
"Pegangan ... Lo mau jatoh?"
Mereka berdua terus melaju, sampai dimana Sila sadar dimana dia saat ini.
"Lo gak nyasar jalan kan?" katanya dengan heran, menatap jalanan yang tidak dia kenali. "Lo nyasar To!" katanya lagi.
Tito menatap ruas jalan yang dia tempuh, "Masa iya tersesat. Tadi jalan sini juga kan!"
"Ini bukan jalan yang tadi To!" tukas Sila yang terlihat kesal. Dia berdecak seraya memukul punggung Tito
Dan tiba tiba motor yang di kendarai Tito mendadak mati, keduanya turun dari motor yang sepertinya kehabisan bensin. Mereka pun saling menatap dan bingung harus bicara apa lagi.
Sila menghela nafas, dengan satu tangan berkacak di pinggangnya. "Terus gimana?"
Tito memeriksa kendaraan beroda dua itu, dia memastikan jika motornya hanya kehabisan bensin saja.
"Gak punya duit tapi so soan ngajak gue ke tempat jauh!" dengus Sila.
"Iya iya Sorry! Mana gue tahu kalau bakal begini!"
Mereka berdua duduk di tengah jalan, motor yang mati dan mereka bingung harus berbuat apa. Suasana menjadi tegang dan penuh kecemasan. Tito mencoba menghidupkan kembali motor, tetapi tampaknya masalahnya lebih dari sekadar bensin yang habis. Mereka saling menatap dengan wajah yang penuh tanda tanya.
Sila mencoba untuk menenangkan diri dan memikirkan langkah selanjutnya. Dia mengusulkan untuk mencari bensin atau bantuan dari orang yang lewat. Namun, di tengah keadaan yang tidak terduga ini, semua rencana menjadi kabur dan mereka merasa tersesat.
Tito menganggukkan kepala dengan setuju, menunjukkan bahwa dia setuju dengan saran Sila. Mereka berdua memutuskan untuk berjalan kaki menuju area yang lebih terlihat ramai dengan harapan bisa menemukan bantuan.
__ADS_1
Saat mereka berjalan di samping motor yang tidak bergerak sama sekali. Suasana yang canggung masih terasa di antara mereka. Mereka saling berpandangan sesekali, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Mungkin mereka merasa sulit untuk menemukan topik pembicaraan yang tepat di saat seperti ini.
Namun, di balik kebingungan dan kecanggungan itu, mereka juga merasakan kebersamaan dan rasa saling bergantung satu sama lain. Meskipun dalam situasi sulit, mereka saling mendukung dan berusaha mencari jalan keluar bersama.
Setelah beberapa waktu berjalan, mereka akhirnya menemukan sebuah warung kecil di pinggir jalan. Mereka memutuskan untuk mampir sejenak, beristirahat, dan mencari bantuan.
Sambil menunggu bensin atau bantuan datang, mereka duduk di warung tersebut. Di tengah keheningan yang menggantung, akhirnya Sila mengeluarkan senyum kecil. Tito pun ikut tersenyum sebagai respon.
Walaupun mereka masih belum tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, momen ini memberikan mereka sedikit ketenangan dan kelegaan. Di antara kecanggungan dan ketidak pastian, mereka menemukan kekuatan dalam kebersamaan dan kepercayaan satu sama lain.
"Kata orang sini tempat bensin masih lumayan jauh!" ucap Sila Saat dia berjalan dengan ragu di sekitar tanah yang tidak rata, Tito yang melihatnya dari kejauhan segera merespons dengan cepat. Ia melangkah mendekati Sila dengan penuh perhatian.
"Tunggu sebentar, Sila!" seru Tito dengan suara khawatir. "Lihat langkah kaki lo!"
"Ogah!"
"Kalau gitu pegang tangan gue aja. Hm?"
