Janda Kembang Season 3 ( Menikah Karena Wasiat )

Janda Kembang Season 3 ( Menikah Karena Wasiat )
Di rendahkan


__ADS_3

Sementara Dimas berkutat dengan berkas dan kunjungan ke rumah sakitnya yang ada di Jakarta, Bekasi, dan Tangerang.


Kezia saat ini malah sedang dihina dan direndahkan karena ia yang akan memimpin operasi menggantikan Dimas.


Direktur rumah sakit Jaya Medika milik Dimas sendiri. Kezia tidak peduli dengan cemoohan itu.


Hari ini ia akan membuktikan kepada semua orang bahwa dirinya layak dan pantas. Biar saja mereka berkata apa.


Saat ini ia dan tim nya sedang berada di ruang operasi. Salah satu Dokter disana mencibirnya.


"Cih! Bagaimana mungkin seorang calon Dokter tetapi masih koas ini bisa melakukan operasi ini? Masih operasi kecil loh.. Lebih baik kamu mundur sebelum Tuan Dimas pulang kesini dan kamu mendapat skor karena kelancanagn kamu ini menggantikan possinya dan menjadi asisten nya!" ucap dokter anastesi itu.


Yang sangat meremehkan kemampuan Kezia yang saat ini sedang bersiap. Salah satu dari mereka sudah tau, jika Kezia merupakan tangan kanan sekaligus wakil direktur di rumah sakit itu.


"Sudah siap semuanya?" tanya Kezia kepada seluruh tim nya.


Mereka semua mengangguk, "Sudah dok!"


"Heleh. Lebih baik Anda keluar saja dari ruangan ini daripada nanti menimbulkan masalah yang membuat kita semua yang mendapatkan getahnya!" sindir nya lagi


Kezia menatap padanya dengan tatapan dinginnya. Wajah itu sangat datar saat ini. Ia menatap terus pada dokter anastesi nya itu.


"Jika anda tidak ingin membantu saya, lebih baik Anda keluar dokter Clara! Saya akan panggilkan dokter anastesi lain dirumah sakit ini. Bukan Anda saja dokter anastesi di rumah sakit ini. Jika anda tidak bisa bersikap profesioanal. Silahkan anda keluar! Pintu ruangan ini ada di sebelah kanan anda!"

__ADS_1


Deg!


Dokter yang bername tag Clara itu terkejut mendengar ucapan tegas Kezia padanya. Ia ingin menjambak dan menarik hijab Kezia sebelum mendengar ucapan seseorang yang saat ini sedang menjaga Kezia dari amukan dokter Clara.


Dokter yang sanagt suka pada Dimas dan juga bermimpi jika ialah yang akan menjadi Nyonya direktur dirumah sakit itu.


Ia mendapat perintah ini langsung dari atasan nya. "Berhenti disana Dokter Clara! Jangan mencari masalah, jika Anda masih ingin bekerja di rumah sakit ini! Saya yang menjadi penanggung jawab disini. Jika anda tidak berkenan ingin membantu kami, silahkan keluar!" tegas nya dengan tatapan menusuk membuat Dokter Clara Menciut.


Ia tau siapa yang sedang berbicara padanya saat ini. Seorang perawat yang mereka kira jika ia adalah tangan kanan Dimas.


Kezia tersenyum tipis melihat seorang perawat lelaki suruhan Dimas itu. Kezia mengangguk kecil dan tersenyum tipis di balik masker bedahnya.


Ia pun ikut mengangguk kecil yang hanya mereka berdua saja yang tau. "Harus secepatnya di umumkan ini. Jika tidak ingin calon istri sekaligus wakil direktur ini terus dihina dan di rendahkan seperti ini." Gumamnya dalam hati dengan tangan terus bergerak menyiapkan alat-alat yang akan mereka gunakan untuk operasi ini.


Dokter Clara terdiam dan tidak berani berkutik lagi saat asisten yang disangka olehnya itu menegurnya.


Sementara yang lain mulai bersiap. Perawat lelaki tadi saat ini sedang berdiri di sebelah kiri kezia.


Kezia dengan sigap mengambil alatnya dan mulai membedah perut pasien nya itu. Mereka semua tertegun saat melihat jika tangan Kezia begitu lincah dan juga sangat mirip dengan Direktur mereka jika sedang melakukan operasi.


Semuanya tercenung melihat pergerakan tangan Kezia yang begitu lihai. Perawat lelaki yang bername tag Akri itu tersenyum tipis di balik masker bedahnya.


Mereka semua bekerja sama dalam menyelesaiakn tugas itu. Satu jam mereka di dalam ruangan operasi itu barulah lampu di pintu ruangan operasi itu mati.

__ADS_1


Baru saja pintu ruangan itu terbuka, Kezia yang lebih dulu keluar sudah dihadang oleh orang tua pasien.


"Bagaimana anak saya dok? Apakah baik-baik saja?" tanya wanita paruh baya yang anak nya baru saja di operasi itu.


Kezia tersenyum, "Alhamduliillah semua nya lancar. Tidak ada hambatan saat kami melakukan operasinya. Saat ini pasien masih belum sadar karena pengaruh bius. Sebentar lagi akan dibawa keruang inap. Mari Bu, saya harus ke ruangan saya dulu."


"Terimaksih Dokter! Emm.. Maaf dokter. Boleh kah saya melihat wajah Anda? Saya ingin tau seperti apa Dokter bedah pilihan Dokter Dimas Anggara ini. Apakah boleh Dokter?" pinta wanita paruh baya itu yang membuat Kezia mengangguk dan tersenyum.


Sudah waktunya! Batin Kezia.


Dengan segera Kezia membuka masker bedah nya dan tersenyum melihat ibu paruh baya yang kini tertegun melihatnya. Mata wanita itu berkaca-kaca.


"Nak Kezia... Jadi kamu yang selama ini menjadi tangan kanan Dimas dan juga wakil Direktur dirumah sakit ini?!"


Deg!


Deg!


Semua yang ada di hadapan pintu ruangan operasi itu terkejut. Kezia tersenyum.


"Iya, ini saya bu Fatma. Lama ya tidak berjumpa? Dan ya. Azmi sehat kok. Ibu tenang saja ya? Saya harus kembali keruangan saya dulu. Setelah ini saya akan mengadakan rapat. Akri!"


"Saya Dok."

__ADS_1


"Persiapkan segalanya. Saya harus berbicara kepada seluruh perawat dan dokter dirumah sakit ini. Tentang siapa saya dan kenapa saya!" tegas Kezia pada Akri dan diangguki oleh perawat kepercayaan Dimas itu.


Setelahnya, ia pun berlalu di ikuti Akri dan satu orang perawat lainnya untuk mengurus masalah rapat dadakan yang akan di gelar sebentar lagi.


__ADS_2