Jangan Katakan Cinta (Buktikan Saja)

Jangan Katakan Cinta (Buktikan Saja)
part GaJe


__ADS_3

Dengan tergesa, Tarra dan Alan segera berlalu dari hadapan pak Ganjar, sebelum sang guru yang terkenal killer itu memberikan tanda cintanya pada mereka dengan jalan memberikan hukuman.


"Gila itu guru satu, auranya nyeremin gak bisa dibantah." gerutu Alan.


"Hilih..., aura lu kalau lagi ngegombalin cewek lebih nyeremin tau?! Bikin cewek yang lu gombalin langsung merinding horror. Hahaha...." ledek Tarra.


"Namanya juga usaha kali, bro?! Kalau ada cewek yang nyantol kan syukur buat ngilangin status jomblo akut yang udah berapa tahun melekat di KTP gue!" ujar Alan konyol.


"Pe-ak, emang di KTP ada kolom status pacaran??"


"Lha itu, KTP kan Kartu Tanda Pacaran. Hahaha..."


"Hhuuu... Dasar dodol!!" omel Tarra mendengar ujaran konyol sang teman, sembari meninju pelan bahu Alan.


" Hahaha... Udah ah, sana lu cepet temuin pak Budi sebelum kena gantung ntar lu di pohon keladi favoritnya. Semoga beruntung, bro! Hahaha..." ujar Alan sesampainya mereka didepan ruang guru, dan dengan segera memasuki ruangan itu untuk segera menyelesaikan misi mulianya membantu guru sebelum dirinya sendiri juga kena gantung oleh bu Lilis sang guru jomblo.


"Permisi, Pak. Bapak ada perlu dengan saya?" tanya Tarra sopan setelah berhadapan dengan kepala sekolah yang tengah serius mengerjakan sesuatu di mejanya.


"Oh, iya Tarra. Bapak mau minta tolong sama kamu, tolong kamu antarkan map ini ke SMA Nusa Bangsa yah sekarang." jawab sang kepala sekolah sembari memberikan sebuah map berwarna biru tua kepada Tarra.


Tarra menerima map itu dan segera membukanya untuk segera mengetahui apa isi dari map itu. Mungkin saja di dalamnya ada sebuah bom yang akan menjadikannya target bom bunuh diri saat dia membawanya nanti.


Tapi setelah dilihat, diraba, dan diterawang ( udah kek duit kertas baru aja yah 😂), di dalamnya hanya berisi lembaran kertas bertuliskan persetujuan diadakannya pertandingan olahraga persahabatan antar sekolah antara SMA Merah Putih dan SMA Nusa Bangsa yang sudah ditandatangani oleh sang kepala sekolah.


"Hehehe..., maaf Pak bukan saya mau sok pintar, tapi ini kan kita ada di era digital loh pak, bukan lagi hidup di jaman batu, kenapa untuk hal seperti ini kita harus susah payah langsung mengantarkan ke tempat tujuan? Kan gampang saja tinggal kirim via email sekolah, Pak." ujar Tarra mencoba bernegosiasi.


"Apakah kamu merasa kalau kamu itu lebih banyak tau segala hal dari saya?" tanya pak Budi datar.


'Selalu seperti ini pak botak yang sensitif.' batin Tarra.


"Maaf, pak. Bukan maksud saya seperti itu." ucap Tarra akhirnya.


"Tapi, hari ini saya tidak membawa kendaraan sendiri, Pak." lanjut Tarra akhirnya begitu mengingat kalau hari ini dia tak membawa mobil, dan itu bisa dia jadikan alasan untuk menolak keinginan sang kepala sekolah tersebut.


"Bagus. Kamu bisa pergi dengan sopir saya." jawab sang kepala sekolah sembari kembali menekuni lembaran kertas di mejanya.


"Kalau seperti itu, kenapa bukan sopir bapak saja yang mengantar, atau mungkin pegawai di sekolah ini kan juga ada. Atau bisa juga menggunakan jasa pengantaran online, kan ada banyak Pak." usul Tarra.

__ADS_1


"Kamu tidak mau bapak mintai tolong?" tanya pak kepala sekolah menghentikan aktivitasnya dan mengalihkan pandangannya pada Tarra.


Tarra merasa gemas sendiri, ingin rasanya dia menggaruk kepala botak sang kepala sekolah menggunakan garpu tala dan membabat habis kumis lebat yang nangkring dibawah hidungnya.


'Astaga..., apakah kegiatan seperti ini kepala sekolah yang mengurusi? Tidak adakah pekerjaan yang lebih penting untuk di urusnya?' batin Tarra.


'Percuma saja mendebat kepala sekolah aneh modelan pak botak ini. Mending di iyakan saja sebelum gue mendapat masalah.' batin Tarra lagi sembari menghela napas pelan.


"Baik, pak. Akan saya antar ke sekolah Nusa Bangsa. Saya akan cari ojek saja pak, biar tidak terjebak macet." jawab Tarra akhirnya mengiyakan perintah sang petinggi sekolah.


Tarra segera berlalu dari ruang kepala sekolah, tak mau berurusan lebih lama lagi dengan kepala sekolah berkepala botak itu.


