
Seluruh keluarga besar Dimas kini sudah tiba di kediaman yang sudah papa Reza siapkan. Disana sudah menunggu mama Rani dan papa Reza selaku tuan rumah yang menyambut kedatangan mereka.
Ada Kenan dan Bella dan juga Keanu. Sedang Kenta bertugas menjaga adik kecilnya dirumah karena kedatangan keluarga besar itu tidak di ketahui oleh Kezia.
"Selamat datang keluarga besar Alamsyah Pak Besan! Dan juga Ibu besan!" seloroh papa reza kepada keluarga Dimas.
"Hahaha.. Terimakasih penyambutannya besan! Ngomong-ngomong mana nih pengantinya?" tanya Tante Riana pada mama Rani yang kini sedang memeluknya dengan erat.
Mama Rani tersenyum, "ada. Pengantinnya ada kok. Tetapi kami larang untuk keluar rumah karena sedang di pingit! Belum lagi, Dimas udah buat masalah saja. Hingga pengantinnya ngambek nggak ingin ngomong sama siapapun! Mogok ngomong dia!" jawab Mama Rani sengaja membuat seloroh agar keluarga besar Dimas merasa sangat disambuti oleh keluarga besar Alamsyah.
"Hem.. Pantas aja saya melihat keponakan saya ini, wajah itu di tekuk! Masam kayak jeruk purut!" ledek Tante Riana pada Dimas yang kini menatapnya dengan kesal.
"Enak aja Tante ngomong gitu untuk Abang di hadapan mertua Abang! Abang nggak gitu ya Tan?" ucap Dimas membela diri dan disambut kekehan oleh mereka semua.
"Ya enak lah! Kan mulut, mulut Tante yang ngomong? Apa urusanya sama kamu?" Katanya pura-pura ketus pada Dimas dan membuat pria dewasa itu mendelik padanya dan mendengus.
Tante Riana tertawa.
__ADS_1
Begitu pun dengan yang lainnya. Mama rani menunjukkan kamar untuk mereka semua. Ada sepuluh kamar di rumah itu.
Rumah yang berada di komplek perumahan dimana tempat tinggal Oma nya Rayyan yang kini sudah tiada.
Rayyan menyuruh mereka untuk tinggal disana, tetapi papa Reza menolak. Karena mereka sudah menyiapkan rumah untuk tamunya itu.
Rumah yang sengaja mereka beli untuk menampung seluruh keluarga Dimas sampai acara pernikahan Kezia dan Dimas selesai dengan baik.
Setelah mengantar seluruh keluarga itu, kini Mama Rani dan papa Reza segera pulang dan akan mengabarkan suatu hal kepada putri bungsunya itu.
Satu jam kemudian, mereka sudah tiba dirumah. Hanya kedua paruh baya itu saja. Sedang Kenan dan Keanu memilih tinggal bersama Dimas karena masih ingin menyusun acara untuk keesokan harinya.
"Sudah pulang, Ma, Pa? Gimana pertemuannya? Lancar?" tanya Kezia pada kedua paruh baya yang kini itu saling pandang.
Karena Keza tau kemana kedua orang itu pergi tadi dan Kenan pun sudah mengatakan yang sejujurnya padanya.
Keduanya menghela nafas berat. "Maafkan kami, Nak harus mengatakan ini," membuat Kezia mengernyitkan dahinya bingung.
__ADS_1
"Maksudnya? Bang Dimas dan papa Rian membatalkan acara pernikahan kami begitu?! Karena Bang Dimas sudah memiliki calon baru yang lebihh segalanya dariku??!" seru Kezia dengan suara naik satu oktaf.
Kedua paruh baya itu sampai terjingkat kaget mendengar seruan Kezia yang begitu keras.
Matanya mengembun.
Ia menatap datar pada kedua orang tuanya yang kini menatapnya dengan sendu.
Kezia menatap mereka berdua dengan tertawa sarkas tetapi air mata itu mengalir deras di pipinya.
"Baik. Jika itu keputusannya. Ini, Adek kembalikan cincin pertunangan kami dulunya. Semoga dia bahagia dengan pilihan hatinya dan Aku? Aku memilih jadi perawan tua seumur hidup jika tidak bisa menikah dengannya!"
Dddduuuuuuaaarrrrr..
Keduanya tersentak mendengar penuturan Kezia. "Nak.. Dengarkan kami dulu-,"
"Nggak ada yang perlu di dengar lagi, Ma. Sudah cukup. Aku paham sekarang. Ternyata inilah tujuannya kemarin. Ingin menunjukkan gadis itu padaku? Tak apa. Jika dia ingin menikah dengan wanita itu, maka selamat! Selamat menempuh hidup baru diatas luka yang sengaja ia torehkan untukku!" ucapnya dengan bibir bergetar. "Tak apa. Biarlah seperti ini. Memang inilah takdirku. Jika aku tidak bisa menikah dengannya, maka sampai kapanpun aku tidak akan menikah dengan pria manapun!"
__ADS_1
"Nggak bisa gitu, Nak. Mama sudah menyiapka pengganti Dimas untukmu. Dan mereka semua pun sudah datang kesini. Selepas pertemuan kami dengan Dimas tadi, sahabat papa menghubungi kami dan menanyakan tentang mu. Dan kami dengan cepat menerima lamaran itu. Agar kami bisa menikahkan mu dengannya. Kamu kenal baik kok dengan pemuda ini. Mama mohon.. di terima ya??" pinta mama Rani begitu berharap.