
Dengan bersusah-payah, Tarra berusaha melerai aksi tarik menarik rambut antara Shelby dan Maya yang serunya melebihi aksi lomba tarik tambang tujuh belasan tingkat RT di kompleknya yang diadakan setiap tahun di bulan Agustus untuk seru-seruan memperingati hari kemerdekaan itu.
"Hush... hush.... semuanya bubar-bubar!!!" seru Alan sambil mengibas-ngibaskan tangannya pada beberapa murid yang menonton aksi itu, gayanya persis seperti penjual ikan di pasar yang ikannya habis digondol sekawanan kucing pasar yang liar.
"Hhhhuuuuuu......." semua murid berseru kecewa karena keasyikan mereka melihat tontonan gratis harus berakhir begitu saja.
Satu persatu dari penonton gratisan itu pun melangkahkan kaki untuk membubarkan diri dari tempat yang dijadikan medan pertempuran antara Shelby dan Maya tadi.
Tarra tak mau mengambil resiko kalau sampai ada guru yang melihat keributan itu. Bisa-bisa mereka semua akan terkena hukuman. Lebih parah lagi kalau sampai nanti orang tua mereka dipanggil pihak sekolah. Sang papi pasti akan marah besar karena dirinya tak mampu menjaga sang adik.
"Kinan, tolong kamu ajak Shelby ke kelas yah..., sebentar lagi udah mau bell masuk." pinta Tarra akhirnya pada Kinan yang tengah memegang erat lengan Shelby.
"Iya kak...." jawab Kinan sembari menggandeng tangan Shelby.
Shelby berusaha mengatur kembali nafasnya yang tersengal, dadanya naik turun mencoba menahan emosi.
Kinan segera mengajak Shelby pergi dari tempat itu. Ketika baru beberapa langkah menjauh, Shelby menengok kan pandangannya kembali kearah Tarra dan Maya. Matanya nampak berkaca-kaca. Sungguh dirinya kecewa dengan sikap kakaknya yang lebih memilih bersama Maya daripada mengantarkan dirinya kembali ke kelas.
...💜💜💜...
"May...., kita perlu bicara" Tarra menghampiri Maya yang tengah melangkahkan kakinya ke area parkir sekolah setelah jam pelajaran usai.
"Sorry, gue udah ada acara." tolak Maya sembari menunjuk kearah dua temannya yang tengah berjalan berbarengan mendekat kearahnya.
"Ada hal penting yang mau aku omongin ama kamu. Please..., sebentar aja. Kita ngobrol di kafe X." bujuk Tarra.
"Mau ngomong apa? Kalau lu mau ngebahas masalah adik lu, sorry...., gue gak mau ngebuang waktu gue yang berharga hanya buat sekedar ngebahas adik lu yang resek itu." sewot Maya sesampainya mereka di kafe yang ditunjuk Tarra.
"Sebenernya kalian ada masalah apa? Kenapa tadi kalian harus saling berantem? Beruntung tidak ada guru yang melihat. Kalau sampai ada guru yang melihat, kita semua bisa kena hukuman lagi. Padahal baru tadi pagi juga aku melihat kamu kena hukum pak Ganjar." tanya Tarra, sembari menyeruput jus orange didepannya.
"Ini semua gara-gara adik lu itu tau nggak, hari ini gue sial." bentak Maya kesal, mengingat kembali kejadian tadi pagi di sekolah
"Pagi-pagi adik lu udah sengaja bikin ulah ama gue, hingga akhirnya gue kena hukum pak Ganjar. Benar-benar sial!!" sambungnya emosi.
"Atas nama Shelby, aku minta maaf. Mungkin Shelby tidak sengaja melakukan kesalahan. Tadi pagi kami memang berangkat agak kesiangan, jadi terburu-buru masuk kelas." Tarra mencoba menjelaskan.
"Sudahlah, kalau lu cuma mau ngebahas adik lu, gue mau cabut. Gue masih ada hal penting tau gak daripada sekedar ngobrolin hal gak penting kek gini." Maya hendak beranjak dari duduknya.
"Tunggu, May... Ada hal lain yang mau aku omongin sama kamu." Tarra meraih tangan Maya, berusaha mencegah kepergiannya.
"Ini tentang obrolan kita beberapa waktu lalu." lanjut Tarra, membuat Maya mengurungkan langkahnya.
"Lupakan. Anggap gue gak pernah ngomong apa-apa sama lu. Itu gak penting tau gak?" ujar Maya.
__ADS_1
"M-maksud kamu bagaimana? Bukannya kamu sendiri yang dulu bilang kalau...."
"Gue asal ngomong waktu itu. Lu itu bego apa gimana sih??"
"Tap-tapi......."
~Flashback on~
Apakah yang akan kamu lakukan jika seorang murid cewek terpopuler di sekolah tiba-tiba datang menghampiri untuk menyatakan cinta kepadamu?
Yang pasti kamu tidak akan bisa menggambarkan perasaan apa yang ada di hatimu saat itu.
Kaget, tak percaya, gugup, salah tingkah, bahkan mungkin kamu akan melakukan hal konyol tanpa bisa kamu kendalikan saat itu.
"Kamu tak perlu menjawabnya sekarang. Kita jalani aja begini dulu. Yang penting kamu sekarang tau hatiku seperti apa. Kalau nanti kamu sudah siap, kita bisa resmiin hubungan kita." ucap Maya tersenyum lembut.
Tarra tak tau harus berkata apa. Hatinya terlalu dipenuhi bunga-bunga.
