
"Lu beneran mau jadian ama Kemal?? Secara Tarra yang kerennya jauh melebihi Kemal aja lu buang?" tanya Ambar, salah satu sahabat Maya ketika mereka tengah asyik nongkrong disebuah cafetaria yang menjual aneka kue selesai mereka mengitari sebuah mall sepulang mereka dari sekolah.
"Iya May. Selain keren, Tarra juga pintar dalam hal pelajaran. Lu gak bakal rugi kalau pacaran ama dia" timpal Fia.
"Lu berdua gak usah sok munafik gitu. Biarpun Tarra keren, kalau akhirnya dia bakal miskin siapa juga yang mau? Cuma cewek beg* yang mau jalan ama cowok miskin." jawab Maya sinis.
"Orang pintar belum tentu masa depannya akan sukses. Banyak kan, orang pintar yang jadi pengangguran, sulit mencari pekerjaan. Dan banyak pula orang yang tampang dan isi otaknya pas-pasan tapi bernasib mujur." lanjut Maya sembari menyedot orange jus didepannya dengan sedotan.
"Ya elah May..., kita masih sekolah kali. Cuma butuh asyik-asyikan aja. Masa depan dipikirin nanti kalau sudah waktunya. Lagian Tarra juga gak miskin-miskin amat kali. Selama lu ngasih harepan ke dia juga, dia gak pelit kalau lu minta duit, iya kan?? Lu rugi apa? Gak ada deh kayaknya." ujar Ambar tak setuju dengan pendapat Maya.
"Betul..., lagian juga lu jadi bisa manfaatin kecerdasannya dalam hal pelajaran. Sudah untung plus-plus lah itu namanya" lagi-lagi Fia membenarkan omongan Ambar.
"Lo berdua berisik!!" kesal Maya, dan ketika bangun dari duduknya tiba-tiba tanpa sengaja bahunya menyenggol seorang pelayan yang tengah berjalan lewat di sisinya dengan membawa nampan berisi piring kosong bekas makan pelanggan yang hendak dia bawa kebelakang.
Praaangg!!
Seketika nampan beserta isinya pun jatuh kelantai dan pecah semua. Beruntung didalam nampan hanya berisi piring kosong.
"Woy... pelayan beg0!! Kalau jalan lihat-lihat dong!!" kesal Maya.
"Ma-maaf kak saya tidak sengaja." jawab sang pelayan itu panik dan segera memunguti serpihan piring yang pecah di lantai.
"Gak sengaja! Bahu gue sakit tau?! Kalau jalan itu lihat-lihat. Kerja yang benar!" bentak Maya, dan seketika mengundang atensi sebagian pengunjung cafetaria melihat ke arah mereka.
Kegaduhan kecil pun terjadi dengan Maya yang terus mengomel ke pelayan tadi yang ternyata adalah Zalfa.
Seorang teman Zalfa sesama pelayan cafetaria itu langsung datang membawa sapu, membantu Zalfa membersihkan kekacauan itu agar tidak menggangu pengunjung lain.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" seorang wanita paruh baya pemilik cafetaria datang menginterupsi.
"Gue mau ketemu pemilik tempat ini. Gue mau mengajukan protes atas pelayanan mengecewakan yang ada di sini!" angkuh Maya.
__ADS_1
"Saya Lena, owner disini. Maaf kalau pelayan kami sedikit membuat keributan." ujar bu Lena pelan dan sopan.
"Anda sebagai owner seharusnya selektif dalam mempekerjakan orang. Bagaimana pengunjung terkesan dengan tempat ini kalau pelayanan disini saja minus begini, merugikan pengunjung!" omel Maya.
"Sekali lagi maaf kalau pelayanan kami memang kurang memuaskan. Sebagai kompensasi atas kerugian yang mbak alami, bagaimana kalau menu yang tadi mbak konsumsi kami gratiskan. Tidak usah dibayar." saran bu Lena tetap berusaha sopan.
Zalfa yang merasa bersalah hanya menundukkan kepalanya, tak sanggup mengeluarkan kata untuk sekedar membela diri.
"Memang harusnya seperti itu. Lagian siapa juga yang mau membayar pelayanan buruk ini." ketus Maya dan dengan kasar segera beranjak dari tempat itu diikuti kedua temannya.
