
Kaki jenjang itu mundur ke belakang dua langkah lagi saat menyadari jika yang dihadapan nya saat ini itu Cinta. Bukan Zahra.
Lantas, kenapa Cinta berbicara seolah dirinay itu Zahra? Dimas terus menatap wajh Cinta yang semakin lam ia tatap semakin terlihat jika itu adalah Zahra nya yang dulu.
Dimas menggeleng saat menyadari jika Cinta merupakan Zahra. "Nggak! Itu nggak mungkin! Kamu Cinta! Bukan Zahra!"
Deg!
Deg!
Kezia tersentak mendengar ucapan Lirih Dimas tetapi cukup jelas terdengar di telinganya yang saat ini sedang berdiri di sampingnya.
"Nggak! Itu nggak mungkin!" bantah Dimas lagi masih dengan menatap Cinta yang kini semakin jelas terlihat jika itu adalah Zahra.
Dimas melihat ke Rayyan dan ia pun mengangguk setuju.
Brrruukkk...
"Astghfirullah! Abang!" pekik Kezia saat melihat tubuh tegap calon suaminya tiba-tiba saja terjatuh di lantai dengan terduduk.
Air mata di pelupuk matanya beruraian. Dimas menggeleng dan menangis. Semua tamu terkejut melihat Dimas yang jatuh terduduk dengan menangis.
__ADS_1
Rayyan memberi kode pada Papi Gilang dan Mami Alisa. Mereka berdua mengangguk. Dimas di bopong Kezia untuk masuk ke kamar hotel ruang di mana mereka tadi bersiap.
Karena kakinya begitu lemas saat ini karena melihat Cinta yang merupakan Zahra.
Cinta menangis di dalam pelukan Rayyan. Kezia pun sama melihat wajah Dimas yang sangat pucat saat ini dengan air mata yang terus beruraian tanpa henti.
Saat ini mereka berempat sedang duduk bersama di dalam kamar hotel itu. Rayyan tidak mengizinkan kedua orang tua mereka untuk masuk.
Karena masalah ini harus mereka berempat yang menyelesaikannya.
"Hiks.. Kamu nggak mungkin Zahra. Kamu Cinta. Bagaimana mungkin orang yang sudah meninggal bisa hidup lagi. Hiks.. Kamu bohong 'kan Bang Rayyan? Cinta bukan Zahra 'kan?" ucap Dimas masih dengan menangis.
Rayyan melepas pelukannya pada Cinta dan mendekati Dimas yang kini sedang duduk di lantai berdua dengan Kezia.
Deg!
Deg!
Dimas terkejut. Ia melupakan hal itu. Kezia menatap dalam pada calon suaminya. Rayyan mencoba tersenyum walau sebenarnya ia pun ingin menangis melihat istri dan adik sekaligus sahabat untuknya ini kembali rapuh seperti dulu saat ia sakit.
Mata Dimas kembali berkaca-kaca. Ia terisak lagi.
__ADS_1
Grep.
Rayyan memeluk erat tubuh Dimas yang kini berguncang hebat. "Maafkan aku Bang.. Aku salah.. Aku khilaf.. Aku salah.. Maaf..." lirih Dimas di dalam pelukan Rayyan
Kezia tersedu. Cinta turun dan mendekati keduanya. Dengan segera ia memeluk dua lelaki yang masih ada di hatinya hingga saat ini. Cinta menagins tersedu.
Sementara Rayyan memejamkan kedua matanya untuk mengurangi rasa sesak di dadanya yang tiba-tiba hadir kembali.
Tetapi tidak bisa. Buliran bening itu tetap mengalir di pipi halusnya dan jatuh membasahi kepala Dimas yang terbuka.
Rayyan mendongakkan kepalanya. Ia mencoba untuk tenang agar bisa berbicara kepada mereka bertiga.
Karena diantara mereka bertiga Rayyan lah yang paling tua. Walau Dimas pun sama, tetapi saat ini adiknya itu sedang terluka kembali karena mengingat masa lalu yang membuatnya terpuruk hingga dua tahun lamanya.
Sama seperti Rayyan dulunya.
"Jika kamu masih menginngat ucapan mu itu, maka inilah waktunya. Zahra telah kembali untukku dan untukmu. Bicaralah padanya apa yang ingin kamu sampaikan. Abang tetap disini bersama mu.." lirih Rayyan dengan bibir bergetar.
"Kak..." panggil Cinta dengan wajah basah air mata
Dimas tidak sanggup melihatnya. Ia hanya bisa tersedu saat ini. Sekuat tenaga ia berusaha untuk berbicara kepada Cinta yang kini sedang memegang lengan nya.
__ADS_1
"Kak.. Hiks.. Tidakkah kamu ingin melihatku? Aku sudah kembali loh.. Kembali untuk memulai semua ini dari awal seperti yang kamu katakan dulu. Kita akan bahagia dengan pasangan masing-masing. Hem?" ucap Cinta masih dengn memegang lengan kekar Dimas yang kini semakin erat memeluk tubuh kekar Rayyan yang saat ini sedangmenangis.