
''Semua itu Papa lakukan demi kebaikan mu Kezia! Jangan salahkan Papa karena melakukan hal ini padamu. kamu tau kan Dimas itu seperti apa? Dia itu penyakitan! Tidak pantas untukmu! Doa itu seorang pendosa! Tidak layak untukmu! Semua ini Papa lakukan untukmu. Tidakkah kamu mengerti keinginan Papa Kezia?!''
Deg!
Kezia yang sudah berjalan pun mengepalkan tangannya. Panas kuping panas juga hatinya. Berulang kali sang Papa menghina calon suaminya.
''Jangan melawan Papa. Kamu bisa kualat nanti. Ingat? Restu orang tua lebih penting daripada keinginan kita sayang. Mengertilah. Ya? Jangan melawan orang tua hanya karena Abang..'' Lagi, Kezia terngiang ucapan Dimas tadi sebelum ia pulang kerumah mereka.
Kezia kembali melanjutkan langkah kakinya menuju kamar. Ia sudah tidak berselera lagi untuk makan. Papa Reza geram melihat nya.
''Berhenti Kezia Putri Ar Reza! Papa belum selesai bicara! Inikah caramu menghormati orang tua?!''
Deg!
Kezia berhenti. ''Hebat sekali kamu! Baru sebentar kamu bertemu dengan nya, sekarang kamu sudah menuruni sifat buruknya! Itukah yang kamu pilih untuk menjadi calon suami mu?! Cih!''
Deg!
Kezia berbalik dan menatap dingin pada Papa Reza. ''Sebelum Papa mengatakan penyakitnya dan keburukannya, ingat dulu penyakit dan keburukan Papa seperti apa!''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
Mama Rani dan Papa Reza tersentak. ''Aku tau diriku ini terlahir dari kalian! Tetapi bukan berarti kalian bisa seenaknya saja kepadaku. Apa yang tidak ku turuti mau kalian berdua? Kalian memintaku untuk menjadi dokter, aku turuti. Padahal aku ingin menjadi guru. Aku meminta kuliah di Medan, tetapi kalian berdua mengirim ku ke Jakarta. Apalagi yang kurang dariku untuk kalian?''
Papa Reza terkekeh sumbang. ''Hebat sekali kamu! Kamu sudah berani mengajari kami ya? Heh?!''
__ADS_1
''Aku tidak mengajari kalian tetapi aku mengingatkan! Tidakkah Papa berpikir, seperti apa Papa dulunya saat tau kalau Papa itu punya penyakit yang tidak bisa memiliki keturunan?!''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
Papa Reza terkejut. ''Kezia!!'' serunya.
Kezia terkekeh tetapi mata itu begitu terlihat kecewanya. ''Kenapa? Salah yang aku katakan? Benarkan kalau Papa itu dulunya juga sama seperti bang Dimas? Mandul dan tidak bisa memiliki keturunan??''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr..
''Kezia!!!!'' pekik Mama Rani.
''Kenapa?? Kenapa kalian berdua begitu membencinya? Ingatkah kalian ada satu dalil yang mengatakan ''Diwajibkan atas kamu pertempuran. Padahal penyelesaian adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal dia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui ." Q.S. Al Baqarah ayat 216.
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr
Papa Reza terkesiap. Begitu pun Mama Rani. ''Maafkan anak durhaka ini. Aku terpaksa mengatakan hal ini kepada kalian berdua. Sebenarnya aku tidak mau mengungkit masa lalu Papa yang dulunya juga Sama seperti bang Dimas. Mandul! Tetapi apa salahnya? Kenapa kalian menentang pernikahan ku dengannya? Selama yang aku tau, kalau ia sudah berubah. Bukan berubah tetapi memanglah sangat baik. Jika bukan karenanya, mungkin aku sudah memilih menikah lari daripada mengharap restu dari kalian tetapi kalian berdua menentang nya!''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr
Seakan-akan petir itu terus menghantam jiwa dan raga Papa Reza dan Mama Rani saat ini. Mereka berdua menatap Kezia dengan mata yang nanar.
''Andai kalian tau.. kalau bukan karena Kak Zahra yang telah mengatakan dirinya tidak berguna dan mandul, pastilah saat ini Kak Zahra masih ada bersama kita. Dan Bang Dimas lah suaminya...''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
__ADS_1
"Semua itu terjadi karena mulut Kak Zahra yang menghina kekurangan bang Dimas. Kakak menghinanya hingga dia begitu terluka. Lalu bagaimana dengan Papa? Apakah Papa tidak kecewa saat mengetahui jika Papa tidak bisa memberikan keturunan?"
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr..
Lagi, Papa Reza dan Mama Rani terkejut. ''Apa maksudmu?'' sela Kenan dan Keanu bersamaan.
Kezia menatap kedua Abangnya itu. "Ya, semua hal itu terjadi karena kak Zahra menghina bang Dimas dengan mengatakan jika bang Rayyan lebih sempurna dan tidak mandul sepertinya! Dan juga pastilah bang Dimas tidak akan bisa membuat nya puas jika suatu saat nanti mereka menikah! Itu yang dulu kakak katakan padanya hingga terjadilah perbuatan hina itu! Apakah Papa ingin hal yang sama terjadi padaku??"
Deg!
"Zahra..." lirih Papa Reza dengan mata berkaca-kaca.
''Ya, Kak Zahra. Putri sulung Papa lah yang mengakibatkan semua ini. Jika bukan karena penghinaan yang ia lakukan pastilah kejadian itu tidak akan terjadi. Tetapi tidak. Semua itu sudah takdirnya. Keputusan takdir yang sudah menjadi ketetapan Nya. Kak Zahra tidak bisa menolaknya. Lalu, apa yang sekarang Papa takutkan kalau aku menikah dengan nya? Bukankah Bang Dimas mandul? Kalaupun kami melakukan nya pastilah aku tidak akan hamil bukan??''
Papa Reza dan Mama Rani membisu. Begitu juga dengan ketiga Abang nya. ''Apa sih yang Papa takutkan dari bang Dimas? Apakah karena bang Dimas memiliki penyakit yang sama dengan Papa makanya Papa tidak menerimanya sebagai menantu Papa??''
Deg!
''Kezia... Papa-,''
''Jika itu yang Papa takutkan Papa salah. Bang Dimas itu sudah sembuh. Ia tidak mandul! Kalau memang dia mandul kenapa dia bisa memiliki keturunan dengan Kak Zahra?''
''Kezia..'' lirih Mama Rani.
Mama Rani dan Papa Reza terdiam lagi. Tidak tau harus bicara apa. Karena apa yang disampaikan oleh Kezia benar adanya.
__ADS_1