
πΊπΊπΊ
"Mamaaaaa....." sebuah teriakan muncul dari arah pintu, membuat bu Lena dan Kinan pun mengalihkan pandangan kearah pintu, berbarengan dengan kemunculan seorang pemuda yang Kinan kenal , pemuda itu satu sekolah dengannya, walaupun beda angkatan.
"Astagaaaaaa, Alan! Kamu pikir cafe mama ini hutan atau bagaimana? Main teriak-teriak aja kayak anak monyet. Kalau pelanggan mama pada kabur gara-gara teriakan kamu itu bagaimana hah?! Mama sunat lagi mau kamu?!" omel bu Lena pada anak semata wayangnya yang tiada angin sepoi-sepoi tiada hujan badai, tiba-tiba saja datang berkunjung ke cafe nya.
"Ish..., mama ngomong apaan sih?! Kalau aku anak monkey, berarti mama ibu monkey donk !" sungut Alan manyun sambil nyelonong masuk.
"Eh..., lu temennya Shelby kan?" tanya Alan ketika mendapati Kinan yang sedang duduk manis di atas sofa.
Kinan hanya menjawab dengan cengiran dan anggukan kepala.
"Main angguk-angguk aja. Jangan-jangan kamu patung kucing piaraan mama yang ama mama mau ditaruh di depan cafe yah?" canda Alan membuat Kinan melotot sebal.
Bugh...
Bugh...
"Aduh mama apa-apaan sih, main gebug?! Alan anak mama bukan jemuran kasur!" seru Alan ketika tiba-tiba sang mama memukul bahunya dengan gulungan majalah yang tadi tergeletak di meja.
"Lagian asal banget kamu ngatain anak gadis orang. Kinan ini anaknya tante Kelly, teman mama!!" beritahu bu Lena kesal.
"Lha, lagian cantik-cantik di tanya cowok ganteng jawabnya malah cuma manggut-manggut aja." gerutu Alan.
"Cewek pemalu ya gini, gak banyak omong ama orang yang baru di kenal ,otong!!" omel bu Lena.
"Otong... otong... Kenapa gak sekalian aja mama manggil aku oyong?!" kesal Alan.
__ADS_1
Sungguh Alan tak habis pikir, kenapa mamahnya bisa dengan sadisnya menjatuhkan harga dirinya sebagai cowok ganteng di depan seorang cewek. Diomeli, di pukuli, dan bahkan di panggil dengan sebutan yang Alan sangat tidak suka. Runtuh sudah harga dirinya didepan Kinan.
"Kamu ini, suka ngelawan aja kalau mama nasihati" omel bu Lena, kembali mengeluarkan jurus tabokan mautnya.
Bugh...
Bugh...
"Stop ma! Ampuuuun...." seru Alan sembari berusaha menghindari pukulan sang mama.
Ketika Alan berlari kearah pintu, bertepatan dengan itu datang Zalfa membuka pintu, hingga terjadi adegan mirip seperti yang sering terjadi di film-film, dimana muka Alan beradu dengan kerasnya daun pintu yang terbuat dari kayu itu.
"Astaghfirulloh, maaf kak. Aku gak sengaja." Zalfa nampak ketakutan ketika melihat Alan nampak kesakitan sembari mengusap-usap jidat dan hidungnya.
Bu Lena dan Kinan yang menyaksikan adegan itu bukannya iba malah menertawakan penderitaan Alan.
"Maaf bu, saya tidak sengaja. Tadi saya sudah mengetuk pintu sebelum masuk kesini." ucap Zalfa takut-takut, melihat anak sang bos terlihat meringis menahan ngilu ketika bu Lena mengoles salep ke jidatnya.
"Makanya kalau kerja itu ha ti ha ti...." Alan yang hendak mengomeli orang yang membuatnya kejedot pintu itu langsung terbata ketika mengalihkan pandangannya ke arah depannya.
Dia baru menyadari, ternyata ada dua cewek cantik tengah memperhatikannya, Kinan dan seorang cewek berpakaian seragam pekerja di cafetaria milik ibunya.
Rasa sakit di wajahnya seketika menguap entah kemana. Alan merasa jiwanya melayang seperti kupu-kupu, yang sekelilingnya dipenuhi oleh beribu bunga yang indah.
"Tidak apa-apa Za. Alan aja nih yang suka sembrono." jawab bu Lena, dan dengan sengaja sedikit menekan memar di jidat Alan yang tengah ia olesi dengan salep.
"Awhh.... Astaga mama, sakit nih!" seru Alan sembari mengusap-usap jidatnya.
__ADS_1
"Sakit sampai mata mau keluar gitu ngeliat cewek cantik." omel bu Lena, dan kembali menekan memar di jidat Alan.
"Awhh... Mamah!! Aku ini sebenarnya anak yang udah mama lahirin dengan susah payah bukan sih? Kenapa sesudah aku lahir kedunia, mama malah bisa dengan tega nyakitin aku?!" omel Alan, lagi-lagi tak habis pikir dengan kelakuan ibunya.
"Siapa bilang kamu ada karena mama lahirin? Kamu itu ada karena hasil ujicoba papamu bikin stek batang pohon singkong tau?!" jawab bu Lena asal, membuat Alan bertambah kesal.
Didepan mereka, Zalfa dan Kinan nampak menahan senyum melihat ke absurd-an ibu dan anak itu.
"Za..., pesanan Kinan sudah siap semua??" tanya bu Lena setelah selesai mengoles salep di jidat sang anak.
"Sudah, bu. Semua sudah ada didepan. Tinggal menunggu kak Kinan, itu semua paket kue mau di masukkan kemana." jawab Zalfa sopan.
"Oh..., ya sudah tante. Saya pamit pulang." Kinan mengulurkan tangannya pada bu Lena untuk berpamitan.
"Lho..., kok buru-buru nak Kinan?? Kita belum sempat ngobrol loh." sesal bu Lena.
"Tidak apa-apa, tante. Mungkin lain kali kita bisa ngobrol bersama lagi. Dan lagi, saya mau mampir ketempat Shelby. Itu tadi kue macaron ada yang pesanan Shelby, tante. Saya diminta tolong untuk mengantarnya sekalian." ujar Kinan sopan.
"Ya sudah, tante... Saya pamit." lanjut Kinan sedikit membungkukkan badannya, sopan.
"Eh..., tunggu!! Lo mau ketempat Shelby?? Gue ikutan dong mau ketempat Tarra." seru Alan.
Kata-kata Alan berhasil membuat langkah Zalfa yang sudah hampir mencapai daun pintu secara reflek terhenti.
Deg!
πΊπΊπΊ
__ADS_1
Bersambung....