Keluar dari gerbang sekolah, Tarra celingukan mencari tukang ojek yang biasa nongkrong di pangkalan dekat sekolahnya itu.


Nampak satu motor nangkring di pangkalan ojek itu, dengan seorang perempuan berjilbab hijau tosca sedang mengotak-atik hp-nya sembari duduk didekat motor itu.


Tarra segera menghampiri perempuan itu, yang nampaknya tak terganggu dengan kehadirannya. Perempuan itu nampak asyik mencet-mencet telepon pintarnya. Dari tempat Tarra berdiri, Tarra bisa mendengar sesekali terdengar bunyi teeet... tiiit... nguik-nguik...


Mungkin perempuan itu tengah bermain game di handphone nya. Entah itu game apaan, hingga terdengar bunyi nguik-nguik segala.


Perempuan itu mendongak, mengalihkan perhatiannya dari game nguik-nguiknya.


"Ada apa, mas? Ojek?" tanya perempuan itu segera mematikan handphone nya dan memasukannya kedalam saku jaketnya.


"Iya, mpok saya mau ngojek. Tukang ojeknya mana mpok?" tanya Tarra sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling area pangkalan, kali aja nemuin sosok tukang ojek.


"Mas mau bolos yah? Hadheuuuuhh...., anak jaman sekarang gak tau rasa bersyukur. Sudah susah-susah orang tua nyari duit buat nyekolahin anaknya, eh si anak malah main bolos-bolos aja sekolahnya. Mau jadi apa negeri ini coba, kalau semua anak sekolah seperti kamu? Tugas kamu sebagai pelajar itu belajar, biar pinter, bukan malah keluyuran gak jelas disaat jam sekolah. Kasihan mas, emak ama bapak capek-capek kerja nyari duit buat biaya sekolah malah anaknya enak-enakan main gak jelas." sang perempuan itu malah nyerocos kek petasan, membuat Tarra menghela nafas berat.


"Saya perlu ojek mpok, buat ngelaksanain tugas dari kepala sekolah, bukannya mau ngedengerin ceramah dari mpok. Hadheuuuuhh.... " ujar Tarra geram.


"Dih, alasan. Bilang aja mau ngelayab, pake segala bohong bilang disuruh kepala sekolah." sinis sang perempuan.


"Ngelayab apaan sih mpok, ini saya beneran disuruh kepala sekolah buat nganter berkas ke sekolah Nusa Bangsa. Astaga..." jelas Tarra sembari mengangkat map ditangannya.


"Eh, jadi benar mas bukan mau bolos?" tanya sang perempuan merasa kecele.


"Pusing ngomong sama mpok. Udah, mana ini tukang ojeknya? Saya ini sedang buru-buru." kesal Tarra.

__ADS_1


"Lha, saya sendiri tukang ojeknya." jawab si mpok sembari menunjuk batang hidungnya sendiri.


"Astagaaaaaa..., ya udah mpok cepat antar saya ke sekolah Nusa Bangsa. Sudah di tunggu ini berkasnya." ujar Tarra cepat.


"Hehehe..., maaf mas, saya hanya menerima penumpang perempuan. Tidak menerima penumpang laki-laki. Maaf." jawab si mpok nyengir.


"Oh my God..., terus pada kemana ini tukang ojek laki-lakinya? Saya benar-benar buru-buru ini." kesal Tarra.


"Baru saja pada pergi, mas. Nganter penumpang." jawab si mpok.


"Ya udah, mpok aja anterin saya. Kalau telat pergi nanti saya bisa dihukum kepala sekolah." pinta Tarra.


"Tapi saya nggak menerima penumpang laki-laki, mas. Suami saya cemburuan, nanti saya diomelin, disangkanya nanti saya selingkuh." tolak si mpok.


"Astaga, mpok. Saya masih anak sekolah, gak doyan dengan isteri orang. Biarpun mpok cantiknya kayak Lasmi Kamora si penyanyi dangdut yang lagi tranding kena KDRT, saya gak tertarik." geram Tarra.


"Gak ah, mas..." tolak si mpok ojek keukeuh.


"Saya bayar dua kali lipat." usul Tarra.


"Maaf, tetep gak bisa mas." si mpok ojek masih menolak.


"Oke tiga kali lipat. Tidak mau, saya mau order ojek online saja." final Tarra sembari merogoh handphone di saku celananya.


"Siap, mas. Ayo naik." jawab si mpok ojek cepat udah nangkring di jok motor lengkap dengan helm yang udah nemplok di kepalanya sembari tangan kirinya menyodorkan helm penumpang ke Tarra.


Tarra melongo, ternyata kekuatan uang bisa mengubah prinsip orang begitu cepat.


"Mas duduknya jangan mepet-mepet, kita bukan mahram." ujar si mpok ojek, ketika Tarra duduk dibelakangnya.


'Ya Tuhan..., kenapa sedari tadi nasibku sial terus? Berilah makhluk-Mu yang tampan ini keberuntungan Ya Tuhan...' batin Tarra meringis.


🍃


🍃


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2