Dengan sigap, Tito mengulurkan tangannya ke arah Sila. Tatapannya penuh perhatian dan tangan yang terulur menunjukkan kepedulian yang tulus. Meskipun ada ketidak seimbangan dan risiko terjatuh, Tito ingin memastikan keselamatan Sila.
Sila yang kaget dengan tindakan tiba-tiba Tito, menggenggam erat tangan yang terulur. Ia merasakan kehangatan dan dukungan dari sentuhan tangan Tito. Seolah-olah semua kebingungan dan ketidakpastian yang ada dalam dirinya terasa berkurang sejenak.
"T-terima kasih, Tito," ucap Sila dengan suara yang sedikit gemetar. "Tapi gue gak mungkin jatuh, lo gak usah sok baik! Datang dan menolong gue!."
Tito tersenyum lembut dan menatap Sila dengan penuh perhatian. Ia menganggukkan kepalanya dengan mantap.
__ADS_1
"Sorry ..!" cicit tiba tiba ita saling menjaga, Sila. Aku ada di sini untukmu," kata Tito dengan penuh keyakinan.
Keduanya melanjutkan langkah mereka bersama-sama, dengan Tito memegang tangan Sila erat. Mereka berjalan dengan hati yang lega dan mengatasi rintangan bersama-sama. Ketika mereka saling berpegangan, Sila merasakan kekuatan dan dukungan dari Tito, menguatkan keyakinannya bahwa mereka bisa menghadapi segala hal bersama-sama.
Pegangan tangan mereka menjadi simbol dari kepercayaan, keberanian, dan keterhubungan yang ada di antara mereka. Dalam perjalanan ini, mereka berdua menyadari bahwa tidak ada yang harus mereka takuti selama mereka saling mendukung dan saling menjaga.
suasana seakan berubah menjadi tegang dan tidak nyaman.
Sila merasakan keraguan di dalam dirinya. Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan: Apakah ini benar-benar bisa berfungsi? Apa yang seharusnya mereka lakukan selanjutnya? Bagaimana mereka dapat memperbaiki hubungan yang rumit ini?
⁸Sementara itu, Tito juga merasakan ketidakpastian yang sama. Meskipun ia mencoba untuk mengungkapkan perasaannya, ia khawatir bahwa hal itu hanya akan memperburuk keadaan dan membuat segalanya semakin rumit.
Kedua hati yang saling bergetar, kini dihantui oleh ketidakpastian dan rasa cemas. Mereka saling menatap dengan ekspresi bingung, mencoba mencari jalan keluar dari kecanggungan ini.
Nīmun, dalam keheningan yang tak terucapkan, mereka menyadari bahwa mereka harus berbicara secara terbuka dan jujur. Keduanya perlu mendiskusikan perasaan mereka, memahami satu sama lain, dan mencari solusi untuk mengatasi rasa canggung yang ada di antara mereka.
Dengan perlahan, Sila mengambil nafas dalam-dalam dan berusaha mengatasi rasa canggung yang menghampirinya. Dia berbicara dengan tulus kepada Tito, mengungkapkan kekhawatirannya dan harapannya untuk memperbaiki hubungan mereka.
Tito juga mendengarkan dengan seksama. Dia mengerti pentingnya membuka diri dan menghadapi ketidaknyamanan demi mendapatkan kejelasan. Dia berusaha menahan diri dari kecemasan dan mengungkapkan perasaannya dengan jujur kepada Sila.
Meskipun awalnya canggung, mereka berdua berbicara secara terbuka dan tulus satu sama lain. Walaupun belum ada solusi yang langsung ditemukan, mereka setidaknya telah mengambil langkah pertama menuju pemahaman yang lebih baik.
Kedua belah pihak menyadari bahwa proses ini tidak akan mudah, tetapi mereka berjanji untuk saling mendukung dan bekerja sama untuk mengatasi rintangan yang ada di antara mereka. Dalam kecanggungan dan ketidakpastian, mereka berdua menemukan keberanian untuk melangkah maju.
"Tuh ... Itu bengkel kan?"
__ADS_1