
"Gue rasa gue mulai suka sama lo Sila!"
Saat Tito mengungkapkan perasaannya kepada Sila, Sila merasa terkejut dan tak menyangka. Dia merasa dadanya berdesir dan detak jantungnya berdetak lebih cepat. Semua ini begitu tidak terduga baginya. Apa yang di fikirkan Merry kalau dia tahu Tito suka gue, padahal niat gue kan cuma maen maen aja biar gue bisa dapetin hatinya. Eh ternyata dia beneran donk.
Sila merenung sejenak, mencoba menyerap kata-kata yang diucapkan oleh Tito. Perasaan campur aduk memenuhi pikirannya, antara kegembiraan, keraguan, dan kebingungan. Dia tidak tahu harus berkata apa atau bagaimana merespons pernyataan tersebut.
Saat matanya memandang Tito, dia melihat ketulusan dan kejujuran di dalam matanya. Itu membuat hatinya sedikit berbunga-bunga, namun rasa takut dan keraguan juga masih ada. Sila mempertanyakan apakah ini hanya momen yang terjadi di antara mereka atau benar-benar perasaan yang dalam dan tulus dari Tito.
"Kenapa ... Lo kaget ya?" Tanya Tito dengan kedua alis mengernyit. "Gak usah di fikirin! Gue bukan nembak lo jadi pacar gue, tapi gue emang mikir kalau gue mulai suka sama lo!"
Tito memberikan waktu kepada Sila untuk memproses perasaannya. Dia tidak memaksa atau menuntut sebuah jawaban segera. Tito mengerti bahwa hal ini mungkin mengejutkan dan membingungkan bagi Sila. Dia berharap Sila dapat memahami bahwa perasaannya tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi sudah ada sejak lama.
"Ya gue tahu! Lo pasti asal ngomong doang! Makanya gue gak percaya sama lo! Masa iya lo suka gue!"
Sila menghela nafas dalam-dalam, mencoba mengatur pikirannya yang kacau. Dia menyadari bahwa saat ini dia tidak harus memberikan jawaban langsung. Dia butuh waktu untuk memikirkan dan memahami perasaannya sendiri apa yang di ucapkan Tito benar atau tidak. Namun justru fikiran itu kembali muncul.
__ADS_1
Dalam keheningan yang hangat, Sila justru bertemu dengan pandangan Tito yang penuh pengertian. Dia melihat kesabaran dan ketulusan dalam pandangan mata Tito. Itu memberinya rasa nyaman dan kepercayaan bahwa mereka dapat menghadapi apapun yang akan datang.
Tito menatapnya dengan lekat. "Saat ini gue emang suka sama lo Sil ... Terserah lo percaya atau enggak!"
Sila masih terdiam. Namun saat ini, Sila memutuskan untuk menghormati perasaannya sendiri dan memberikan ruang bagi hubungan mereka untuk berkembang. Dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk jujur dengan perasaannya dan berkomunikasi dengan Tito secara terbuka.
Perjalanan mereka berdua baru saja dimulai, dan Sila tidak tahu persis apa yang akan terjadi di masa depan. Namun, jika perasaan Tito benar adanya apa dia harus memutuskan untuk membuka hatinya dan memberikan kesempatan bagi perasaannya untuk tumbuh atau tidak. Entahlah.
Setelah beberapa saat terdiam, Sila akhirnya memberikan respons kepada Tito. Suaranya terdengar ragu dan terbungkam oleh keraguan yang terus menghantuinya.
"Gue ... Gue gak tahu apa yang harus gue bilang sama lo, Tito," ucap Sila dengan suara yang terdengar gemetar. "Ini semua tak terduga buat gue, lo baru kenal sama gue. Dan gue gak tahu gimana merespons perasaan lo."
"Tito, Gue harap lo bisa ngerti bahwa gue emang gak percaya dan ragu kalau lo .... dan takut," lanjut Sila dengan hati-hati. "Tapi....!" Ucapan Sila kembali teehenti, dia merasa berkewajiban mencari dan memilih kata kata yang tidak menyakitkan bagi Tito, bagaimana kalau dia kembali marah dan menghancurkan kembali rencana yang sudah dia buat.
Tito mengernyitkan kedua alisnya. "Lo kenapa? Lo takut gue marah ... Lo takut gue ngamuk ngamuk karena apa yang gue katakan sama lo?"
__ADS_1
"Ini bukan tentang lo gak percaya guetapi lebih pada diri gue sendiri. Jadi lo ngerasa sulit untuk percayai bahwa ada seseorang yang kayak gue bisa suka cewek dengan tulus!" lanjutnya lagi. "Iyakan?"
Sila menghela nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dia ingin Tito tahu bahwa keraguannya bukanlah tentang Tito sebagai individu, melainkan tentang kompleksitas emosional yang sedang dia hadapi.
"Lo tenang aja! Gue gak minta lo jawab ko! Jadi gak usah terlalu percaya diri kalau gue suka sama lo dan berharap lo terima gue jadi pacar lo! Suka sama lo bukan berarti cinta kan?"
Sila melihat ekspresi campuran di wajah Tito, antara kekecewaan dan pengertian. Dia berharap Tito bisa memahami bahwa ini bukanlah penolakan, melainkan kebutuhan Sila untuk menjalani prosesnya sendiri. Tito terlihat tengah berusaha menutupi sesuatu. Sila yakin keadaan mungkin hanya karena dia nyaman dan suasana yang mendukung mereka.
"Tuh kan ... Apa gue bilang, lo gak mungkin suka sama gue gitu aja kan! Hahahah ....!" Tawa menggantung di ujung lidah setelah itu Sila kembali terdiam.
Tito mengangguk dengan ekspresi penuh pengertian. Dia menyadari bahwa perasaan ini tidak bisa dipaksakan dan membutuhkan waktu. Tapi semakin dia menatap Sila, semakin mantap hatinya jika dia mulai nyaman dengan gadis keras kepala dan berjanji akan memberikan ruang yang diperlukan bagi Sila untuk menyelesaikan keraguannya.
Sila bangkit dari duduknya. "Ayo pulang! Ini sudah gelap...!"
"Ya gue tahu ini gelap, lo fikir gue masih mau jalan sama lo lama lama? Sorry ... Gue juga sibuk!" kilah Tito dengan ikut bangkit dan berjalan lebih dulu.
__ADS_1
Sila dan Tito meninggalkan pertemuan mereka dengan rasa haru dan ketidak pastian yang melingkupi mereka. Meskipun tidak ada kepastian tentang apa yang akan terjadi di masa depan, mereka berdua memahami pentingnya memberikan waktu dan ruang bagi diri mereka sendiri untuk tumbuh dan memahami perasaan mereka masing-masing.
"Yeeee ... Siapa yang mau lama lama sama lo juga??"