"Minggir lu, dasar pelayan gak becus!!!" omel Maya ketika melewati Zalfa dan dengan kasar menyenggolkan pundaknya ke pundak Zalfa, hingga Zalfa sedikit terhuyung ke belakang.
Melihat kelakuan Maya yang tidak memiliki sopan santun, bahkan ke orang yang lebih tua darinya sekalipun, membuat bu Lena hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Anak jaman sekarang, sama sekali tidak bisa bersikap sopan." ujar bu Lena terus memandangi kepergian Maya and the gank hingga mereka hilang di balik pintu keluar.
"Maafkan saya, Bu. Tadi saya benar-benar tidak sengaja. Bu Lena bisa memotong gaji saya untuk menutup kerugian karena kejadian ini." ucap Zalfa takut-takut sembari terus menundukkan kepalanya.
"Lalu bagaimana dengan kerugian tadi, bu Lena? Saya tidak ada uang untuk mengganti." Zalfa masih tak tau harus bersikap bagaimana.
"Makanya lain kali kamu harus lebih berhati-hati, oke? Kejadian seperti tadi jangan di ulangi lagi." nasihat bu Lena.
Sang owner memang dikenal dengan sikap baiknya oleh para pekerja cafetaria tersebut. Namun jika sang pekerja benar-benar melakukan kesalahan fatal, tak ada lagi toleransi yang bakal didapat, namun pemecatan tanpa pesangon sepeserpun yang akan mereka terima
"Baik, bu Lena.., terima kasih banyak" jawab Zalfa senang, dan dia harus memanfaatkan kesempatan yang diberikan bos-nya itu dengan sebaik mungkin.
"Ya sudah, kamu layani itu ada pembeli yang baru datang." ujar bu Lena seraya menunjuk seorang gadis yang tengah berdiri di depan etalase berisi deretan kue.
"Siap , bu Lena!" dan Zalfa pun segera berlalu menghampiri pelanggan yang baru datang.
Selesai pelanggan itu mendapatkan pelayanan, lonceng di atas pintu masuk berdentang, tanda ada pelanggan baru yang masuk.
__ADS_1
"Selamat datang di Sweet Cake and Bakery , ada yang bisa saya bantu?" sapa Zalfa ramah pada seorang gadis yang melangkah masuk.
"Maaf kak, bisa bertemu tante Lena? Saya Kinan anaknya Bu Kelly. Tadi mama saya sudah order beberapa cake ke tante Lena. Sekarang saya datang untuk mengambil pesanan mamah saya." ucap gadis itu ramah, yang ternyata adalah Kinan teman Shelby.
"Mari kak, saya antar ke ruangan Bu Lena. Sekarang beliau ada di ruangannya." ujar Zalfa tersenyum ramah dan segera mempersilahkan Kinan untuk mengikuti langkahnya ke ruangan bos-nya.
"Eh..., nak Kinan mau mengambil orderan yah??" sapa bu Lena begitu Kinan masuk ke ruangannya setelah Zalfa mempersilahkan masuk.
"Iya, tante. Maaf mengganggu waktu tante .." jawab Kinan seraya menyalami bu Lena.
"Enggak. Siapa bilang mengganggu? Sama sekali tidak" ujar bu Lena sumringah.
"Zalfa, tolong kamu bilang ke orang di dapur, suruh pesanan yang tadi saya bilang suruh segera di selesaikan yah? Dan kalau sudah selesai, segera kamu bawa kesini."
"Baik bu.." Zalfa pun segera berlalu dari ruangan bu Lena.
"Maaf, nak Kinan. Kamu tunggu sebentar yah, sebentar lagi pesanan mama kamu beres kok. Sekarang kita duduk dulu disini, sambil menunggu. Kamu mau minum apa?" bu Lena segera mengajak Kinan duduk di sofa dan menawarkan minuman.
"Tidak usah repot-repot, tante..." jawab Kinan langsung, tak enak hati.
"Tidak apa-apa, kan sambil menunggu. Tante buatkan le-mon tea yah?? tawar bu Lena.
"Mamaaaaa........" sebuah teriakan muncul dari arah pintu, membuat bu Lena dan Kinan pun mengalihkan pandangan ke arah pintu, berbarengan dengan kemunculan seorang pemuda yang Kinan kenal pemuda itu satu sekolah dengannya, walaupun beda angkatan.
🧁
🍰
🥧
Bersambung....
__ADS_1