Jagoan Kampus

Jagoan Kampus
Bab.09(Gak punya pilihan)


__ADS_3

Sementara itu Tito mengendarai motor miliknya dengan kecepatan tinggi keluar kawasan kampus. Seperti biasa dia pergi menuju tempat dimana dia akan nyaman berada di sana.


Kendaraan beroda dua itu membelah jalanan dengan sangat cepat juga meliuk liuk menyisiri luas jalan dimana mobil mobil mengalami kemacetan.


Hingga Tito yang lelah dan malas tidak menyadari jika dia bisa terhindar dari kemacetan dengan leluasa.


Sedangkan Sila kini tengah berada di bus untuk menuju rumahnya dengan perasaan yang cemas dan was was, ya Sila kerap naik angkutan umum setiap pergi dan pulang kuliah.


"Aduh dimana ini? Ibu dan ayah pasti marah kalau gue pulang ke rumah dan tahu surat peringatan dari kampus!" gumamnya seorang diri.


Sepanjang perjalanan, Sila terlihat tidak tenang dia khawatir ibu dan ayah nya tidak bisa mengerti dan sulit menerima penjelasan darinya sebab Sila tahu seperti apa ayahnya sendiri.


Hampir 20 menit berada di dalam bus akhirnya Sila sampai di depan rumahnya, degup jantungnya se akan tidak bisa dikendalikan lagi saat tiba di pekarangan rumah. Terlihat motor ayahnya sudah terparkir dengan rapi, perlahan lahan dia masuk dengan langkah kaki yang terlihat seperti seorang pencuri yang sedang mengendap endap.


"Sila!?"


Sila tersentak saat suara ibunya memanggil dari ruangan keluarga, membuat langkah kakinya terhenti begitu saja. Terlihat sang ayah tengah menonton berita di televisi dengan secangkir kopi yang berada di atas meja. Kepulan asap dari secangkir kopi yang sepertinya baru di buat itu terlihat di udara. Ia menoleh ke arah Sila dan semakin membuat sila terlihat khawatir dan tergugup gugup.


"Kenapa wajahmu itu Sila?" Tanya ayahnya yang merasa heran melihat raut sang Putri yang terlihat Aneh, "Seperti melihat hantu saja. " Lanjut nya lagi.


Sila bimbang antara mengatakan masalah yang dialaminya atau tidak pada orang tuanya, dia masih terus berdiam diri dengan tangan yang memegangi tasnya dengan erat.


"Iya Ayah benar, Sila terlihat aneh!" Sambung sang ibu


Sila yang berada di dalam kebingungan akhirnya masuk kedalam ruang keluarga dan langsung duduk di samping ibunya dengan wajah ditekuknya.


Sila merasa khawatir, "Ma, Ayah, aku ingin bicara!"

__ADS_1


Terlihat wajah Sila yang serius.


"Bicara saja. Kenapa kamu terlihat seperti orang yang telah melakukan dosa besar?"


Seakan memahami bahwa situasinya sulit, sang ayag meletakkan kaca mata yang bertengger di pangkal hidungnya.


"Ada apa?" katanya dengan nada yang datar.


"Tapi ... Tapi apa kalian bisa maklum dan faham. Juga ngerti apa yang akan aku jelaskan?" tanya Sila lebih dulu. "Aku takut ayah dan ibu marah." ujarnya lagi.


"Tergantung apa yang kamu bicarakan."


Sila menghela nafas, merasa tidak tega pada kedua orang tuanya. Perlahan lahan dia mengerluarkan surat peringatan dari kampus untuknya lalu di berikan pada ibunya.


"Apa ini?"


Ibunya memberikan surat itu pada sang ayah, lalu guru sekolah dasar itu membukanya.


"Apa ini Sila. Surat peringatan dari kampus? Astaga .... Masalah apa yang kamu buat itu?"


"Dengarkan dulu aku Yah... Aku gak bikin salah apa apa, aku juga gak punya masalah apa apa. Tapi mereka semua beranggapan kalau akulah yang salah dan pihak kampus juga menyalahkanku."


Brak!


