
"Pi... " perlahan Diana menggoyangkan lengan sang suami yang tengah tertidur namun nampak tak nyaman.
Keringat nampak bercucuran di dahi sang suami, keningnya nampak sering berkerut, kegelisahan jelas nampak terlihat dari gerak tubuh sang suami.
"Papi... bangun Pi.... " Diana terus berusaha membangunkan sang suami dengan terus menggoyangkan lengan suaminya itu.
Hosh... Hosh...
Arman terbangun dengan nafas memburu, seperti sudah berlari puluhan kilometer. Dengan sigap, Diana mengambil segelas air putih yang ada di atas nakas.
"Minum dulu Pi... " ujar Diana sembari mendekatkan ujung gelas itu ke dekat bibir sang suami.
Glukh... Glukh... Glukh...
Dengan perlahan Arman meminum air putih yang disodorkan sang istri hingga tersisa separuh gelas.
"Papi mimpi buruk? " tanya Diana sembari memperhatikan wajah sang suami yang berangsur tenang.
Arman memindai wajah sang isteri, dan didetik berikutnya langsung membawa tubuh isterinya itu kedalam pelukannya.
"Papi kenapa?" tanya Diana yang bingung dengan sikap sang suami.
"Papi minta maaf sama Mami. Seandainya dulu Papi selalu bertahan dan tak meninggalkan Mami, pasti Mami tidak akan mengalami hal menyakitkan bersama si brengsek Dion itu. Harusnya dulu Papi bersabar dan mempertahankan Mami sekuat tenaga Papi. Maafkan Papi ... " Arman tergugu dalam dekapan Diana.
Sungguh Arman menyesal karena dulu sempat melepaskan kekasihnya itu untuk merelakannya bersama dengan Dion.
"Hei... itu sudah menjadi masa lalu kita bersama. Tidak usah disesali lagi. Yang terpenting adalah sekarang kita sudah bersama dan mari kita sama-sama berusaha untuk selalu bahagia dengan berbagi kasih sayang dengan anak-anak kita." ujar Diana melepas pelukannya dan menatap dalam bola mata suaminya yang tidak tau mengapa tiba-tiba saja menjadi mellow setelah bangun dari tidur.
"I love you ..." ucap Arman membalas tatapan sang isteri.
"Mami lebih cinta sama papi... " jawab Diana tersenyum dengan tak memutus tatapannya pada mata sang suami.
"Tanpa papi ucapkan sampai ribuan kali pun, mami tau kalau papi sangat mencintai mami." lanjutnya sembari menangkupkan kedua tangannya dikedua pipi suaminya.
"Sok tau... " Arman tersenyum.
__ADS_1
"Mami memang tau... Setelah semua hal yang sudah kita lalui bersama, setelah apa yang sudah semua papi lakukan selama ini untuk mami, itu adalah bukti cinta papi sama mami tanpa harus papi banyak omong mengaku tentang cinta." Diana membalas senyum sang suami.
Arman menarik kembali tubuh sang isteri kedalam pelukannya. Sungguh dirinya tak akan bisa jika harus kehilangan Diana untuk yang kedua kali.
"Papi... Mami... " tiba-tiba saja Shelby menerobos masuk kedalam kamar, mengagetkan mereka.
"Kalian tidak keluar sara-pan... " Shelby terbata ketika mendapati kedua orang tuanya di atas ranjang mereka.
"Hehehe.... ma af... " dengan tersenyum canggung Shelby melangkah mundur perlahan, dan setelah berhasil keluar dari kamar orang tuanya dan menutup rapat kembali pintu kamar itu, Shelby nampak terdiam sembari menghembuskan nafas pelan.
"Yee.... disuruh manggil papi sama papi sarapan malah bengong. " ucap Tarra tiba-tiba sembari menepuk bahu Shelby membuat Shelby melonjak kaget.
"Ish... kakak bikin aku kaget aja." omel Shelby.
"Lha, lagian disuruh manggil mami sama papi buat sarapan kamu malah bengong didepan pintu. Diketok dong pintunya biar mami sama papi keluar. " ujar Tarra dengan tangan terangkat hendak mengetuk pintu kamar orang tuanya.
"Ish.. kakak... jangan diketuk!" Shelby segera menahan tangan sang kakak.
"Kalau gak diketuk gimana kita bangunin mampir sama papi wahai adikku yang manis macam gulali pasar malam!! " Tarra nampak geregetan dengan sang adik.
"Bikin adik? Maksudnya? " tanya Tarra tak mengerti.
