyum kecil, "Dih mulut lo!


Emangnya gue gak tahu apa dari tadi lo ngelirik ke arah gue terus dengan penasaran. Udah jelas jelas yang lo katakan tadi!"


Tito sedikit malu. Menghentikan langkah kakinya yang terus berjalan menuju bengkel motor. " Sebenarnya, gue ingin bilang bahwa gue senang bisa berada di sini sama lo. Lo adalah teman pertama gue yang gue ajak kesini. Temen yang gak ngebosenin dan yang jelas lo gak takut sama gue!"

__ADS_1


Sila tersenyum lebar. "Wah ... Lo bisa muji orang juga? Terima kasih, Tito. Gue juga merasa senang bisa jadi teman lo, ingat ya ... Kita temen dari mulai sekarang. Kita mungkin memiliki perbedaan dan masalah sebelumnya, tapi gue percaya kita bisa melewatinya.


Tito mengangguk. "Setuju. Semoga kejadian ini bisa menjadi awal dari hubungan yang lebih baik antara kita. Gue nyesal atas sikap gue tadi dan sebelumnya."


Sila menyentuh lengan Tito dengan lembut. "Yang terpenting sekarang adalah kita saling memaafkan dan melihat masa depan dengan lebih positif. Gue yakin kita bisa melewati semua masalah ini.


Sila dan Tito melihat lebih dekat dan memang benar, tempat yang mereka temukan adalah sebuah bengkel kecil yang nampaknya bisa membantu mereka. Sebuah plang dengan tulisan "Bengkel Motor" tergantung di depan pintu masuk.


Mereka merasa lega menemukan tempat ini, karena mereka yakin bengkel tersebut dapat membantu memperbaiki motor yang mogok. Tanpa ragu, mereka menghampiri pemilik bengkel dan menceritakan masalah yang mereka alami.


"Maaf ... Apa motor kalian mogok?" ucap seseorang pria yang keluar dari pintu bengkel.


"Oh ... Baiklah. Aku akan cek lebih dulu!"


"Makasih!" jawab Sila juga, "Apa ada bensin untuk motor ini!"


Tito tersenyum, dia terbiasa melakukannya sendirian namun kali ini dia bersyukur bisa memiliki seseorang yang melakukan hal semacam itu untuknya. Pemilik bengkel dengan ramah menerima mereka dan menyatakan siap membantu. Mereka bersama-sama mendorong motor ke dalam bengkel dan pemilik bengkel mulai memeriksa dan menganalisis masalah yang terjadi.


Saat mereka menunggu, Sila dan Tito duduk di ruang tunggu bengkel dengan rasa lega yang semakin membesar. Mereka saling berpandangan dan tersenyum, merasa bersyukur bahwa mereka menemukan bantuan di tengah keadaan yang sulit.

__ADS_1


Pegawai motor itu pun mulai sibuk dengan pekerjaannya. Dia mengotak ngatik mesin kendaraan milik Tito dan benar saja, hanya kerusakan kecil dan bensin yang telah kering.


Waktu berlalu dan akhirnya pemilik bengkel memberikan kabar baik. Masalah motor ternyata hanya karena bensin yang habis dan baterai yang lemah. Setelah mengisi bensin dan mengisi daya baterai, motor berhasil dinyalakan kembali.


"Terima kasih banyak! Kita hampir tidak bisa jalan jika tidak ada bantuanmu." tukas Tito dengan sopan, terlihat sangat berbeda dari sebelumnya dan membuat Sila terperangah.


Pegawai Bengkel itu pun mengangguk. "Tidak apa-apa. Saya senang bisa membantu. Semoga perjalananmu lancar dan motormu berfungsi dengan baik.


Sila menyenggil lengan Tito. "Kami sangat berterima kasih atas bantuannya. Terima kasih banyak!"


Pegawai Bengkel itu pun tersenyum. "Sama-sama. Semoga semuanya baik-baik saja. Selamat perjalanan!"


Mereka berdua akhirnya keluar dari bengkel dengan motor yang sudah berfungsi kembali, Tito dan Sila merasa lega dan bahagia. Mereka saling memandang dengan rasa terima kasih dan apresiasi atas bantuan yang mereka terima.


Perjalanan mereka berlanjut dengan perasaan yang lebih ringan dan ceria. Pengalaman yang mereka alami di bengkel tersebut menjadi momen yang menguatkan hubungan mereka dan membawa sedikit keceriaan di tengah kecanggungan yang sebelumnya mereka rasakan.


Sila benar benar heran dengan sikap Tito yang berubah ubah. Namun dia senang lagi lagi bisa melihat diri Tito yang lainnya.


"Jangan jangan lo berkepribadian ganda ya?"

__ADS_1


__ADS_2