Jagoan Kampus

Jagoan Kampus
Bab.08(Ganti Metode)


__ADS_3

"Sialan emang si Tito ... Sebenarnya siapa yang jadi bekingnya!"


Sila terus berjalan keluar dari sana dengan kedua kakinya yang lemas. Dia tidak habis fikir semua upayanya gagal. Se anak emas itu kah Tito di universitas, siapa ayahnya yang konon katanya petinggi dari kampus ternama itu. Sampai semua pihak kampus tidak ingin terlibat di dalam permasalahannya dan menyuruhnya untuk menyerah saja.


Sila tidak bisa berbuat banyak, dia berasal dari keluarga sederhana yang bahkan bekerja keras untuk membiayai kuliahnya. Ayah dan ibunya bekerja siang dan malam agar Sila mendapat pendidikan yang terbaik.


Helaan nafas berkali kali terdengar darinya, haruskah dia menyerah dan membiarkannya.


Bruk!


"Awww!"


Sila memegangi dahinya yang sakit, dia memang berjalan dengan kepala tertunduk dan tidak melihat arah jalan hingga bertabrakan dengan seseorang.


"Heh ... Mata kok meleng!"


"Merry!" Lirih Sila yang langsung memeluk sahabatnya itu.


Merry jelas bisa menduganya dengan cepat, dia menepuk nepuk punggung Sila. Dia memang mengatakan tidak akan ikut campur masalah Sila dan Tito namun bukan berarti tidak akan peduli pada sahabatnya itu.

__ADS_1


Merry mengajaknya untuk duduk, kebetulan sekali disana ada kursi panjang dan terlihat sepi.


Dengan perasaan kecewa Sila menurut saja pada Mery, dia juga langsung mengambil botol minuman yang di sodorkan Merry padanya.


"Gue ngerasa sangat kecewa dan putus asa. Gue udah nyari bantuan sama orang orang yang pernah diperlakuin buruk. Tapi Tito ngehapus semuanya. Gue juga udah nyoba nyari bantuan dari dosen dan penasihat akademik, tetapi mereka juga gak kasih gue pilihan atau kasih solusi yang gue harapkan. Masalah dengan Tito semakin sulit dan gue gak tahu apa yang harus gue lakuin lagi." lirihnya dengan nada kecewa.


Merry menggeserkan tubuhnya lebih dekat dengan Sila . Dirinya bukan hanya sayang dan simpati saja padanya. "Sila, gue bisa lihat betapa sulitnya situasi ini buat lo."


"Orang tua gue pasti kecewa kalau tahu gue dapat surat peringatan itu Mer!"


Merry mengusap bahunya lembut. "Gue faham perasaan lo Sil. Tapi lo jangan putus asa. Gue di sini buat lo, mungkin itu jalan terbaik agar lo gak makin terlibat sama tuh orang! Atau lo mau gue yang ngomong sama bokap nyokap lo kalau lo gak salah?"


Lagi lagi Sila menghela nafas.


"Thanks, Mery. Gue ngerasa begitu terjebak dan frustrasi. Semua pihak kampus ingin gue juga mundur. Tapi gue gak mau karena gue ngerasa gue gak salah. Gue mau menyelesaikan konflik ini dengan cara yang baik, tapi kayaknya semakin sulit."


"Gue ngerti perasaan lo, Sila. Tapi lo tahu kan kadang kadang solusi terbaik gak selalu datang dari pihak luar. Gue udah pernah bilang kalau mereka gak bakal bantu lo. Mungkin saatnya lo melihat ke dalam dirimu sendiri dan mencari cara untuk mengatasi masalah ini sama Tito. Ya salah satunya jangan pernah terlibat lagi dengannya."


Sila terdiam, jelas itu bukan dirinya. Dia tidak mau mendapatkan diskriminasi apapun terlebih dia tidak bersalah. Tito lah yang salah dalam hal ini, dan banyak teman temannya yang mengeluh namun juga tidak bergerak sama sekali.

__ADS_1


"Tapi apa yang bisa gue lakukan, Merry? Gue juga udah mencoba bicara sama Tito secara baik baik, mencari bantuan dari pihak kampus, tapi nol besar! Sialan banget kan orang itu!"


"Mungkin lo harus ngubah pendekatan lo. Dari pada fokus sama masalah lo sama Tito, coba deketin dia dengan cara lain."


Sila menoleh, "Caranya?"


"Pertama, perhatiin gimana cara Tito ngadepin masalah lo ini, kedua lo harus jaga emosi dan tetap tenang saat berinteraksi dengan Tito. Tunjukin lo peduli sama dia, lo harus ganti metode lo!"


Sila tersentak, "Gila ... Lo suruh gue Pedekate sama dia?"


Merry menarik tangan Sila dan menyuruh Sila untuk kembali duduk. "Eh lo berisik banget!"


"Ya lo ngapain sih ngasih saran kayak gitu sama gue! Gila lo yaaa! Gue gak mau lah ... Ngapain coba!"


"Gue belum selesai ngomong Dodol. Cuma cara gitu biar dia juga bantuin lo. Pihak kampus juga kan jadi lupa sama lo nanti. Ibaratnya lo pedekate biar lo juga gak kena masalah. Faham gak lo?"


Sila terdiam, Itu terdengar masuk akal, hanya Tito yang bisa bikin keadaan kembali seperti semula.


"Apa ada lagi yang bisa gue lakuin selain itu?"

__ADS_1


__ADS_2