"Ayah kan sudah bilang, kalau kamu itu terlalu banyak main main Sila!" sentak sang ayah seraya melemparkan surat ditangannya. "Inilah akibatnya kalau kamu tidak menuruti perkataan orang tua!" ucapnya lagi.


"Ayah jangan dulu marah marah ... Aku gak salah Yah ... Mereka saksinya tapi mereka juga gak mau bersaksi dan bantuin aku padahal jelas jelas mereka tahu kalau aku ini hanya membela kebenaran!"

__ADS_1


"Kau bukan pahlawan Sila! Kebenaran apa yang kamu bela itu sampai kamu mendapatkan surat ini. Jelas jelas ini adalah masalahmu. Surat ini tidak mungkin sampai di tanganku jika kamu tidak bermasalah!" tegas Ayahnya.


Ayahnya adalah ayah yang keras dan ibunya tidak bisa apa-apa. Tapi Sila pun menceritakan semuanya dengan detail. Tito dan para mahasiswa. Para dosen dan bahkan wakil rektor dan rektor itu sendiri.


"Apa kamu benar benar tidak bersalah?"


"Iya aku gak salah Ayah, apa ayah dan Ibu bisa ke kampus besok dan meluruskan masalah ini?"


Ayah Sila menatap Sila dengan serius. "Sila, kita telah memberikan dukungan dan melakukan yang terbaik yang kami bisa. Tapi ingatlah bahwa kamu juga harus mengambil tanggung jawab atas tindakanmu. Konsekuensi dari surat peringatan ini adalah akibat dari masalah yang kamu buat apaun itu, kau fikir semua orang di dunia ini baik hati. Kau mengerti?"


Ibu Sila menggangguk, dengan nada lembut dia mengenggam tangan Sila. "Ayahmu benar, Sila. Kami ingin melihatmu tumbuh menjadi orang yang bertanggung jawab dan dapat menyelesaikan masalahmu sendiri. Kami bisa memberikan saran dan dukungan, tetapi kamu harus mengambil inisiatif dalam menyelesaikan masalah ini sendiri!"


Sila menghela nafas. "Maaf jika aku terdengar meminta terlalu banyak, Ayah dan Ibu. Aku hanya merasa sangat terbebani dengan situasi ini dan merasa sulit untuk menemukan jalan keluar yang tepat. Mereka gak ada yang bisa bantu aku dalam masalah ini!"


Ayah Sila melepaskan napas berat, suaranya kini mulai rendah dari pada sebelumnya. "Sila, kami memahami bahwa kamu sedang menghadapi tekanan dan kami mencoba memberikan dukungan yang kami bisa. Tapi, kamu juga perlu belajar mengatasi masalah dan menghadapi masalah itu sendiri. Itu adalah bagian dari proses tumbuh dewasa."


Ibu Sila menyentuh lengan Sila dengan penuh kasih. "Sila, kamu memiliki kekuatan dalam dirimu untuk menghadapi tantangan ini. Kami percaya kamu bisa menyelesaikannya dengan baik. Tetaplah berkomunikasi dengan baik dengan pihak kampus dan teman-temanmu.


Sila merasa sedikit lebih percaya diri. Tapi tetap saja itu tidaklah cukup. Orang tuanya terlalu terlihat tidak peduli dan melakukan pembiaran. Tapi juga tidak memberikan solusi yang terbaik baginya.


"Terima kasih, Ayah dan Ibu. atas nasihat dan dukungannya. Aku akan mencoba lebih keras untuk menyelesaikan masalah ini dan belajar mengatasi masalah ku sendiri. Mungkin aku terlalu berharap kita dapat mengatasi situasi ini bersama-sama."


Dengan rasa kecewa yang mendalam, Sila bangkit dan berjalan ke arah kamarnya. Dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti saran dari Merry. Sahabatnya.


Gadis itu masuk ke dalam kamar, melemparkan tas miliknya begitu saja lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Kedua mata Sila menatap langit langit kamar, dengan otak dan fikiran yang bekerja lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Tak lama Sila mengambil ponsel miliknya dan menghubungi Merry.

__ADS_1


"Gue gak punya pilihan selain mengikuti saran dari si Merry!"


__ADS_2