Maya mendekatkan duduknya di samping Tarra. Diraihnya jemari Tarra dan direm@snya lembut.
"I Love You" sebuah kata keramat keluar dari mulut Maya disertai senyuman manis yang mungkin mengandung kadar alkohol cukup tinggi hingga amat memabukkan bagi siapapun yang memandangnya.
Begitupun Tarra, yang dibuat mabuk kepayang hanya dengan melihat senyum itu. Apalagi senyuman itu ditunjukkan untuknya seorang saat ini.
Sedikit risih, Tarra pun menggeser duduknya.
"K-kenapa tiba-tiba lu ngomong gitu May?" tanya Tarra ragu.
"Apakah harus ada alasan untuk kita mencintai seseorang?? Menurut ku, disaat cinta datang, cinta itu tak akan memandang apapun yang ada pada orang yang kita cintai. Tak peduli orang itu jelek, bodoh, miskin atau apapun itu...."
"Jadi menurut lu, gue itu jelek, bodoh, mis...."
"Sssttt..... Bukan itu maksud aku, Tarra." Maya menempelkan jari telunjuknya ke bibir Tarra, memotong kata-kata yang hendak keluar dari bibir Tarra, membuat hati Tarra makin kebat-kebit.
"Kamu itu keren, juara kelas, dan juga kamu itu berasal dari keluarga seorang Atmaja. Mana ada kamusnya kalau kamu itu jelek, bodoh, apalagi miskin?!" jelas Maya.
"T-tapi gue... sebenernya gue ..."
"Udah..., kamu gak usah jawab sekarang juga gak apa. Nanti kalau kamu udah siap, kamu bisa jawab dan kita resmikan hubungan kita" potong Maya cepat membuat Tarra tak bisa berkata apa-apa.
~Flashback off~
Tarra masih mencoba mencerna semua kata yang keluar dari mulut Maya. Sungguh, dirinya tak menduga Maya akan berkata seperti itu.
__ADS_1
"Lu tau, gue ngedeketin lu itu cuma sebatas untuk mencari keuntungan buat diri gue sendiri. Jadi lu gak usah gede kepala." ucapan Maya benar-benar membuat hati Tarra serasa dicubit kepiting. Sakit.
Benar, selama ini Maya mendekati Tarra karena ada maunya. Jika ada soal pelajaran yang Maya tidak bisa, pasti Maya langsung menghampiri Tarra agar Tarra mau membantu mengerjakannya, meskipun mereka beda kelas.
Jikalau hendak hangout bareng temen-temennya, terkadang Maya akan meminta uang pada Tarra. Yang pada akhirnya, Tarra akan bersedia mengorbankan sebagian isi dompetnya berpindah ke kantong Maya, selama hal itu bisa membuat Maya tersenyum senang.
'Bodoh' batin Tarra, merutuki kebodohannya selama ini.
Padahal Shelby dan Alan sering mengingatkan agar dia berhati-hati dengan Maya. Tapi, kata-kata manis yang keluar dari mulut Maya benar-benar telah menghipnotisnya.
"Gue tau, kalau lu itu cuma anak tiri keluarga Atmaja. Harusnya lu itu sadar diri, lu itu cuma anak haram yang dipungut oleh keluarga kaya. Mami kamu hebat, bisa mendapatkan orang kaya untuk dijadikan tameng agar kalian bisa hidup dengan sangat layak dan dihormati banyak orang."
Tarra mengepalkan tangannya kuat-kuat, hingga otot di punggung tangannya terlihat. Sungguh, kata-kata Maya benar-benar keterlaluan. Kalau hanya dia sendiri yang di hina mungkin tak apa. Tapi, ketika sang Mami di bawa-bawa, Tarra tak bisa terima.
"Cukup, May... Lu gak punya hak sedikitpun buat ngehakimi Mami gue. Ucapan yang keluar dari mulut lu hari ini, cukup membuktikan gimana buruknya sebenarnya hidup lu. Thanks buat selama ini!" Tarra segera berlalu dari hadapan Maya tanpa menoleh lagi.
Ingin sekali Tarra menghadiahi bogem mentah pada orang yang berani menghina ibunya. Tapi, mengingat Maya adalah seorang perempuan, akhirnya dia mengurungkan niatnya.
Lebih baik dia segera pergi, sebelum dia lepas kendali dan berakhir dengan tidak bisa mengontrol emosinya.
Niat hati ingin meresmikan hubungan cintanya dengan Maya, malah dia diberi kejutan tak terduga semacam ini. Beruntung kata cinta belum keluar dari mulutnya, kalau sampai itu terjadi mungkin dia harus menampol mulutnya sendiri berkali-kali.
"Dasar pengecut!" sinis Maya melihat kepergian Tarra.
"Maaf, mbak ini pesanannya belum di bayar." seorang pelayan datang membawa nampan berisi makanan menginterupsi ketika Maya hendak beranjak dari duduknya.
"Cancel saja mbak. Tuh orang yang pesan udah pergi." tolak Maya.
"Maaf, mbak. Pesanan yang sudah siap tidak bisa di cancel. Kalau mbak tidak mau bayar, mbak bisa berurusan dengan bos kami." sahut sang pelayan memberi tahu.
"Sial!! Kakak dan adik sama saja bikin sial!" umpat Maya kesal sembari mengeluarkan lembaran merah bergambar tokoh proklamator Indonesia dari dalam dompetnya.
Bersambung....
💜
💜
💜
Matre sih lu jadi cewek, kejem.....
Terima aja noh nasib sial lu... 🤣🤣🤣🤣🤣
__ADS_1