"Tadi Eby masuk ke kamar mami sama papi. Terus Eby liat mami sama papi duduk di atas tempat tidur sedang... itu... " jawab Shelby ragu sembari mempertemukan ujung kedua jari telunjuknya didepan dada sebagai isyarat.
"Apaan? Kamu masuk kamar mami sama papi gak pake ketuk pintu dulu? " tanya Tarra tak percaya.
"Iihh..., Eby tadi udah ketuk-ketuk, tapi mami sama papi gak keluar-keluar, jadi ya... Eby masuk... " jawab Shelby nyengir.
"Heran, punya adik udah umur enam belas tahun tapi kelakuan masih kayak bocah umur tiga tahun. Gak sopan itu namanya dek, masuk ruang privasi orang tua tanpa ijin. " ujar Tarra geleng-geleng kepala, tak habis fikir dengan kelakuan adik semata wayangnya yang sering berperilaku ajaib.
"Sebentar lagi Eby juga bakal jadi seorang kakak, jadi jangan panggil Eby 'adek' lagi. " ujar Eby sedikit menyombongkan diri.
"Ini kenapa kalian pada ngerumpi di depan kamar mami pagi-pagi? " tiba-tiba sang mami muncul dari balik pintu kamarnya, menginterupsi pembicaraan kedua anaknya.
"Ini Mi..., tadi Eby bilang katanya sebentar lagi Eby mau jadi kakak. " jawab Tarra menunjuk kearah Shelby.
__ADS_1
"Jadi kakak? Maksudnya? " tanya Diana bingung.
"Itu..., tadi mami sama papi kan... itu.... " jawab Shelby sembari kembali mengisyaratkan dengan mempertemukan ujung kedua jari telunjuknya didepan dada.
"Hush..., anak kecil ngomong apaan sih? Orang mami sama papi gak ngapa-ngapain kok. Dan lagi kamu, Eby..., gak boleh loh masuk ruang privasi orang lain tanpa ijin. " ujar Diana menasihati anak gadisnya.
"Iya..., maafin Eby, Mi... " jawab Shelby sembari menundukkan kepalanya.
"Udah, gak apa-apa. Yang penting jangan diulangi. Jangan jadi kebiasaan. Oke?! Ayo..., kita sarapan. Kasihan tuh nasi goreng spesial buatan mak Ipah udah nungguin dari tadi. " ajak Diana sembari menarik lengan Shelby, membawanya menuju ruang makan diikuti Tarra.
"Lha... gak nungguin papi? " tanya Shelby sembari menengok kearah pintu kamar orang tuanya dan dia belum melihat sang papi keluar dari peraduannya.
"Papi sedang bebersih dulu, sebentar lagi juga datang." jawab Diana sembari menuangkan air putih kedalam masing-masing gelas anggota keluarganya yang ada di meja makan.
"Eby, Mami boleh minta tolong nanti kamu ke toko kue tante Lena yah. Tolong ambilin kue pesanan Mami buat Mami bawa nanti ke tempat bu RT."
"Dih... apaan? Sejak kapan Mami akrab sama bu RT? " tanya Shelby heran.
"Apa sih, nak? Itu mak Ipah tadi bilang ke Mami, katanya bu RT kemarin abis dirawat dirumah sakit beberapa hari. Kemarin baru pulang, dan Mami mau jenguk." jelas Diana.
"Sakit apa, Mi bu RT?" tanya Shelby kepo.
"Itu neng, ibu-ibu yang bergosip di tukang sayur tadi pagi bilang katanya bu RT abis kena musibah, pas lagi bersihin akuarium kesayangannya dirumah, gak sengaja tangan bu RT kena **** ikan-ikan piranha peliharaannya. Lumayan parah katanya, sampe harus dilarikan kerumah sakit." mak Ipah yang datang membawa segelas susu cokelat kesukaan Shelby yang menjawab.
"Ada-ada aja bu RT. Dikira rumahnya kali amazon, ampe melihara ikan piranha. Biasa juga miara ikan guppy." celoteh Shelby.
"Ini ngapa malah ghibah-in bu RT sih?" protes Tarra.
"Hari libur, sekali-kali mami minta tolong sama anak mami... " Diana nampak melirik Shelby yang tengah nyemilin telor ceplok di piringnya.
"Kak Tarra aja, Mi... Abis ini Eby ada janji ama Kinan." jawab Shelby tau sang Mami melirik ke arahnya.
"Iya... Sepertinya anak Mami cuma Tarra aja deh... " jawab Diana, membuat Shelby memanyunkan bibirnya.
"Ekhemmm... " terdengar suara Arman berdehem sembari melangkah mendekati meja makan, membuat semua menghentikan obrolan mereka untuk memulai sarapan bersama.
__ADS_1
Bersambung.....